MODEL PEMBELAJARAN PENGAYAAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua siswa memiliki kesempatan yang
sama dalam proses pembelajaran. Namun begitu, hasil pembelajaran antara siswa
satu dan siswa lainnya seringkali berbeda. Di satu sisi, ada siswa kurang cepat
menguasai suatu materi, sementara di sisi lain ada juga siswa yang dapat
menguasai kompetensi yang diharapkan dengan cepat dan bahkan melampauinya. Oleh
karena itu, guru mesti memperlakukan siswa sesuai dengan kemampuan
masing-masing. Keberhasilan suatu pembelajaran dapat dipengaruhi oleh
pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru. Jika pendekatan
pembelajarannya menarik dan terpusat pada siswa, maka motivasi dan perhatian
siswa akan terbangkitkan sehingga akan terjadi interaksi siswa dengan siswa dan
siswa dengan guru sehingga kualitas pembelajaran akan meningkat.
Dalam hal ini, kita kemudian mengenal
program remidial dan pengayaan. Remidial diberikan kepada siswa yang belum
memenuhi kompetensi dasar yang diharapkan. Sementara pembelajaran pengayaan
diberikan bagi siswa yang sudah menguasai standar kompetensi. Program remidial
dan pengayaan ini bisa diterapkan dalam semua mata pelajaran, termasuk dalam
mata pelajaran sains, yang meliputi kimia, biologi, fisika. Terdapat beberapa
jenis program pembelajaran pengayaan, yang semua itu memiliki tujuan yang sama,
yakni dalam rangka memperluas wawasan dan pengalaman peserta didik.
Dalam rangka membantu peserta didik
mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses
pembelajaran perlu diusahakan agar interaksi, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk
mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut tidak jarang pula
dijumpai peserta didik yang memerlukan tantangan berlebih untuk mengoptimalkan
perkembangan prakarsa, kreatifitas, partisipasi, kemandirian, minat, bakat,
keterampilan fisik, dan sebagainya. Untuk mengantisipasi potensi lebih yang
dimiliki peserta didik tersebut, setiap satuan pendidikan perlu
menyelenggarakan program pembelajaran pengayaan.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui pengertian dan konsep pengayaan.
2. Untuk
mengetahui pentingnya program pengayaan.
3. Untuk
mengetahui tujuan program pengayaan.
4. Untuk
mengetahui fungsi program pengayaan.
5. Untuk
mengetahui jenis-jenis program pengayaan.
6. Untuk
mengetahui model-model program
pengayaan.
7. Untuk
mengetahui prinsip-prinsip program pengayaan.
8. Untuk
mengetahui keterkaitan KKM terhadap program pengayaan.
9. Untuk
mengetahui langkah-langkah pelaksanaan program pengayaan.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pengertian dan Konsep Pengayaan
Menurut Sumantri (2015: 437-439), dalam
kurikulum dirumuskan secara jelas Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar
(KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan KI dan KD setiap peserta
didik diukur dengan menggunakan sistem Penilaian Acuan Kriteria (PAK). Jika
seorang peserta didik mencapai standar tertentu, maka peserta didik tersebut
dipandang telah mencapai ketuntasan.
Oleh karena itu program pengayaan dapat
diartikan: memberikan tambahan/perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik
yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
kurikulum.
Metode yang digunakan dapat bervariasi
sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami
peserta didik. Dalam program pengayaan, media belajar harus betul-betul
disiapkan guru agar dapat memfasilitasi peserta didik dalam menguasai materi
yang diberikan (Bafadal, 2013 dalam Sumantri, 2015).
Menurut Syamsi (2007: 108), perbedaan
kecerdasan yang dimiliki masingmasing individu bisa terakomodir dengan baik
manakala diberikan wadah yang sesuai porsinya. Dengan maksud, untuk dapat
melayani peserta didik tersebut, ada program layanan pendidikan khusus yakni
program pengayaan (enrichment) dan
program percepatan belajar (acceleration).
Program pengayaan (enrichment)
diberikan kepada peserta didik cerdas istimewa yang bertipe “enriched learner”.
Menurut Akbar dan Hawadi (2010: 60),
istilah diferensiasi memiliki ikatan dengan istilah enrichment (pengayaan) atau akselerasi (percepatan). Enrichment (pengayaan) dilakukan
berdasarkan pada karakteristik siswa. Program pengayaan memilki tujuan untuk
mendukung kurikulum siswa secara lebih dalam atau lebih luas, daripada
kurikulum yang ada pada umumnya. Cara menerapkan program pengayaan dapat menggunakan
kelas hari sabtu, ruang-ruang sumber belajar, penambahan dari kelas regular,
kelompok minat khusus, dan sebagainya.
Menurut Nugroho (2018: 63), pembelajaran
pengayaan adalah memperkaya ilmu pengetahuan atau memperluas ilmu pengetahuan
siswa dengan memberi tugas tambahan, baik tugas yang dikerjakan di rumah maupun
tugas yang dikerjakan di lingkungan sekolah. Program pengayaan dapat diartikan
juga sebagai kegiatan memberikan tambahan, perluasan pengalaman atau kegiatan
peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan
oleh kurikulum. Peserta didik yang sudah melampaui ketuntasan belajar maka
perlu diberikan tambahan pengetahuan dan atau pengalaman pembelajaran yang
lebih dibanding mereka yang belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan.
Dalam hal ini, guru mesti menyiapkan program pembelajaran pengayaan yang
mendukung perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik.
Menurut Izzati (2015: 57), program
pengayaan merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi peserta didik yang
memiliki kemampuan akademik yang tinggi yang berarti mereka adalah peserta
didik yang tergolong cepat dalam menyelesaikan tugas belajarnya (Sugihartono,
2012). Sedangkan menurut Prayitno (2008) dalam Izzati (2015: 57), kegiatan
pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau
beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan
tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan
keterampilan yang telah dimiliknya dalam kegiatan pembelajaran sebelumnya.
According to Reis, et.al (1998: 312-314), the enrichment clusters, one
component of the Schoolwide Enrichment Model are nongraded groups of students
who share common interests and who come together during specially designated
time blocks during the school week to work with an adult whose shares their
interests and who has some degree of advanced knowledge and expertise in that
area.
The model for learning used with
enrichment clusters is based on an inductive approach to solving real-world
problems through the development of authentic products and services. Unlike
traditional, didactic modes of teaching, this approach, known as enrichment
learning and teaching, creates a learning situation that involves the use of
methodology, develops higher order thinking skills, and authentically applies
these skills in creative and productive situations.
Enrichment clusters are not intended to be the total
program for talent development in a school or to replace existing programs for
talented youth. Rather, they are one vehicle for stimulating interests and
developing talent potentials for the entire school population.
Menurut Tjahjadarmawan (2017: 17-18),
siswa yang terpilih untuk mendapatkan pembelajaran pengayaan adalah orang yang
nilainya di atas KKM. Kendalanya adalah siswa yang memenuhi syarat dapat
berbeda untuk SK yang berbeda. Bahkan ada beberapa siswa yang nilainya tidak pernah memenuhi syarat
sehingga hanya sebagai peserta belajar saja. Seringkali waktu pelaksanaan
program pengayaan dalam kelas ini kurang memadai sehingga guru perlu menambah
waktu pada kegiatan ekstrakurikuler sains. Alasan untuk hal ini adalah
banyaknya materi yang perlu dipelajari.
Menurut Sagala (2017: 364), program
belajar yang membelajarkan peserta didik dimulai dari merancang model dan
strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan materi pelajaran yang sedang
dipelajari, hal ini dilakukan oleh guru sesuai karakteristik dan kebutuhan
belajar siswa, salah satunya adalah program pengayaan bagi peserta didik yang
mengalami percepatan dalam belajar. Program pengayaan dilakukan dengan menambah
atau memperkaya materi untuk mereka, memberi kesempatan kepada siswa untuk
lebih kreatif, memberi latihanlatihan tentang penggunaan teknologi ringan,
memanfaatkan mereka menjadi tutor bagi teman-temannya dan sebagainya. Karakter
yang dibagun adalah komitmen yang kuat melakukan penilaian hasil belajar dengan
memantapkan kriteria, prosedur, dan teknik penilaian yang sifatnya standar.
Menurut Semiawan (1997: 145), istilah
eskalasi menunjuk pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program
pengayaan materi. Seperti juga akselerasi, eskalasi dapat mengambil dua bentuk,
yaitu pengayaan kurikulum dalam arti memperoleh pengalaman belajar yang lebih
berarti dan mendalam dalam mata pelajaran/suatu mata kuliah atau latihan
tertentu serta pengayaan dalam arti pertambahan berbagai layanan program
tertentu.
Pengayaan dapat dijadikan secara
horizontal dan vertikal. Pengalaman horizontal menunjuk pada pengalaman belajar
di tingkat pendidikan yang sama, tetapi bersifat lebih luas, sedangkan yang
vertikal makin meningkat dalam kompleksitas. Program pengayaan yang beranjak
dari konsep eskalasi bermaksud menyajikan kurikulum yang lebih dalam dan luas
yang dapat diwujudkan melalui kurikulum berdiferensiasi.
1. Apa
Saja yang dapat Dilakukan dalam Program Pengayaan?
Guru bisa memberikan pendalaman dan
perluasan dari KD yang sedang diajarkan atau memberikan materi dalam KD yang
berikutnya.
2. Mengapa
Diperlukan Program Pengayaan?
Berdasarkan Permendikbud No. 54, 64,
65, 66 dan 67 Tahun 2013 pada dasarnya menganut sistem pembelajaran berbasis
aktivitas atau kegiatan. kompetensi, sistem pembelajaran tuntas, dan sistem
pembelajaran yang memerhatikan dan melayani perbedaan individual peserta didik.
Dengan memerhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan awal, kecerdasan,
kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar) tersebut,
maka program pengayaan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam
program pengayaan, guru memfasilitasi peserta didik untuk memperkaya wawasan
dan keterampilannya serta mampu mengaplikasinya dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Kapan
Dilakukan Program Pengayaan?
Program pengayaan ketika peserta didik
teridentifikasi telah melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
kurikulum. Guru perlu mengantisipasi dengan menyiapkan program-program atau
aktivitas yang sesuai KD untuk memfasilitasi peserta didik.
4. Bagaimana
Program Pengayaan Dilakukan?
Program pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah melampaui ketuntasan belajar dengan memerlukan waktu
lebih sedikit dari pada teman-teman lainnya.
5. Siapa
yang Terlibat dalam program pengayaan?
Yang melakukan identifikasi,
perencanaan dan pelaksanaan program pengayaan adalah guru kelas. Apabila
diperlukan, guru dapat melakukan kerja sama dengan narasumber (apabila
dibutuhkan) dalam melaksanakan program pengayaan. Waktu yang masih tersedia
dapat dimanfaatkan peserta didik untuk memperdalam/memperluas atau
mengembangkan hingga mencapai tahapan networking (jejaring) dalam pendekatan
ilmiah (scientific approach). Guru
dapat memfasilitasi peserta didik dengan memberikan berbagai sumber belajar,
antara lain: perpustakaan, majalah atau koran, internet, narasumber/pakar, dan
lain-lain.
According to Beecher anf Sweeny (2008:
509-511), A Rationale for Schoolwide Enrichment, The school’s mission reflected
the school community’s desire to provide all students with access to an
engaging, stimulating, and enriched learning environment where they could thrive
and grow. Enrichment is often regarded as something extra, a nonessential frill
that is not considered during serious discussions about student achievement.
Yet, ignoring this critical component of instruction belies the importance of
student engagement and motivation to learn and the dynamic quality that occurs
when this energy exists in the learning environment. When students’ interests
and choices related to their own learning are considered, engagement in
learning is enhanced (Reis & Fogarty, 2006; Siegle & McCoach, 2005).
Many children at Central Elementary lacked a desire to learn; they could not
make connections to the curriculum, and they felt isolated from the learning
environment.
The field of gifted education has
embraced the concept of designing curriculum that considers students’ talents
and interests and uses those strengths to extend, expand, and accelerate
learning. Both the curriculum and program delivery services can be enriched,
with the intention of designing learning experiences that are responsive to the
learning characteristics of specific students (Schiever & Maker, 1997).
Enriched curriculum may be broader or more in depth than the regular
curriculum, and may extend beyond the traditional school day (Schiever &
Maker, 1997).
The concept of enrichment teaching and
learning with an emphasis on curriculum differentiation became a focus of
teachers’ efforts to create rigorous, engaging units of study. Enrichment
teaching and learning are cornerstones of the Schoolwide Enrichment Model (SEM;
Renzulli & Reis, 1985) and its precursor, the Enrichment Triad Model
(Renzulli, 1977), which is subsumed within SEM.
SEM was chosen for use at Central Elementary School in part
because it is “the best known and most widely used enrichment model” (Davis
& Rimm, 2004, p.
165) in gifted education.
The Enrichment Triad Model (Renzulli,
1977; Renzulli & Reis, 1985) provided the structure for infusing enrichment
into different parts of the school day and curriculum. This model is composed
of three types of enrichment, each designed to accomplish a different
objective. Type I experiences and activities are designed to expose students to
a wide variety of disciplines, topics, or issues not ordinarily covered in the
regular classroom. Type II enrichment includes instructional methods and
materials that promote the development of thinking and feeling processes, such
as creative thinking, problem solving, critical thinking, affective training,
and learning how to learn (e.g., interviewing and classifying). Type III
enrichment includes investigative activities and artistic productions in which
the learner assumes the role of a firsthand inquirer, with the student thinking
and acting like a practicing professional (Renzulli, 1977; Renzulli & Reis,
1985).
The specific initiatives related to enrichment teaching and
learning and differentiation included the following :
1. A
Schoolwide Enrichment Team;
2. Interdisciplinary,
differentiated units of study.
3. Differentiated
lesson plans across the curriculum.
4. Extended
day enrichment program.
5. Comprehensive
staff development plan.
6. Accountability
and assessment measures.
A detailed description of each of these
initiatives follows.
The Schoolwide Enrichment Team, Team A
Schoolwide Enrichment Team composed of parents and teachers worked with
teachers to determine the types of enrichment needed and located Type I
enrichment experiences for different groups and purposes. The student audience
for Type I enrichment included the whole school, one grade level, a class, a
small group of students, or one child. The purpose was always the same: to
enrich the lives of students by expanding their world and creating a sense of
curiosity and wonder. Many Type I experiences were linked to the curriculum in
order to build background knowledge for at-risk students. These experiences
created an energy and excitement for learning. The dancer from India, the
Japanese drummer, the children’s author, the parent from Cuba who shared
pictures and memorabilia from her home country, an Internet simulation of
weightlessness on the moon, and many others brought the outside world into the
classroom. The work of the team resulted in a multiyear connection to a local
theater that brought the arts into all classrooms and evening family programs to
the school.
The results of this effort were
noticeable: Children’s expressive language improved when they talked to the
teacher and their peers about their shared experiences. Children whose reading
ability was below grade level began to seek out and read books related to the
topics being discussed. The English Language Learners’ (ELLs) receptive
vocabulary allowed them to gain knowledge and become more active participants
in the classroom. The students engaged guest speakers with numerous questions and
frequently searched for more information on the topics presented.
Identify regional gaps in enrichment
programs. As discussed above, enrichment programs are not currently available
to all students who want to enroll in them, and the students who do enroll are
often drawn from wealthier groups (Gardner, Roth, & Brooks-Gunn,2009), in
part due to regional disparities. While some of the factors leading to these
differences are difficult to address (e.g, parental choice and funding choices
made by private foundations and individuals), better data on where the need are
may help to influence the allocation of government resources and potential
private funding as well. By identifying
the number of at-risk students and
students likely to benefit from programs , and comparing these numbers to the avalilability of
programs slots in different regions, SEAs will be able to identify which
regions have an insufficient quantity of enrichment programs and support
program expansion and creation. Simply publishing data on where need exist likely to influence
funding decisions, not just by private foundations and individuals but by
programs funded by the federal government. For example, federal programs like
National Science Foundation’s ITEST might before likely to fund programs in
specific regions declared in need by SEAs than in regions shown to have a
relative oversupply of enrichment programs.
Learning analytics may also have the
potential to identify more quickly which enrichment programs are working. If
and enrichment program is provided to elementary school students, any evidence
of its effect on hight school dropout rates or college attendance is a distant
prospect (Murphy, dkk, 2014 : 188).
Sites selected their own enrichment
classed , typically art, music, dance, and physical education. Enrichment was
offered by district teachers (all
sites), CBO after-school partnerbstaff (two sites), and professional teaching
artists (two sites). Students also participated in an end of program field trip
to DisneyQuest and a culminating production such as a performance or a play to
which families were invited.
Each winter the district central office
team hired staff who planned for and managed the camps. This inclued
contracting with 21 community based organization to provide enrichment
programming and hiring camp counselors who would assist teachers and students
during academic class sessions in the summer.
Twenty one CBO provided 26 different
enrichment opportunities for various groups of students scheduled throughout
the day. After luch and recess, students partcipated in two blocks of
enrichment activities with options such as judo, fencing, science, and visual
and performance art.
The central office staff member
coordinated enrichment activities offered by CBOs as well as district staff.
Enrichment activities, which varied by house and occured on a rotating
schedule, inclued rock climbing, culinary arts, swimming, phisycal education,
art, music, African dance and drumming, theater, dance and yoga.
In 2013, the program operated for 25
days, with 24 days of instruction. The program was split into three house and
the district intended for each house to offer 80 minutes of language arts, 80
minutes of mathematic and 40 minutes of targeted reading instruction. Students
participated in two enrichment blocks each day, the dustrict for each of these
to be 80 minutes, for 160 minutes of enrichment activities perday (Sloan, dkk, 2014: 30-32).
From a broad and long-term perspective,
the developmental trajectory of GATE has
been evolved from seeking equality to pursuing equity and excellence, from
nurturing the academic elites to developing a variety of talent of all
students, and from feeding scattered pieces of enrichment programs to providing
systematic and comprehensive education. Rather than the theoritical principal, the major reasons
that led to the development of gifted
education in different countries are based on the need of the country, of an individual
and of education reform.
It is recognized that national strenght
relies on human power, which in turn comes from a hight quality of education.
Thus, GATE becomes a necessary tool for identifying and nurturing students with
excellent mental endowments. These student
are gives an enrichment learning program that helps them maximize their
gift and allow them to become major contriburors to the society. Therefore,
identifying and developing gifted and talented students throught scientific and
bias-minimized assesment, differentiated curricula, and enriched learning
opportunities in a culturrally diverse environtment become urgent and
importants educational issues. All type of gate program in terms of special
needs students with chalenging and enriching opportunities for potential
development.
Furthermore, the traditional education
system in oriental society stresses the role of memorization and bookish
teaching. GATE gives value to creative, crtical, and practical thinking. It may
bring a tide of innovation and reform in the total school system involving all
teachers as launched by Bragget (2000). Using the old saying , “a rising tide
lifts all ship”. Renzulli (2000) illustrates the quality of education by
applying gifted education know-how to meet the needs of the development of
hught potential in all students (Dai dan
Kuo, 2016: 34).
2.1.2 Pentingnya Program Pengayaan
Enrichment describes experiences inside
and outside the classroom that provide opportunities to learn above and beyond
what is usually provided at a particular
grade level. Enrichment is difined by Webster’s Dictionary as making something
rich or richer, especially by the addition or increase of some desirable
quality, attribute or ingredient.
For this publication, the term
enrichment refers to modifications a teacher makes to go above or beyond the
regular curriculum for students or clusters of students who need advanced
learning oppotunities, and it includes programs or services that spark interest
and develop skills and expertise both within the school and beyond in the local
or broader community.
Enrichment comes in many configuration
and can be delivered as various services to students. What they all have in
common is that they offer opportunities to engage the learner beyond what is
traditionally available at a particular grade level. Some configuration offer
enrichment to one child, a pair of students, a cluster of children, or a class
that has been grouped by interests, needs, and abilities.
Enrichment provides students with opportunities to extend leraning. There
are three primary purpose for enrichment: fostering interest, nurturing talent,
developing expertice, or both: and increasing achievement. Enrichment
opportunities may address one, two, or all three of these purposes.
Reason 1 : Fostering interest
How do students discover possibiities
relating to an idea or a field of study?
Where do they find interest about which
they may become passionate?
The first step in nurturing an interest
is having an experience with the topic. That experience may be fisrthand, or it
may be the result of reading, attending a lecture or presentation, or learning
about a topic, carreer, or special interest in a myriad of ways. Since various
enrichment opportunities are planned by teachers, parents, and the students
themselves, it is important to vuew enrichment as occuring in classroom, in
extracurricular activities sponsored by the schools, and in the community and
beyond.
Reason 2 : Nurturing Talent, Developing
Expertise, or Both
How do students move to the next level in their talent
area? How do they acquire in an area of interest?
Of course, a partial answer to these
question depends upon the individual’s passion to move to the next level of
talent or expertise and his or her willingness to work hard to do so. Attending outstanding
performance of talent and interacting with experts, they find stimulating ideas
to pursue. Just imagine the benefits to a young person who conduct research
alongside a specialist in her field of expertise or learn music from a
professional who can share his passion for a particular instrument.
Reason 3 : Increasing Achievement
How do students increace their achievement in a content
area in which they are already way ahead of their agemates?
Without appropriate learning
opportunities both in and outside of school, children may not achieve at the
level that aquates to their potential. This gap between achievement and
potential is truly an achievement gap that cannot be tolerated. Eliminating
this achievement gap willbenefits both the individual and the community-local,
state, national, and global. The U.S. Commision on National Security for te
21st Century noted in its report Road
Map for National Security : Impertive for Change. This gap between
opportunities to learn and achievement potential can be seen in all content and
talent areas. The gap is the widest when the teacher believes that grade level
achievement gap for those who are gifted and talented will certainly include
enrichment (Robert, 2005: 5-9).
2.1.3 Tujuan Program Pengayaan
According to Renzulli, dkk (2014),
enrichment clusters are students centered-directed by students interest and the
development of authentic product for real audiences and based on both common
sense and research challenging the assertion that important intellectual growth
can only be charted throught an information transfer and standardized testing
approach to education.
The main purpose of depeloving an
enrichment cluster program is to create a time and a place within the school
week for students-driven learning to be on the front burner of students and
teachers activity. Althought we would like to see more of this type of learning
infused into the overall curriculum, the external forces that dominate most
schools are simply too powerful to allow for massive immediate change.
Educational change seldom takes place at the center of things, instead, it
evolves on the frings where dedicated people exercise their judgment in the
best interest of the young people for whom they are responsible. And succesful
change occuring on the edges has been found to seep foward the center. In the
research we conducted on enrichment clusters, we found that many of the
strategies teachers used to facillitate enrichment clusters found their way
into everyday teaching practices in regular classroom. Through strategies such
as creative compliance and the infiltrator model of school change, we have
witnessed remarkable changes taking place in mainstream classroom.
The specific skills that are the goals
of high end learning include developing the ability to :
1. Find
and focus a problem that has personal relevans to the individuals or groups
2. Distinguish
between problem-specific, relevant, and irrelevant information, identify bias
in information sources, and transform factual information into usable knowledge
that will help solve the problem
3. Plan
tasks that address the problems, sequence events in their most logical and
practical order for attacking the problem, and consider alternative courses of
action and their possible consequense
4. Monitor
one’s understanding at each level of involvement and assess the methodological
skills (process), and human or material resources
5. Notice
pattern, relationship, and disrepancies in the information gathered and use
this information to refine tasks for addressing the problem and drawing
comparisons and analogies to other problems
6. Generate
reasonable arguments and explanations for each decision and course of action
7. Predict
outcomes, apportion time, money, and resources, value the contributions of
others to the collective effort, and work copperatively for the common good of
the group
8. Examine
ways in which problem-solving strategies from one situation can be adopted in
or adapted to other problem-solving situations (transfer of learning), and
9. Communicate
in lively and professional ways to different audiences and in different genres
and formats.
2.1.4 Fungsi Program Pengayaan
Menurut Masbur (2012: 352), fungsi pengayaan
yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau
terletak dalam segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga
hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi
belajarnya lebih kaya. Adanya daya dukung fasilitas teknik, serta sarana
penunjang yang di perlukan. Sasaran pokok fungsi ini ialah agar hasil remedial
itu lebih sempurna dengan diadakannya pengayaan. Semakin banyak hasil belajar
yang diperoleh dan semakin dalam ilmu yang didapat, maka prestasi belajarnya
pun semakin meningkat.
Menurut Soewarno, dkk (2016: 5),
pengayaan dan pengukuhan (encrichment
dan reinforcement), layanan pengayaan
ditunjukan pada peserta didik yang mempunyai kelemahan ringan secara akademik,
mungkin peserta didik itu cerdas. Program ini dapat dilakukan dengan memberikan
tugas rumah atau tugas yang dikerjakan di kelas pada saat pembelajaran
berlangsung.
2.1.5 Jenis-jenis Program Pengayaan
Menurut Sumantri (2015: 439), jenis-jenis
program pengayaan yaitu :
1. Kegiatan
eksploratori yang masih terkait dengan KD yang sedang dilaksanakan yang di
rancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian yang dimaksud contohnya:
bisa berupa peristiwa sejarah, buku, narasumber, penemuan, uji coba, yang
secara reguler tidak tercakup dalam kurikulum.
2. Keterampilan
proses yang di perlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan
pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk
pembelajaran sendiri
3. Pemecahan
masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar
lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan
pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah.
Pemecahan masalah di tandai dengan:
a. Identifikasi
bidang permasalahan yang akan dikerjakan;
b. Penentuan
fokus masalah/problem yang akan dipecahkan;
c. Penggunaan
berbagai sumber;
d. Pengumpulan
data menggunakan teknik yang relevan;
e. Analisis
data;
f. Penyimpulan
basil investigasi.
According to Al-Zoubi (2014: 24), this
enrichment program consisted of three levels:
1. Exploring
activities that include general exploring activities that aim at providing the
appropriate environment for the talented students to deal with the school
subjects that interest them.
2. Guided
activities towards a certain skill, which include the techniques and the
strategies that aim at developing thinking processes.
3. And
finally problem solving that include research activities and art and literary
activities.
Menurut Semiawan (1997: 147-151),
berbagai modifikasi bisa terkait dengan konten maupun proses pembelajarannya.
Program pengayaan kurikulum juga bertujuan memberikan layanan materi yang lebih
mendalam dan lebih meluas daripada yang umumnya terjadi.
Renzulli yang terkenal dengan triad
model-nya yang mencakup kemampuan intelektual, kreativitas dan keterlekatan
terhadap tugas, menyajikan dimensi pengalaman merangsang, seperti pengkajian
masalah riil, umpamanya polusi; menulis surat kepada redaksi, surat kabar,
memberitahukan sesuatu kejadian yang tidak adil.
Howley, dkk. (dalam Schiever, dkk.,
1991; Colangelo dan Davis, 1991) menunjuk pada tiga pendekatan pengayaan,
yaitu:
1. Berorientasi
pada proses.
2. Berorientasi
pada konten.
3. Berorientasi
pada produk.
Belajar proses (process learning) menunjuk pada bagaimna mempelajari sesuatu,
sedangkan belajar konten menunjuk kepada apanya (konten, materinya) yang harus
dipelajari, sedangkan orientasi produk menunjuk pada hasil ciptaannya. Belajar
proses tanpa konten tidak menghasilkan peningkatan mental, karena berpikir itu
tidak dapat diisolasikan dari kontennya. Sebaliknya, belajar konten materi apa
saja tanpa memperhatikan prosesnya menemukan jalan buntu juga, karena serba
hafalan pengetahuan itu akhirnya menjadikan pengetahuan sesaat. Orientasi pada
produk terutama mengacu pada hasil karya tertentu sehingga laporan novel atau
karya lain dan meningkatkan tingkat berpikir tinggi.
Stanley menghindari pendekatan pengayaan
yang bersifat umum dengan mempersempit konsepnya. Sedangkan Renzulli mempertegas
pengayaan itu dengan model pengayaan triadik (triadic enrichment model) yang menekankan pada proses operasional
identifikasi dengan “membuka pintu” (identification revolving door), sehingga
menjadikan si pemebelajar seorang peneliti yang kompoten (RDIM).
Dalam layanan perkembangan intelek yang
kreatif, yang mencakup keterampilan berpikir dan perilaku yang kreatif,
diperlihatkan bahwa pendapat :
1. Perbedaan
individual yang kreatif
2. Perbedaan
individual kepekaan terhadap latihan kreatif.
3. Perbedaan
individual terhadap motivasi untuk berkrasi.
4. Suasana
belajar.
5. Keterampilan
berpikir kreatif yang tidak selalu harus
diajarkan dalam suatu bidang studi atau bidang ilmu tertentu.
Menurut Nugroho (2018: 64), adapun
jenis-jenis pembelajaran pengayaan bisa berupa kegiatan eksploratori,
keterampilan proses, dan bisa pula berupa pemecahan masalah. Kegiatan
eksploratori dirancang guru untuk disajikan kepada peserta didik. Kegiatannya
bisa berupa peristiwa sejarah, buku, narasumber, penemuan, uji coba, yang
secara reguler tidak tercakup dalam kurikulum. Sementara keterampilan proses
yakni kegiatan yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan
pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran
mandiri. Sedangkan jenis pembelajaraan pengayaan pemecahan masalah diberikan
kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa
pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau
pendekatan investigatif berupa penelitian ilmiah.
According to Aljughaiman and Ayoub (2015: 101), enrichment programs, during
the emergence of educational reform movements in the mid-twenties, educational
systems in developed countries (e.g., USA and European countries) began to
devise educational programs to meet the needs of gifted students (Davis &
Rimm, 2010; Ferguson, 2009). Over time, enrichment programs became the most
prominent kind of school programs in the education of gifted students. Such
programs have had an increasingly broad influence because of their wide
adoption internationally (Feldhusen, 1994, 1997; Olenchak & Renzulli, 1989;
Reis, Eckert, McCoach, Jacobs, & Coyne, 2008; Renzulli, 2005). The
structure and content of enrichment programs are flexible enough to account for
the various needs of the gifted, differing environmental conditions, human and
financial potentials, and a range of educational policies and administrative
systems. Many researchers (Davis & Rimm, 2010; Karnes & Bean, 2009)
have identified various forms of enrichment programs through which attention
can be provided to the needs of the gifted, most prominent among them being
gifted boarding academies, gifted schools, gifted classes, pull-out programs,
summer camps, weekend programs, and afternoon programs.
2.1.6 Model-model Pengayaan
Menurut Akbar dan Hawadi (2010: 60-62),
ada beberapa model pengayaan, yaitu model Renzulli, model IPPM Treffinger,
model purdue Three-stage, dan model Antonomous learner.
1. Model
Renzulli
Model pengayaan Renzulli (1997) dibuat untuk menyediakan
variasi pengalaman pengayaan.Model ini menyediakan tiga tipe pengayaan yang
mendukung pegalaman dan proses latihan untuk semua siswa disekolah. Siswa
berbakat akan merespon pengalaman mereka dalam memecahkan masalah nyata, yang
selanjtnya akan mengembangkan produk nyata. Tiga tipe tersebut adalah sebagai
berikut.
a. Pengayaan
tipe I yang melibatkan pengalaman secara umum. Pengayaan tipe I ini menunjukkan
kepada siswa tentang topik-topik baru, gagasangagasan dan pengetahuan yang
tidak tertulis dari kurikulum regular.
b. Pengayaan
tipe II lebih menekankan pada kegiatan latihan kelompok. Latihan kelompok ini
merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan proses kognisi dan
afeksi. Kegiatan ini diterapkan pada seluruh siswa, bukan hanya siswa
berbakata.
c. Pengayaan
tipe III digunakan untuk meneliti individu dan kelompok kecil pada masalah
nyata. Kegiatan pengayaan tipe ini biasanya diterapkan pada kelas khusus dan
ditangani oleh guru-guru yang memang dilatih secara khusus untuk anak berbakat.
2. Model
IPPM Treffinger
Model ini lebih menekankan pada proses identifikasi untuk
merencanakan program studi individu anak berbakat berdasarkan bakat, kekuatan,
dan minatnya. Model ini juga menekankan pengembangan keterampilan secara bebas
dan keberbakatan yang mandiri.
3. Model
Purdue Three-stage
Model ini dikembangkan oleh Feldhusen dan Kollof (1979).
Model ini diterapkan dalam ruang khusus dengan kelompok kecil antara 8-15 anak
berbakat. Anak mengikuti kurikulum yang difokuskan pada keterampilan berpikir
dan dasar-dasar suatu mata pelajaran.
4. Model
Antonomous Learner
Model ini dikembangkan oleh Betts (1986). Model ini
berusaha untuk menemukan kebutuhan akademik, social, emosional anak berbakat,
yang bertujuan untuk menjamin kebebasan anak berbakat dan bertanggung jawab
terhadap belajarnya.
2.1.7 Prinsip-prinsip Program Pengayaan
Menurut Sumantri (2015: 440-441) dikutip
dari Ibrahim Bafadel (2013), prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam
mengonsep program pengayaan adalah : 1. Inovasi
Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan
kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya
peserta didik.
2. Kegiatan
yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendesain pembelajaran
pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat,
merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.
3. Merencanakan
metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi Misalnya dengan memberikan project,
pengembangan minat dan aktivitasaktivitas menggugah (playful). Menerapkan
informasi terbaru, hasil-hasil pene- litian atau kemajuan program-program
pendidikan terkini.
Menurut Sumantri (2015: 440-441) dikutip
dari Passow (1993) dalam Ibrahim Bafadal (2013) menyarankan bahwa dalam
merancang program pengayaan, penting untuk memerhatikan tiga hal :
1. Keluasan
dan kedalaman dari pendekatan yang digunakan pendekatan dan materi yang
diberikan tidak hanya berisi yang luarnya (kulit-kulitnya) saja tetapi
diberikan dengan lebih menyeluruh dan lebih mendalam. Contoh: membahas mengenai
prinsip Phytagoras, tidak: hanya memberikan rumus dan pemecahan soal saja
tetapi juga memberikan pemahaman yang luas dari mulai sejarah terbentuknya
hukum-hukum Phytagoras dan bagaimana penerapan prinsip tersebut dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Tempo
dan kecepatan dalam membawakan program
Sesuaikan cara pemberian materi dengan tempo dan kecepatan
peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Hal ini berkaitan dengan
kecepatan daya tangkap yang dimiliki peserta didik sehingga materi dapat
diberikan dengan lebih mendalam dan lebih dinamis untuk menghindari kebosanan
karena peserta didik yang telah menguasai materi pembelajaran yang diberikan di
kelas.
3. Memerhatikan
isi dan tujuan dari materi yang diberikan
Hal ini bertujuan agar kurikulum yang dirancang lebih
tepat guna dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Renzulli (1979)
menyatakan bahwa program pengayaan berbeda dengan program akselerasi karena
pengayaan di rancang dengan lebih memerhatikan keunikan dan kebutuhan
individual dari peserta didik.
According to Renzulli in Olenchak (1995: 389), the principles of enrichment
learning and teaching :
1. Each
learner is unique, and therefore, all learning experiences must be examined in
ways that take into account the abilities, interests, and learning styles of
the individual.
2. Learning
is more effective when students enjoy what they are doing, and therefore,
learning experiences should be constructed and assessed with as much concern
for enjoyment as for other goals.
3. Learning
is meaningful and enjoyable when content (i.e., knowledge) and process (i.e.,
thinking skills, methods of inquiry) are learned within the context of a real
and present problem, and therefore, attention should be given to opportunities
to personalize student choice in problem selection, the relevance of the
problem for individual students at the time the problem is being addressed, and
strategies for assisting students in personalizing problems they might choose
to study.
4. Some
formal instruction may be used in enrichment learning and teaching, but a major
goal of this approach to learning is to enhance knowledge and thinking skill
acquisition gained through teacher instruction with applications of knowledge
and skills that result from students’ construction of meaningfulness.
Menurut Nugroho (2018: 63), agar
pembelajaran pengayaan dapat bermakna bagi siswa maka perlu diperhatikan
beberapa prinsip, sebagaimana dipaparkan oleh Khatena (1992), yakni inovasi,
kegiatan yang memperkaya, memperkenalkan metodologi yang luas dan lebih kaya.Guru
dituntut untuk berinovasi dengan tetap memperhatikan kekhasan peserta didik,
karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.
Pembelajaran pengayaan antara satu peserta didik dengan peserta didik lain bisa
jadi berbeda, tergantung minat dan karakteristik peserta didik tersebut.
Pembelajaran pengayaan juga mesti ditujukan dalam rangka memperkaya
pengetahuan, pengalaman, dan wawasan peserta didik.
Pembelajaran
pengayaan bersifat menyenangkan, membangkitkan minat, mengajak berpikir kritis,
dan meningkatkan daya imajinasi. Apa yang disebutkan terakhir, yakni
meningkatkan imajinasi,memang jarang disebut, meski sebenarnya sangat penting
dalam mengembangkan ilmu-ilmu sains yang telah dikuasai.Oleh sebab itu, sekali
lagi, guru perlu merencanakan secara matang pembelajaran pengayaan yang akan
diberikan kepada siswa dengan rancangan metode-metode yang (playful).
2.1.8 Keterkaitan KKM terhadap Program Pengayaan
Kriteria Ketuntasan Minimal yang
selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Dalam
menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama antara
kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM dirumuskan
setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek: karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran
(kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung)
pada proses pencapaian kompetensi (Malawi, dkk, 2015: 230).
Menurut Astiti (2017: 8),
Kriteria–kriteria Ketuntasan Minimal tersebut antara lain :
a. Karakteristik
Mata Pelajaran (kompleksitas)
Hal yang perlu diperhatikan dalam mengetahui karakteristik
mata pelajaran ini adalah menganai rumit tidaknya kompetensi yang harus dicapai
siswa. Bila semakin besar usaha yang diperlukan siswa untuk mencapai kompetensi
pada mata pelajaran tertentu berarti KKM-nya akan lebih kecil daripada semakin mudah
siswa dalam mencapai kompetensi suatu mata pelajaran.
b. Daya
dukung
Daya dukung yang dimaksud adalah kondisi dan karakteristik
yang ada disekolah, misalnya kelengkapan alat praktikum, kelengkapan peralatan
belajar, fasilitas yang disediakan di sekolah, dan lainnya. Semakin lengkap
daya dukung yang ada di sekolah maka besarnya KKM yang ditetapkan dapat lebih
tinggi.
c. Karakteristik
Peserta Didik (intake)
Besar kecilnya nilai KKM juga dipengaruhi oleh karakter
peserta didik. Hal yang dimaksud adalah dengan melihat input siswa. Diantaranya
bagaimana motivasi belajar mereka, bagaimana dukungan orang tua terhadap
kemajuan belajar, dan lainnya. Input dipilih melalui seleksi pendaftaran
sebagai calon siswa yang mendaftar.
Adanya penetapan KKM tersebut menyebabkan
terjadinya dua macam kegiatan tambahan yaitu kegiatan remedial dan pengayaan.
Pengayaan merupakan kegiatan tambahan yang diberikan kepada peserta didik yang
telah mendapatkan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah
ditetapkan. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain
dengan memberikan tugas, materi ataupun soal tambahan kepada peserta didik.
Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin
pesat saat ini, hendaknya tenaga pendidik mampu memanfaatkan perkembangan
teknologi tersebut menjadi sebuah inovasi baru dalam pembelajaran misalnya
dengan menerapkannya pada kegiatan pengayaan (Meikasari dan Listiadi, 2016: 2).
Pengayaan merupakan program pembelajaran
yang diberikan kepada peserta didik yang telah melampaui KKM. Fokus pengayaan
adalah pendalaman dan perluasan dari kompetensi yang dipelajari. Pengayaan
biasanya diberikan segera setelah peserta didik diketahui telah mencapai KKM
berdasarkan hasil PH. Pembelajaran pengayaan biasanya hanya diberikan sekali,
tidak berulang kali sebagaimana pembelajaran remedial. Bentuk pelaksanaan
pembelajaran pengayaan dapat dilakukan dengan belajar mandiri atau kelompok
(Malawi, dkk, 2015: 231).
2.1.9 Langkah-langkah Pelaksanaan Program Pengayaan
Langkah-langkah dalam program pengayaan
tidak terlalu jauh berbeda dengan program pembelajaran remedial. Diawali dengan
kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Guru
tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian autentik terhadap kemampuan peserta
didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah
terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai
dengan: penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat. Sehingga
peserta didik sering kali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan
cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Di sinilah dibutuhkan
kepekaan guru dalam merencanakan dan memutuskan untuk melaksanakan program
pengayaan (Sumantri, 2015: 442).
Menurut Majid (2014: 170-171),
pelaksanaan program pengayaan terbagi menjadi dua yaitu : 1. Cara
yang ditempuh
Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran tuntas, kondisi
yang sebaliknya dari program remedial adalah akan selalu ada siswa-siswi yang
lebih cepat menguasai kompetensi yang ditetapkan. Siswa-siswi inipun tidak
boleh diterlantarkan. Mereka perlu mendapatkan tambahan pengetahuan dan atau
keterampilan melalui program pengayaan sesuai dengan kapasitasnya.
Adapun cara yang dapat ditempuh
diantaranya adalah :
a. Pemberian
bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD
tertentu.
b. Pemberian
tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/ paragraf, dan
sebagainya.
c. Memberikan
soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan.
d. Membantu
guru membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.
2. Materi dan waktu pelaksanaan program
pengayaan
a. Program
pengayaan diberikan sesuai dengan KD-KD yang dipelajari.
b. Waktu
pelaksanaan program pengayaan adalah :
1) Setelah
mengikuti tes/ujian KD tertentu.
2) Setelah
mengikuti tes/ujian blok atau kesatuan KD tertentu; semester tertentu. Khusus
untuk program pengayaan yang dilaksanakan pada akhir semester ini, materinya
juga hanya yang berkaitan dengan KD-KD yang terkait dengan blok terakhir dari
blok-blok yang ada pada semester tertentu.
Menurut Sumantri (2015: 442) dikutip
dari Winner, 1996, dalam Santrock (2007), mengemukakan karakteristik peserta
didik yang berbakat antara lain :
1. Peserta
didik berbakat biasanya cermat dalam setiap hal ataupun kesempatan di mana
mereka harus menggunakan kemampuannya. Mereka adalah anak-anak yang selalu
menjadi yang pertama dalam menguasai suatu pelajaran dengan usaha yang juga
minimal dibandingkan teman-teman atau peserta didik-peserta didik yang lain
yang dikarenakan mereka sejak lahir memiliki kemampuan yang tinggi dalam satu
atau beberapa bidang.
2. Dalam
kehidupan sehari-hari, peserta didik yang berbakat dapat berhasil memecahkan
masalah secara tepat dengan cara yang ia kembangkan atau ia temukan sendiri.
Peserta didik yang berbakat dapat menangkap atau lebih menyukai petunjuk yang
tidak eksplisit dibandingkan dengan peserta didik yang lain.
3. Memiliki
hasrat untuk "menguasai". Mereka memiliki hasrat, obsesi dan minat
dan kemampuan untuk fokus, sehingga sangat mudah baginya untuk memahami dan
menguasai suatu hal.
Guru diharapkan lebih peka dalam
mengenali peserta didik yang memiliki karakteristik ini, dikarenakan mereka
memiliki kebutuhan yang juga berbeda dibandingkan dengan teman-temannya.
Menurut Sumantri (2015: 453-458), adapun
langkah-langkah dalam melaksanakan program pengayaan di sekolah yaitu sebagai
berikut :
1. Identifikasi
Permasalahan Pembelajaran
Secara umum identifikasi awal bisa dilakukan
melalui: a. Observasi.
b. Wawancara terhadap peserta didik atau
terhadap orang-orang di lingkungan peserta didik.
2. Membuat
Perencanaan
Setelah melakukan identifikasi awal terhadap permasalahan
belajar anak, guru telah memperoleh pengetahuan yang utuh tentang peserta didik
dan mulai untuk membuat perencanaan. Penetapan perencanaan dilakukan melalui
beberapa tahapan :
a. Menetapkan
tujuan pembelajaran.
b. Kurikulum.
c. Menyiapkan
media pembelajaran.
d. Menetapkan
strategi pembelajaran.
e. Menyiapkan
materi-materi pendukung.
3. Pelaksanaan
Program Pengayaan
Setelah perencanaan disusun, langkah
selanjutnya adalah melaksanakan.
Ada tiga fokus penekanan:
a. Penekanan
pada keunikan peserta didik.
b. Penekanan
pada adaptasi materi ajar.
c. Penekanan
pada strategi/metode pembelajaran.
4. Evaluasi
Evaluasi melalui penilaian autentik dilakukan setelah
program selesai dilaksanakan. Berdasarkan hasil evaluasi, guru perlu meninjau
kembali strategi pembelajaran yang diterapkannya atau melakukan identifikasi
(analisis kebutuhan) terhadap peserta didik dengan lebih seksama.
Menurut Izzati
(2015: 57-58), bentuk-bentuk pelaksanaan program pengayaan diantaranya
adalah:
1. Menugaskan
siswa membaca materi pokok dalam kompetensi dasar selanjutnya
2.
Memfasilitasi siswa melakukan
percobaanpercobaan, soal latihan, menganalisa gambar, dan sebagainya
3.
Memberikan bahan bacaan untuk didiskusikan guna menambah
wawasan para siswa
4.
Membantu guru membimbing teman-temannya yang
belum mencapai standar ketuntasan belajar minimum.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa program pengayaan adalah salah satu upaya untuk
membantu siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar untuk memperluas
pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya. 2.2 Kajian Kritis
Program pengayaan dapat diartikan
sebagai kegiatan memberikan tambahan/perluasan pengalaman kepada peserta didik
yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
kurikulum. Peserta didik yang sudah melampaui ketuntasan belajar maka perlu
diberikan tambahan pengetahuan atau pengalaman pembelajaran yang lebih
dibanding mereka yang belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan. Dalam
hal ini, guru mesti menyiapkan program pembelajaran pengayaan yang mendukung
perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik. Guru bisa memberikan
pendalaman dan perluasan dari KD yang sedang diajarkan atau memberikan materi
dalam KD yang berikutnya. Dalam program pengayaan, guru memfasilitasi peserta
didik untuk memperkaya wawasan dan keterampilannya serta mampu mengaplikasinya
dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan berbagai sumber belajar, antara
lain: perpustakaan, majalah atau koran, internet, narasumber/pakar, dan
lain-lain.
Pentingnya melaksanakan program
pengayaan dikarenakan yang pertama yaitu melalui pengayaan dapat menumbuhkan
minat peserta didik, siswa dapat menemukan kemungkinan yang berkaitan dengan
ide atau bidang studi melalui pemeliharaan minat, karena berbagai peluang
pengayaan direncanakan oleh guru, orang tua, dan siswa itu sendiri, penting
untuk menambah pengayaan seperti yang terjadi di kelas, dalam kegiatan
ekstrakurikuler yang disponsori oleh sekolah, dan di masyarakat dan di luar.
Yang kedua adalah memupuk bakat, mengembangkan keahlian, atau keduanya, melalui
pengayaan peserta didik dapat berinteraksi dengan para ahli, menemukan ide-ide
yang mendorong untuk mengejar yang masih belum diketahuinya. Yang ketiga yaitu
dapat meningkatkan prestasi, tanpa peluang pembelajaran yang tepat baik di
dalam maupun di luar sekolah, peserta didik tidak dapat mencapai pada tingkat
yang mengakar ke potensi mereka.
Tujuan utama dari program pengayaan
adalah untuk menciptakan terlaksananya pembelajaran yang diperuntukkan bagi
peserta didik agar dapat lebih memperkaya penguasaan materi pelajaran dan juga
dapat melatih keterampilan-keterampilan baru bagi peserta didik seperti dapat
membedakan antara informasi yang spesifik-masalah, relevan, dan tidak relevan,
memeriksa cara-cara di mana strategi pemecahan masalah disesuaikan dengan
situasi penyelesaian masalah lainnya, dapat berkomunikasi dengan cara yang
hidup, dan masih banyak yang lainnya.
Fungsi pengayaan yaitu dapat memperkaya
proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi
metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga hasil yang
diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya
lebih kaya. Adanya daya dukung fasilitas teknik, serta sarana penunjang yang di
perlukan. Sasaran pokok fungsi ini ialah agar hasil remedial itu lebih sempurna
dengan diadakannya pengayaan. Semakin banyak hasil belajar yang diperoleh dan
semakin dalam ilmu yang didapat, maka prestasi belajarnya pun semakin
meningkat.
Jenis-jenis program pengayaan yaitu
dapat berupa kegiatan eksploratori yang masih terkait dengan KD yang sedang
dilaksanakan yang di rancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian yang
dimaksud contohnya: bisa berupa peristiwa sejarah, buku, narasumber, penemuan,
uji coba, yang secara reguler tidak tercakup dalam kurikulum. Selanjutnya
adalah keterampilan proses yang di perlukan oleh peserta didik agar berhasil
dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam
bentuk pembelajaran sendiri. Yang terakhir adalah pemecahan masalah yang
diberikan kepada peserta didik yang
memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan
menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/
penelitian ilmiah.
Ada beberapa model pengayaan yaitu
pertama Model Renzulli yang dibuat untuk menyediakan variasi pengalaman
pengayaan. Yang kedua Model IPPM Treffinger, model ini lebih menekankan pada
proses identifikasi untuk merencanakan program studi individu anak berbakat
berdasarkan bakat, kekuatan, dan minatnya. Yang ketiga yaitu Model Purdue Three-stage, model ini diterapkan
dalam ruang khusus dengan kelompok kecil antara 8-15 anak berbakat. Yang
keempat yaitu Model Antonomous Learner, model
ini berusaha untuk menemukan kebutuhan akademik, sosial, emosional anak
berbakat, yang bertujuan untuk menjamin kebebasan anak berbakat dan bertanggung
jawab terhadap belajarnya.
Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan
dalam mengonsep program pengayaan terbagi tiga. Pertama adalah inovasi, guru
perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik,
karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik. Yang kedua
adalah kegiatan yang memperkaya, dalam menyusun materi dan mendesain
pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan,
membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi
dan memperkaya. Yang ketiga adalah merencanakan metodologi yang luas dan metode
yang lebih bervariasi, misalnya dengan memberikan projek, pengembangan minat
dan aktivitas-aktivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru,
hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini.
Kriteria Ketuntasan Minimal yang
selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Dalam
menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama antara
kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM dirumuskan
setidaknya dengan memperhatikan 3
(tiga) aspek: karakteristik peserta didik (intake),
karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi
satuan pendidikan (daya dukung) pada proses pencapaian kompetensi
Adanya penetapan KKM tersebut
menyebabkan terjadinya dua macam kegiatan tambahan yaitu kegiatan remedial dan
pengayaan. Pengayaan merupakan kegiatan tambahan yang diberikan kepada peserta
didik yang telah mendapatkan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM)
yang telah ditetapkan.
Langkah-langkah pelaksanaan program
pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program pembelajaran remedial.
Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan dan
penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian autentik terhadap
kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran,
peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman
lainnya, bisa ditandai dengan: penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan
waktu yang lebih singkat. Sehingga peserta didik sering kali memiliki waktu
sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau
menguasai materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan guru dalam merencanakan dan
memutuskan untuk melaksanakan program pengayaan.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Program pengayaan dapat diartikan
sebagai kegiatan memberikan tambahan/perluasan pengalaman kepada peserta didik
yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
kurikulum. Peserta didik yang sudah melampaui ketuntasan belajar maka perlu
diberikan tambahan pengetahuan atau pengalaman pembelajaran yang lebih
dibanding mereka yang belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan. Dalam
hal ini, guru mesti menyiapkan program pembelajaran pengayaan yang mendukung
perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik.
Pentingnya melaksanakan program
pengayaan dikarenakan melalui pengayaan maka dapat menumbuhkan minat peserta
didik, memupuk bakat, dapat meningkatkan prestasi. Tujuan utama dari program
pengayaan adalah untuk menciptakan terlaksananya pembelajaran yang
diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat lebih memperkaya penguasaan materi
pelajaran dan juga dapat melatih keterampilan-keterampilan baru bagi peserta
didik.
Fungsi pengayaan yaitu dapat memperkaya
proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi
metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga hasil yang
diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya
lebih kaya.
Jenis-jenis program pengayaan yaitu
dapat berupa kegiatan eksploratori yang masih terkait dengan KD yang sedang
dilaksanakan yang di rancang untuk disajikan kepada peserta didik, keterampilan
proses yang di perlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan
pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk
pembelajaran sendiri, dan pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan
pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Ada beberapa
model pengayaan yaitu pertama Model Renzulli, Model IPPM Treffinger, Model Purdue Three-stage, dan Model Antonomous Learner. Prinsip-prinsip yang
perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan terbagi tiga yaitu
inovasi, kegiatan yang memperkaya, dan merencanakan metodologi yang luas dan
metode yang lebih bervariasi.
Kriteria Ketuntasan Minimal yang
selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Dalam
menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama antara
kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM dirumuskan
setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek: karakteristik peserta didik
(intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan
kondisi satuan pendidikan (daya dukung) pada proses pencapaian kompetensi
Adanya penetapan KKM tersebut menyebabkan terjadinya dua macam kegiatan
tambahan yaitu kegiatan remedial dan pengayaan.
Langkah-langkah pelaksanaan program
pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program pembelajaran remedial.
Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan dan
penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian autentik terhadap
kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran,
peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman
lainnya, bisa ditandai dengan: penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan
waktu yang lebih singkat. Sehingga peserta didik sering kali memiliki waktu
sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau
menguasai materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan guru dalam merencanakan dan
memutuskan untuk melaksanakan program pengayaan.
3.2 Saran
Penggunaan program pembelajaran yang
baik dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir siswa dengan baik pula,
terutama pada siswa yang telah memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi
dibandingkan temantemannya yang lain. Salah satu program yang bisa digunakan
yaitu program pengayaan yaitu merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi
peserta didik yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi yang berarti mereka
adalah peserta didik yang tergolong cepat dalam menyelesaikan tugas belajarnya.
Oleh karena itu, sebaiknya tenaga pendidik memahami bagaimana cara menerapkan maupun
melaksanakan program pengayaan ini dengan baik agar pelaksanaannya dapat
mencapai tujuan seperti yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Reni dan Hawadi. 2010. Menguatkan Bakat Anak. Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Aljughaiman, A. M and Ayoub, A. E. A.
2014. Evaluating the Effects of the Oasis
Enrichment Model on Gifted Education: A Meta-Analysis Study. Saudi Arabia:
Talent Development & Excellence Vol. 5, No. 1.
Alzoubi, S.M. 2014. Effects of Enrichment Programs on the
Academic Achievement of Gifted and Talented Students. Saudia Arabia:
Journal for the Education of the Young
Scientist and Giftedness. Vol. 2, Issu. 99.
Astiti, K. A. 2017. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.
Beecher, Margaret dan Sweeny, S.M. 2008. Closing the Achievement Gap With
Curriculum Enrichment
and Differentiation: One School’s Story.
Amerika Serikat: Journal of Advanced Academics. Vol. 19, No. 3.
Dai dan Kuo. 2016. Gifted Education in Asia Problems and
Prospects. America: Information Age Publishing.
Izzati, Nurma. 2015. Pengaruh Penerapan Program Remedial dan
Pengayaan Melalui Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Matematika
Siswa. Cirebon: Jurnal EduMa. Vol. 4, No. 1, ISSN: 2086-3918.
Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Malawi, I., Kadarwati, A., dan Dayu,
D. P. K. 2015. Pembaharuan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jawa Timur : CV. AE
MEDIA GRAFIKA.
Masbur. 2012. Remedial Teaching Sebagai Suatu Solusi. Aceh: Jurnal Ilmiah
DIDAKTIKA Vol. XII, No. 2.
McCombs, et.al. 2014. Ready for Fall?Near-Term Effects of
Voluntary Summer
Learning Programs on Low-Income Students’ Learning Opportunities and
Outcomes. California: RAND Corporation.
Meikasari, Yurine dan Listiadi, Agung.
2016. Pengembangan Game “Bingo Accounting”
sebagai Media Pengayaan pada Materi Jurnal Penyesuaian Perusahaan Jasa di SMK
Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. Surabaya: Jurnal Pendidikan. Vol. 04, No. 03.
Murphy, et.al. 2014. Handbook on Innovations in Learning.
America: Information Age Publishing.
Nugroho, M.Y.A. 2018. Cerita Fiksi Sebagai Bacaan Pengayaan
Pembelajaran Sains di Sekolah. Jawa Tengah: Jurnal PROSIDING Seminar
Nasional Pendidikan Fisika. Vol. 1, No. 1, ISSN: 2615-2789.
Olenchak, F.R. 1995. Effects of Enrichment on Gifted/
Learning-Disabled Students. Virginia: Journal for the Education of the
Gifted. Vol. 18, No. 4.
Reis, S.M., Marcia, G and Maxfield,
L.R. 1998. The Application of Enrichment
Clusters to Teachers' Classroom Practices. Mankato: Journal for the
Education of the Gifted. Vol. 21, No. 3.
Renzulli, et.al.
2014. Enrichment Clusters a Practical
Plan for Real-Word, Student-Driven Learning. Texas: Prufrock Press.
Roberts, Julia L. 2005. Enrichment Opportunities for Gifted
Learnes. Texas: Prufrock Press.
Sagala, Syaiful. 2017. Human Capital : Membangun Modal Sumber Daya
Manusia Berkarakter
Unggul Melalui Pendidikan Berkualitas. Depok:
KENCANA.
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat.
Jakarta : PT. Grasindo.
Sumantri, M.S. 2015. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktek di
Tingkat Pendidikan Dasar. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Soewarno, dkk. 2016. Pelaksanaan Program Remedialdi SD Negeri Cot
Baroh Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie. Aceh: Jurnal Ilmiah
Mahasiswa FKIP Unsyiah. Vol. 1, No. 1.
Syamsi, Atikah. 2007. Implementasi Program Remedial Teaching di
Kelas Akselerasi SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Yogyakarta: Jurnal
Pendidikan Agama Islam. Vol. IV, No.1.
Tjahjadarmawan, Elizabeth. 2017. Best Practice Guru dalam Tugas Pembelajaran
di Sekolah. Yogyakarta: CV Budi Utama.
Komentar
Posting Komentar