MODEL PEMBELAJARAN PENGAYAAN




BAB I PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang


Semua siswa memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran. Namun begitu, hasil pembelajaran antara siswa satu dan siswa lainnya seringkali berbeda. Di satu sisi, ada siswa kurang cepat menguasai suatu materi, sementara di sisi lain ada juga siswa yang dapat menguasai kompetensi yang diharapkan dengan cepat dan bahkan melampauinya. Oleh karena itu, guru mesti memperlakukan siswa sesuai dengan kemampuan masing-masing. Keberhasilan suatu pembelajaran dapat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru. Jika pendekatan pembelajarannya menarik dan terpusat pada siswa, maka motivasi dan perhatian siswa akan terbangkitkan sehingga akan terjadi interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan guru sehingga kualitas pembelajaran akan meningkat.

Dalam hal ini, kita kemudian mengenal program remidial dan pengayaan. Remidial diberikan kepada siswa yang belum memenuhi kompetensi dasar yang diharapkan. Sementara pembelajaran pengayaan diberikan bagi siswa yang sudah menguasai standar kompetensi. Program remidial dan pengayaan ini bisa diterapkan dalam semua mata pelajaran, termasuk dalam mata pelajaran sains, yang meliputi kimia, biologi, fisika. Terdapat beberapa jenis program pembelajaran pengayaan, yang semua itu memiliki tujuan yang sama, yakni dalam rangka memperluas wawasan dan pengalaman peserta didik. 

Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaksi, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut tidak jarang pula dijumpai peserta didik yang memerlukan tantangan berlebih untuk mengoptimalkan perkembangan prakarsa, kreatifitas, partisipasi, kemandirian, minat, bakat, keterampilan fisik, dan sebagainya. Untuk mengantisipasi potensi lebih yang dimiliki peserta didik tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran pengayaan.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1.    Untuk mengetahui pengertian dan konsep pengayaan.

2.    Untuk mengetahui pentingnya program pengayaan.

3.    Untuk mengetahui tujuan program pengayaan.

4.    Untuk mengetahui fungsi program pengayaan.

5.    Untuk mengetahui jenis-jenis program pengayaan.

6.    Untuk mengetahui model-model program pengayaan.

7.    Untuk mengetahui prinsip-prinsip program pengayaan.

8.    Untuk mengetahui keterkaitan KKM terhadap program pengayaan.

9.    Untuk mengetahui langkah-langkah pelaksanaan program pengayaan.







































BAB II PEMBAHASAN


2.1 Kajian Pustaka 


2.1.1 Pengertian dan Konsep Pengayaan


Menurut Sumantri (2015: 437-439), dalam kurikulum dirumuskan secara jelas Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan KI dan KD setiap peserta didik diukur dengan menggunakan sistem Penilaian Acuan Kriteria (PAK). Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu, maka peserta didik tersebut dipandang telah mencapai ketuntasan.

Oleh karena itu program pengayaan dapat diartikan: memberikan tambahan/perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum. 

Metode yang digunakan dapat bervariasi sesuai dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Dalam program pengayaan, media belajar harus betul-betul disiapkan guru agar dapat memfasilitasi peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan (Bafadal, 2013 dalam Sumantri, 2015).

Menurut Syamsi (2007: 108), perbedaan kecerdasan yang dimiliki masingmasing individu bisa terakomodir dengan baik manakala diberikan wadah yang sesuai porsinya. Dengan maksud, untuk dapat melayani peserta didik tersebut, ada program layanan pendidikan khusus yakni program pengayaan (enrichment) dan program percepatan belajar (acceleration). Program pengayaan (enrichment) diberikan kepada peserta didik cerdas istimewa yang bertipe “enriched learner”.

Menurut Akbar dan Hawadi (2010: 60), istilah diferensiasi memiliki ikatan dengan istilah enrichment (pengayaan) atau akselerasi (percepatan). Enrichment (pengayaan) dilakukan berdasarkan pada karakteristik siswa. Program pengayaan memilki tujuan untuk mendukung kurikulum siswa secara lebih dalam atau lebih luas, daripada kurikulum yang ada pada umumnya. Cara menerapkan program pengayaan dapat menggunakan kelas hari sabtu, ruang-ruang sumber belajar, penambahan dari kelas regular, kelompok minat khusus, dan sebagainya.

Menurut Nugroho (2018: 63), pembelajaran pengayaan adalah memperkaya ilmu pengetahuan atau memperluas ilmu pengetahuan siswa dengan memberi tugas tambahan, baik tugas yang dikerjakan di rumah maupun tugas yang dikerjakan di lingkungan sekolah. Program pengayaan dapat diartikan juga sebagai kegiatan memberikan tambahan, perluasan pengalaman atau kegiatan peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum. Peserta didik yang sudah melampaui ketuntasan belajar maka perlu diberikan tambahan pengetahuan dan atau pengalaman pembelajaran yang lebih dibanding mereka yang belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan. Dalam hal ini, guru mesti menyiapkan program pembelajaran pengayaan yang mendukung perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik.

Menurut Izzati (2015: 57), program pengayaan merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi yang berarti mereka adalah peserta didik yang tergolong cepat dalam menyelesaikan tugas belajarnya (Sugihartono, 2012). Sedangkan menurut Prayitno (2008) dalam Izzati (2015: 57), kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliknya dalam kegiatan pembelajaran sebelumnya. 

According to Reis, et.al (1998: 312-314), the enrichment clusters, one component of the Schoolwide Enrichment Model are nongraded groups of students who share common interests and who come together during specially designated time blocks during the school week to work with an adult whose shares their interests and who has some degree of advanced knowledge and expertise in that area. 

The model for learning used with enrichment clusters is based on an inductive approach to solving real-world problems through the development of authentic products and services. Unlike traditional, didactic modes of teaching, this approach, known as enrichment learning and teaching, creates a learning situation that involves the use of methodology, develops higher order thinking skills, and authentically applies these skills in creative and productive situations.

Enrichment clusters are not intended to be the total program for talent development in a school or to replace existing programs for talented youth. Rather, they are one vehicle for stimulating interests and developing talent potentials for the entire school population.

Menurut Tjahjadarmawan (2017: 17-18), siswa yang terpilih untuk mendapatkan pembelajaran pengayaan adalah orang yang nilainya di atas KKM. Kendalanya adalah siswa yang memenuhi syarat dapat berbeda untuk SK yang berbeda. Bahkan ada beberapa siswa  yang nilainya tidak pernah memenuhi syarat sehingga hanya sebagai peserta belajar saja. Seringkali waktu pelaksanaan program pengayaan dalam kelas ini kurang memadai sehingga guru perlu menambah waktu pada kegiatan ekstrakurikuler sains. Alasan untuk hal ini adalah banyaknya materi yang perlu dipelajari. 

Menurut Sagala (2017: 364), program belajar yang membelajarkan peserta didik dimulai dari merancang model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan materi pelajaran yang sedang dipelajari, hal ini dilakukan oleh guru sesuai karakteristik dan kebutuhan belajar siswa, salah satunya adalah program pengayaan bagi peserta didik yang mengalami percepatan dalam belajar. Program pengayaan dilakukan dengan menambah atau memperkaya materi untuk mereka, memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih kreatif, memberi latihanlatihan tentang penggunaan teknologi ringan, memanfaatkan mereka menjadi tutor bagi teman-temannya dan sebagainya. Karakter yang dibagun adalah komitmen yang kuat melakukan penilaian hasil belajar dengan memantapkan kriteria, prosedur, dan teknik penilaian yang sifatnya standar.

Menurut Semiawan (1997: 145), istilah eskalasi menunjuk pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program pengayaan materi. Seperti juga akselerasi, eskalasi dapat mengambil dua bentuk, yaitu pengayaan kurikulum dalam arti memperoleh pengalaman belajar yang lebih berarti dan mendalam dalam mata pelajaran/suatu mata kuliah atau latihan tertentu serta pengayaan dalam arti pertambahan berbagai layanan program tertentu.

Pengayaan dapat dijadikan secara horizontal dan vertikal. Pengalaman horizontal menunjuk pada pengalaman belajar di tingkat pendidikan yang sama, tetapi bersifat lebih luas, sedangkan yang vertikal makin meningkat dalam kompleksitas. Program pengayaan yang beranjak dari konsep eskalasi bermaksud menyajikan kurikulum yang lebih dalam dan luas yang dapat diwujudkan melalui kurikulum berdiferensiasi.

1.    Apa Saja yang dapat Dilakukan dalam Program Pengayaan? 

Guru bisa memberikan pendalaman dan perluasan dari KD yang sedang diajarkan atau memberikan materi dalam KD yang berikutnya. 

2.    Mengapa Diperlukan Program Pengayaan? 

Berdasarkan Permendikbud No. 54, 64, 65, 66 dan 67 Tahun 2013 pada dasarnya menganut sistem pembelajaran berbasis aktivitas atau kegiatan. kompetensi, sistem pembelajaran tuntas, dan sistem pembelajaran yang memerhatikan dan melayani perbedaan individual peserta didik. Dengan memerhatikan prinsip perbedaan individu (kemampuan awal, kecerdasan, kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, gaya belajar) tersebut, maka program pengayaan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam program pengayaan, guru memfasilitasi peserta didik untuk memperkaya wawasan dan keterampilannya serta mampu mengaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. 

3.    Kapan Dilakukan Program Pengayaan? 

Program pengayaan ketika peserta didik teridentifikasi telah melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum. Guru perlu mengantisipasi dengan menyiapkan program-program atau aktivitas yang sesuai KD untuk memfasilitasi peserta didik. 

4.    Bagaimana Program Pengayaan Dilakukan? 

Program pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah melampaui ketuntasan belajar dengan memerlukan waktu lebih sedikit dari pada teman-teman lainnya.

5.    Siapa yang Terlibat dalam program pengayaan?

Yang melakukan identifikasi, perencanaan dan pelaksanaan program pengayaan adalah guru kelas. Apabila diperlukan, guru dapat melakukan kerja sama dengan narasumber (apabila dibutuhkan) dalam melaksanakan program pengayaan. Waktu yang masih tersedia dapat dimanfaatkan peserta didik untuk memperdalam/memperluas atau mengembangkan hingga mencapai tahapan networking (jejaring) dalam pendekatan ilmiah (scientific approach). Guru dapat memfasilitasi peserta didik dengan memberikan berbagai sumber belajar, antara lain: perpustakaan, majalah atau koran, internet, narasumber/pakar, dan lain-lain. 

According to Beecher anf Sweeny (2008: 509-511), A Rationale for Schoolwide Enrichment, The school’s mission reflected the school community’s desire to provide all students with access to an engaging, stimulating, and enriched learning environment where they could thrive and grow. Enrichment is often regarded as something extra, a nonessential frill that is not considered during serious discussions about student achievement. Yet, ignoring this critical component of instruction belies the importance of student engagement and motivation to learn and the dynamic quality that occurs when this energy exists in the learning environment. When students’ interests and choices related to their own learning are considered, engagement in learning is enhanced (Reis & Fogarty, 2006; Siegle & McCoach, 2005). Many children at Central Elementary lacked a desire to learn; they could not make connections to the curriculum, and they felt isolated from the learning environment. 

The field of gifted education has embraced the concept of designing curriculum that considers students’ talents and interests and uses those strengths to extend, expand, and accelerate learning. Both the curriculum and program delivery services can be enriched, with the intention of designing learning experiences that are responsive to the learning characteristics of specific students (Schiever & Maker, 1997). Enriched curriculum may be broader or more in depth than the regular curriculum, and may extend beyond the traditional school day (Schiever & Maker, 1997). 

The concept of enrichment teaching and learning with an emphasis on curriculum differentiation became a focus of teachers’ efforts to create rigorous, engaging units of study. Enrichment teaching and learning are cornerstones of the Schoolwide Enrichment Model (SEM; Renzulli & Reis, 1985) and its precursor, the Enrichment Triad Model (Renzulli, 1977), which is subsumed within SEM.

SEM was chosen for use at Central Elementary School in part because it is “the best known and most widely used enrichment model” (Davis & Rimm, 2004, p.

165) in gifted education. 

The Enrichment Triad Model (Renzulli, 1977; Renzulli & Reis, 1985) provided the structure for infusing enrichment into different parts of the school day and curriculum. This model is composed of three types of enrichment, each designed to accomplish a different objective. Type I experiences and activities are designed to expose students to a wide variety of disciplines, topics, or issues not ordinarily covered in the regular classroom. Type II enrichment includes instructional methods and materials that promote the development of thinking and feeling processes, such as creative thinking, problem solving, critical thinking, affective training, and learning how to learn (e.g., interviewing and classifying). Type III enrichment includes investigative activities and artistic productions in which the learner assumes the role of a firsthand inquirer, with the student thinking and acting like a practicing professional (Renzulli, 1977; Renzulli & Reis, 1985). 

The specific initiatives related to enrichment teaching and learning and differentiation included the following :

1.    A Schoolwide Enrichment Team; 

2.    Interdisciplinary, differentiated units of study.

3.    Differentiated lesson plans across the curriculum.

4.    Extended day enrichment program.

5.    Comprehensive staff development plan.

6.    Accountability and assessment measures. 

A detailed description of each of these initiatives follows.

The Schoolwide Enrichment Team, Team A Schoolwide Enrichment Team composed of parents and teachers worked with teachers to determine the types of enrichment needed and located Type I enrichment experiences for different groups and purposes. The student audience for Type I enrichment included the whole school, one grade level, a class, a small group of students, or one child. The purpose was always the same: to enrich the lives of students by expanding their world and creating a sense of curiosity and wonder. Many Type I experiences were linked to the curriculum in order to build background knowledge for at-risk students. These experiences created an energy and excitement for learning. The dancer from India, the Japanese drummer, the children’s author, the parent from Cuba who shared pictures and memorabilia from her home country, an Internet simulation of weightlessness on the moon, and many others brought the outside world into the classroom. The work of the team resulted in a multiyear connection to a local theater that brought the arts into all classrooms and evening family programs to the school. 

The results of this effort were noticeable: Children’s expressive language improved when they talked to the teacher and their peers about their shared experiences. Children whose reading ability was below grade level began to seek out and read books related to the topics being discussed. The English Language Learners’ (ELLs) receptive vocabulary allowed them to gain knowledge and become more active participants in the classroom. The students engaged guest speakers with numerous questions and frequently searched for more information on the topics presented.

Identify regional gaps in enrichment programs. As discussed above, enrichment programs are not currently available to all students who want to enroll in them, and the students who do enroll are often drawn from wealthier groups (Gardner, Roth, & Brooks-Gunn,2009), in part due to regional disparities. While some of the factors leading to these differences are difficult to address (e.g, parental choice and funding choices made by private foundations and individuals), better data on where the need are may help to influence the allocation of government resources and potential private funding  as well. By identifying the number of  at-risk students and students  likely to benefit  from programs , and comparing  these numbers to the avalilability of programs slots in different regions, SEAs will be able to identify which regions have an insufficient quantity of enrichment programs and support program expansion and creation. Simply publishing  data on where need exist likely to influence funding decisions, not just by private foundations and individuals but by programs funded by the federal government. For example, federal programs like National Science Foundation’s ITEST might before likely to fund programs in specific regions declared in need by SEAs than in regions shown to have a relative oversupply of enrichment programs.

Learning analytics may also have the potential to identify more quickly which enrichment programs are working. If and enrichment program is provided to elementary school students, any evidence of its effect on hight school dropout rates or college attendance is a distant prospect (Murphy, dkk, 2014 : 188).

Sites selected their own enrichment classed , typically art, music, dance, and physical education. Enrichment was offered by district teachers  (all sites), CBO after-school partnerbstaff (two sites), and professional teaching artists (two sites). Students also participated in an end of program field trip to DisneyQuest and a culminating production such as a performance or a play to which families were invited.

Each winter the district central office team hired staff who planned for and managed the camps. This inclued contracting with 21 community based organization to provide enrichment programming and hiring camp counselors who would assist teachers and students during academic class sessions in the summer.

Twenty one CBO provided 26 different enrichment opportunities for various groups of students scheduled throughout the day. After luch and recess, students partcipated in two blocks of enrichment activities with options such as judo, fencing, science, and visual and performance art.

The central office staff member coordinated enrichment activities offered by CBOs as well as district staff. Enrichment activities, which varied by house and occured on a rotating schedule, inclued rock climbing, culinary arts, swimming, phisycal education, art, music, African dance and drumming, theater, dance and yoga.

In 2013, the program operated for 25 days, with 24 days of instruction. The program was split into three house and the district intended for each house to offer 80 minutes of language arts, 80 minutes of mathematic and 40 minutes of targeted reading instruction. Students participated in two enrichment blocks each day, the dustrict for each of these to be 80 minutes, for 160 minutes of enrichment activities perday (Sloan, dkk, 2014: 30-32).

From a broad and long-term perspective, the developmental trajectory of  GATE has been evolved from seeking equality to pursuing equity and excellence, from nurturing the academic elites to developing a variety of talent of all students, and from feeding scattered pieces of enrichment programs to providing systematic and comprehensive education. Rather than  the theoritical principal, the major reasons that  led to the development of gifted education in different countries are based on the need of the country, of an individual and of education reform.

It is recognized that national strenght relies on human power, which in turn comes from a hight quality of education. Thus, GATE becomes a necessary tool for identifying and nurturing students with excellent mental endowments. These student  are gives an enrichment learning program that helps them maximize their gift and allow them to become major contriburors to the society. Therefore, identifying and developing gifted and talented students throught scientific and bias-minimized assesment, differentiated curricula, and enriched learning opportunities in a culturrally diverse environtment become urgent and importants educational issues. All type of gate program in terms of special needs students with chalenging and enriching opportunities for potential development.

Furthermore, the traditional education system in oriental society stresses the role of memorization and bookish teaching. GATE gives value to creative, crtical, and practical thinking. It may bring a tide of innovation and reform in the total school system involving all teachers as launched by Bragget (2000). Using the old saying , “a rising tide lifts all ship”. Renzulli (2000) illustrates the quality of education by applying gifted education know-how to meet the needs of the development of hught potential in all students (Dai dan Kuo, 2016: 34).

2.1.2 Pentingnya Program Pengayaan


Enrichment describes experiences inside and outside the classroom that provide opportunities to learn above and beyond what is usually provided  at a particular grade level. Enrichment is difined by Webster’s Dictionary as making something rich or richer, especially by the addition or increase of some desirable quality, attribute or ingredient.

For this publication, the term enrichment refers to modifications a teacher makes to go above or beyond the regular curriculum for students or clusters of students who need advanced learning oppotunities, and it includes programs or services that spark interest and develop skills and expertise both within the school and beyond in the local or broader community.

Enrichment comes in many configuration and can be delivered as various services to students. What they all have in common is that they offer opportunities to engage the learner beyond what is traditionally available at a particular grade level. Some configuration offer enrichment to one child, a pair of students, a cluster of children, or a class that has been grouped by interests, needs, and abilities.

Enrichment provides students  with opportunities to extend leraning. There are three primary purpose for enrichment: fostering interest, nurturing talent, developing expertice, or both: and increasing achievement. Enrichment opportunities may address one, two, or all three of these purposes.

Reason 1 : Fostering interest

How do students discover possibiities relating to an idea or a field of study?

Where do they find interest about which they may become passionate?

The first step in nurturing an interest is having an experience with the topic. That experience may be fisrthand, or it may be the result of reading, attending a lecture or presentation, or learning about a topic, carreer, or special interest in a myriad of ways. Since various enrichment opportunities are planned by teachers, parents, and the students themselves, it is important to vuew enrichment as occuring in classroom, in extracurricular activities sponsored by the schools, and in the community and beyond.

Reason 2 : Nurturing Talent, Developing Expertise, or Both

How do students move to the next level in their talent area? How do they acquire in an area of interest?

Of course, a partial answer to these question depends upon the individual’s passion to move to the next level of talent or expertise and his or her willingness to work  hard to do so. Attending outstanding performance of talent and interacting with experts, they find stimulating ideas to pursue. Just imagine the benefits to a young person who conduct research alongside a specialist in her field of expertise or learn music from a professional who can share his passion for a particular instrument.





Reason 3 : Increasing Achievement

How do students increace their achievement in a content area in which they are already way ahead of their agemates?

Without appropriate learning opportunities both in and outside of school, children may not achieve at the level that aquates to their potential. This gap between achievement and potential is truly an achievement gap that cannot be tolerated. Eliminating this achievement gap willbenefits both the individual and the community-local, state, national, and global. The U.S. Commision on National Security for te 21st Century  noted in its report Road Map for National Security : Impertive for Change. This gap between opportunities to learn and achievement potential can be seen in all content and talent areas. The gap is the widest when the teacher believes that grade level achievement gap for those who are gifted and talented will certainly include enrichment (Robert, 2005: 5-9).

2.1.3 Tujuan Program Pengayaan


According to Renzulli, dkk (2014), enrichment clusters are students centered-directed by students interest and the development of authentic product for real audiences and based on both common sense and research challenging the assertion that important intellectual growth can only be charted throught an information transfer and standardized testing approach to education. 

The main purpose of depeloving an enrichment cluster program is to create a time and a place within the school week for students-driven learning to be on the front burner of students and teachers activity. Althought we would like to see more of this type of learning infused into the overall curriculum, the external forces that dominate most schools are simply too powerful to allow for massive immediate change. Educational change seldom takes place at the center of things, instead, it evolves on the frings where dedicated people exercise their judgment in the best interest of the young people for whom they are responsible. And succesful change occuring on the edges has been found to seep foward the center. In the research we conducted on enrichment clusters, we found that many of the strategies teachers used to facillitate enrichment clusters found their way into everyday teaching practices in regular classroom. Through strategies such as creative compliance and the infiltrator model of school change, we have witnessed remarkable changes taking place in mainstream classroom.

The specific skills that are the goals of high end learning include developing the ability to :

1.    Find and focus a problem that has personal relevans to the individuals or groups

2.    Distinguish between problem-specific, relevant, and irrelevant information, identify bias in information sources, and transform factual information into usable knowledge that will help solve the problem

3.    Plan tasks that address the problems, sequence events in their most logical and practical order for attacking the problem, and consider alternative courses of action and their possible consequense

4.    Monitor one’s understanding at each level of involvement and assess the methodological skills (process), and human or material resources

5.    Notice pattern, relationship, and disrepancies in the information gathered and use this information to refine tasks for addressing the problem and drawing comparisons and analogies to other problems

6.    Generate reasonable arguments and explanations for each decision and course of action

7.    Predict outcomes, apportion time, money, and resources, value the contributions of others to the collective effort, and work copperatively for the common good of the group

8.    Examine ways in which problem-solving strategies from one situation can be adopted in or adapted to other problem-solving situations (transfer of learning), and

9.    Communicate in lively and professional ways to different audiences and in different genres and formats.

2.1.4 Fungsi Program Pengayaan 


Menurut Masbur (2012: 352), fungsi pengayaan yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya. Adanya daya dukung fasilitas teknik, serta sarana penunjang yang di perlukan. Sasaran pokok fungsi ini ialah agar hasil remedial itu lebih sempurna dengan diadakannya pengayaan. Semakin banyak hasil belajar yang diperoleh dan semakin dalam ilmu yang didapat, maka prestasi belajarnya pun semakin meningkat.

Menurut Soewarno, dkk (2016: 5), pengayaan dan pengukuhan (encrichment dan reinforcement), layanan pengayaan ditunjukan pada peserta didik yang mempunyai kelemahan ringan secara akademik, mungkin peserta didik itu cerdas. Program ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas rumah atau tugas yang dikerjakan di kelas pada saat pembelajaran berlangsung.

2.1.5 Jenis-jenis Program Pengayaan 


Menurut Sumantri (2015: 439), jenis-jenis program pengayaan yaitu :

1.    Kegiatan eksploratori yang masih terkait dengan KD yang sedang dilaksanakan yang di rancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian yang dimaksud contohnya: bisa berupa peristiwa sejarah, buku, narasumber, penemuan, uji coba, yang secara reguler tidak tercakup dalam kurikulum.

2.    Keterampilan proses yang di perlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran sendiri 

3.    Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. 

Pemecahan masalah di tandai dengan:

a.      Identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan; 

b.      Penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan; 

c.      Penggunaan berbagai sumber; 

d.      Pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan; 

e.      Analisis data; 

f.       Penyimpulan basil investigasi. 





According to Al-Zoubi (2014: 24), this enrichment program consisted of three levels:  

1.    Exploring activities that include general exploring activities that aim at providing the appropriate environment for the talented students to deal with the school subjects that interest them.

2.    Guided activities towards a certain skill, which include the techniques and the strategies that aim at developing thinking processes.

3.    And finally problem solving that include research activities and art and literary activities.

Menurut Semiawan (1997: 147-151), berbagai modifikasi bisa terkait dengan konten maupun proses pembelajarannya. Program pengayaan kurikulum juga bertujuan memberikan layanan materi yang lebih mendalam dan lebih meluas daripada yang umumnya terjadi.

Renzulli yang terkenal dengan triad model-nya yang mencakup kemampuan intelektual, kreativitas dan keterlekatan terhadap tugas, menyajikan dimensi pengalaman merangsang, seperti pengkajian masalah riil, umpamanya polusi; menulis surat kepada redaksi, surat kabar, memberitahukan sesuatu kejadian yang tidak adil. 

Howley, dkk. (dalam Schiever, dkk., 1991; Colangelo dan Davis, 1991) menunjuk pada tiga pendekatan pengayaan, yaitu:

1.    Berorientasi pada proses.

2.    Berorientasi pada konten.

3.    Berorientasi pada produk. 

Belajar proses (process learning) menunjuk pada bagaimna mempelajari sesuatu, sedangkan belajar konten menunjuk kepada apanya (konten, materinya) yang harus dipelajari, sedangkan orientasi produk menunjuk pada hasil ciptaannya. Belajar proses tanpa konten tidak menghasilkan peningkatan mental, karena berpikir itu tidak dapat diisolasikan dari kontennya. Sebaliknya, belajar konten materi apa saja tanpa memperhatikan prosesnya menemukan jalan buntu juga, karena serba hafalan pengetahuan itu akhirnya menjadikan pengetahuan sesaat. Orientasi pada produk terutama mengacu pada hasil karya tertentu sehingga laporan novel atau karya lain dan meningkatkan tingkat berpikir tinggi.

Stanley menghindari pendekatan pengayaan yang bersifat umum dengan mempersempit konsepnya. Sedangkan Renzulli mempertegas pengayaan itu dengan model pengayaan triadik (triadic enrichment model) yang menekankan pada proses operasional identifikasi dengan “membuka pintu” (identification revolving door), sehingga menjadikan si pemebelajar seorang peneliti yang kompoten (RDIM).

Dalam layanan perkembangan intelek yang kreatif, yang mencakup keterampilan berpikir dan perilaku yang kreatif, diperlihatkan bahwa pendapat :

1.    Perbedaan individual yang kreatif

2.    Perbedaan individual kepekaan terhadap latihan kreatif.

3.    Perbedaan individual terhadap motivasi untuk berkrasi.

4.    Suasana belajar.

5.    Keterampilan berpikir kreatif  yang tidak selalu harus diajarkan dalam suatu bidang studi atau bidang ilmu tertentu. 

Menurut Nugroho (2018: 64), adapun jenis-jenis pembelajaran pengayaan bisa berupa kegiatan eksploratori, keterampilan proses, dan bisa pula berupa pemecahan masalah. Kegiatan eksploratori dirancang guru untuk disajikan kepada peserta didik. Kegiatannya bisa berupa peristiwa sejarah, buku, narasumber, penemuan, uji coba, yang secara reguler tidak tercakup dalam kurikulum. Sementara keterampilan proses yakni kegiatan yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri. Sedangkan jenis pembelajaraan pengayaan pemecahan masalah diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif berupa penelitian ilmiah.

According to Aljughaiman and Ayoub (2015: 101), enrichment programs, during the emergence of educational reform movements in the mid-twenties, educational systems in developed countries (e.g., USA and European countries) began to devise educational programs to meet the needs of gifted students (Davis & Rimm, 2010; Ferguson, 2009). Over time, enrichment programs became the most prominent kind of school programs in the education of gifted students. Such programs have had an increasingly broad influence because of their wide adoption internationally (Feldhusen, 1994, 1997; Olenchak & Renzulli, 1989; Reis, Eckert, McCoach, Jacobs, & Coyne, 2008; Renzulli, 2005). The structure and content of enrichment programs are flexible enough to account for the various needs of the gifted, differing environmental conditions, human and financial potentials, and a range of educational policies and administrative systems. Many researchers (Davis & Rimm, 2010; Karnes & Bean, 2009) have identified various forms of enrichment programs through which attention can be provided to the needs of the gifted, most prominent among them being gifted boarding academies, gifted schools, gifted classes, pull-out programs, summer camps, weekend programs, and afternoon programs.

2.1.6 Model-model Pengayaan 

Menurut Akbar dan Hawadi (2010: 60-62), ada beberapa model pengayaan, yaitu model Renzulli, model IPPM Treffinger, model purdue Three-stage, dan model Antonomous learner.

1.    Model Renzulli

Model pengayaan Renzulli (1997) dibuat untuk menyediakan variasi pengalaman pengayaan.Model ini menyediakan tiga tipe pengayaan yang mendukung pegalaman dan proses latihan untuk semua siswa disekolah. Siswa berbakat akan merespon pengalaman mereka dalam memecahkan masalah nyata, yang selanjtnya akan mengembangkan produk nyata. Tiga tipe tersebut adalah sebagai berikut.

a.    Pengayaan tipe I yang melibatkan pengalaman secara umum. Pengayaan tipe I ini menunjukkan kepada siswa tentang topik-topik baru, gagasangagasan dan pengetahuan yang tidak tertulis dari kurikulum regular.

b.    Pengayaan tipe II lebih menekankan pada kegiatan latihan kelompok. Latihan kelompok ini merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan proses kognisi dan afeksi. Kegiatan ini diterapkan pada seluruh siswa, bukan hanya siswa berbakata.

c.    Pengayaan tipe III digunakan untuk meneliti individu dan kelompok kecil pada masalah nyata. Kegiatan pengayaan tipe ini biasanya diterapkan pada kelas khusus dan ditangani oleh guru-guru yang memang dilatih secara khusus untuk anak berbakat.

2.    Model IPPM Treffinger

Model ini lebih menekankan pada proses identifikasi untuk merencanakan program studi individu anak berbakat berdasarkan bakat, kekuatan, dan minatnya. Model ini juga menekankan pengembangan keterampilan secara bebas dan keberbakatan yang mandiri.

3.    Model Purdue Three-stage

Model ini dikembangkan oleh Feldhusen dan Kollof (1979). Model ini diterapkan dalam ruang khusus dengan kelompok kecil antara 8-15 anak berbakat. Anak mengikuti kurikulum yang difokuskan pada keterampilan berpikir dan dasar-dasar suatu mata pelajaran.

4.    Model Antonomous Learner

Model ini dikembangkan oleh Betts (1986). Model ini berusaha untuk menemukan kebutuhan akademik, social, emosional anak berbakat, yang bertujuan untuk menjamin kebebasan anak berbakat dan bertanggung jawab terhadap belajarnya.

2.1.7 Prinsip-prinsip Program Pengayaan


Menurut Sumantri (2015: 440-441) dikutip dari Ibrahim Bafadel (2013), prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan adalah : 1. Inovasi

Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik. 

2.    Kegiatan yang memperkaya

Dalam menyusun materi dan mendesain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya. 

3.    Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi  Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitasaktivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil pene- litian atau kemajuan program-program pendidikan terkini. 

Menurut Sumantri (2015: 440-441) dikutip dari Passow (1993) dalam Ibrahim Bafadal (2013) menyarankan bahwa dalam merancang program pengayaan, penting untuk memerhatikan tiga hal :

1.    Keluasan dan kedalaman dari pendekatan yang digunakan pendekatan dan materi yang diberikan tidak hanya berisi yang luarnya (kulit-kulitnya) saja tetapi diberikan dengan lebih menyeluruh dan lebih mendalam. Contoh: membahas mengenai prinsip Phytagoras, tidak: hanya memberikan rumus dan pemecahan soal saja tetapi juga memberikan pemahaman yang luas dari mulai sejarah terbentuknya hukum-hukum Phytagoras dan bagaimana penerapan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

2.    Tempo dan kecepatan dalam membawakan program 

Sesuaikan cara pemberian materi dengan tempo dan kecepatan peserta didik dalam menangkap materi yang diajarkan. Hal ini berkaitan dengan kecepatan daya tangkap yang dimiliki peserta didik sehingga materi dapat diberikan dengan lebih mendalam dan lebih dinamis untuk menghindari kebosanan karena peserta didik yang telah menguasai materi pembelajaran yang diberikan di kelas.

3.    Memerhatikan isi dan tujuan dari materi yang diberikan

Hal ini bertujuan agar kurikulum yang dirancang lebih tepat guna dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Renzulli (1979) menyatakan bahwa program pengayaan berbeda dengan program akselerasi karena pengayaan di rancang dengan lebih memerhatikan keunikan dan kebutuhan individual dari peserta didik.

According to Renzulli in Olenchak (1995: 389), the principles of enrichment learning and teaching :

1.    Each learner is unique, and therefore, all learning experiences must be examined in ways that take into account the abilities, interests, and learning styles of the individual. 

2.    Learning is more effective when students enjoy what they are doing, and therefore, learning experiences should be constructed and assessed with as much concern for enjoyment as for other goals. 

3.    Learning is meaningful and enjoyable when content (i.e., knowledge) and process (i.e., thinking skills, methods of inquiry) are learned within the context of a real and present problem, and therefore, attention should be given to opportunities to personalize student choice in problem selection, the relevance of the problem for individual students at the time the problem is being addressed, and strategies for assisting students in personalizing problems they might choose to study. 

4.    Some formal instruction may be used in enrichment learning and teaching, but a major goal of this approach to learning is to enhance knowledge and thinking skill acquisition gained through teacher instruction with applications of knowledge and skills that result from students’ construction of meaningfulness.

Menurut Nugroho (2018: 63), agar pembelajaran pengayaan dapat bermakna bagi siswa maka perlu diperhatikan beberapa prinsip, sebagaimana dipaparkan oleh Khatena (1992), yakni inovasi, kegiatan yang memperkaya, memperkenalkan metodologi yang luas dan lebih kaya.Guru dituntut untuk berinovasi dengan tetap memperhatikan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik. Pembelajaran pengayaan antara satu peserta didik dengan peserta didik lain bisa jadi berbeda, tergantung minat dan karakteristik peserta didik tersebut. Pembelajaran pengayaan juga mesti ditujukan dalam rangka memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan wawasan peserta didik. 

Pembelajaran pengayaan bersifat menyenangkan, membangkitkan minat, mengajak berpikir kritis, dan meningkatkan daya imajinasi. Apa yang disebutkan terakhir, yakni meningkatkan imajinasi,memang jarang disebut, meski sebenarnya sangat penting dalam mengembangkan ilmu-ilmu sains yang telah dikuasai.Oleh sebab itu, sekali lagi, guru perlu merencanakan secara matang pembelajaran pengayaan yang akan diberikan kepada siswa dengan rancangan metode-metode yang (playful).

2.1.8 Keterkaitan KKM terhadap Program Pengayaan


Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Dalam menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama antara kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek: karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung) pada proses pencapaian kompetensi (Malawi, dkk, 2015: 230).

Menurut Astiti (2017: 8), Kriteria–kriteria Ketuntasan Minimal tersebut antara lain :

a.    Karakteristik Mata Pelajaran (kompleksitas)

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengetahui karakteristik mata pelajaran ini adalah menganai rumit tidaknya kompetensi yang harus dicapai siswa. Bila semakin besar usaha yang diperlukan siswa untuk mencapai kompetensi pada mata pelajaran tertentu berarti KKM-nya akan lebih kecil daripada semakin mudah siswa dalam mencapai kompetensi suatu mata pelajaran.

b.    Daya dukung

Daya dukung yang dimaksud adalah kondisi dan karakteristik yang ada disekolah, misalnya kelengkapan alat praktikum, kelengkapan peralatan belajar, fasilitas yang disediakan di sekolah, dan lainnya. Semakin lengkap daya dukung yang ada di sekolah maka besarnya KKM yang ditetapkan dapat lebih tinggi.

c.    Karakteristik Peserta Didik (intake)

Besar kecilnya nilai KKM juga dipengaruhi oleh karakter peserta didik. Hal yang dimaksud adalah dengan melihat input siswa. Diantaranya bagaimana motivasi belajar mereka, bagaimana dukungan orang tua terhadap kemajuan belajar, dan lainnya. Input dipilih melalui seleksi pendaftaran sebagai calon siswa yang mendaftar.

Adanya penetapan KKM tersebut menyebabkan terjadinya dua macam kegiatan tambahan yaitu kegiatan remedial dan pengayaan. Pengayaan merupakan kegiatan tambahan yang diberikan kepada peserta didik yang telah mendapatkan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain dengan memberikan tugas, materi ataupun soal tambahan kepada peserta didik. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat saat ini, hendaknya tenaga pendidik mampu memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut menjadi sebuah inovasi baru dalam pembelajaran misalnya dengan menerapkannya pada kegiatan pengayaan (Meikasari dan Listiadi, 2016: 2).

Pengayaan merupakan program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang telah melampaui KKM. Fokus pengayaan adalah pendalaman dan perluasan dari kompetensi yang dipelajari. Pengayaan biasanya diberikan segera setelah peserta didik diketahui telah mencapai KKM berdasarkan hasil PH. Pembelajaran pengayaan biasanya hanya diberikan sekali, tidak berulang kali sebagaimana pembelajaran remedial. Bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan dengan belajar mandiri atau kelompok (Malawi, dkk, 2015: 231).

2.1.9 Langkah-langkah Pelaksanaan Program Pengayaan


Langkah-langkah dalam program pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program pembelajaran remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian autentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan: penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat. Sehingga peserta didik sering kali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan guru dalam merencanakan dan memutuskan untuk melaksanakan program pengayaan (Sumantri, 2015: 442).

Menurut Majid (2014: 170-171), pelaksanaan program pengayaan terbagi menjadi dua yaitu : 1. Cara yang ditempuh

Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran tuntas, kondisi yang sebaliknya dari program remedial adalah akan selalu ada siswa-siswi yang lebih cepat menguasai kompetensi yang ditetapkan. Siswa-siswi inipun tidak boleh diterlantarkan. Mereka perlu mendapatkan tambahan pengetahuan dan atau keterampilan melalui program pengayaan sesuai dengan kapasitasnya.





Adapun cara yang dapat ditempuh diantaranya adalah :

a.    Pemberian bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD tertentu.

b.    Pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/ paragraf, dan sebagainya.

c.    Memberikan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan.

d.    Membantu guru membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.

2. Materi dan waktu pelaksanaan program pengayaan

a.    Program pengayaan diberikan sesuai dengan KD-KD yang dipelajari.

b.    Waktu pelaksanaan program pengayaan adalah :

1)   Setelah mengikuti tes/ujian KD tertentu.

2)   Setelah mengikuti tes/ujian blok atau kesatuan KD tertentu; semester tertentu. Khusus untuk program pengayaan yang dilaksanakan pada akhir semester ini, materinya juga hanya yang berkaitan dengan KD-KD yang terkait dengan blok terakhir dari blok-blok yang ada pada semester tertentu.

Menurut Sumantri (2015: 442) dikutip dari Winner, 1996, dalam Santrock (2007), mengemukakan karakteristik peserta didik yang berbakat antara lain : 

1.    Peserta didik berbakat biasanya cermat dalam setiap hal ataupun kesempatan di mana mereka harus menggunakan kemampuannya. Mereka adalah anak-anak yang selalu menjadi yang pertama dalam menguasai suatu pelajaran dengan usaha yang juga minimal dibandingkan teman-teman atau peserta didik-peserta didik yang lain yang dikarenakan mereka sejak lahir memiliki kemampuan yang tinggi dalam satu atau beberapa bidang. 

2.    Dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik yang berbakat dapat berhasil memecahkan masalah secara tepat dengan cara yang ia kembangkan atau ia temukan sendiri. Peserta didik yang berbakat dapat menangkap atau lebih menyukai petunjuk yang tidak eksplisit dibandingkan dengan peserta didik yang lain. 

3.    Memiliki hasrat untuk "menguasai". Mereka memiliki hasrat, obsesi dan minat dan kemampuan untuk fokus, sehingga sangat mudah baginya untuk memahami dan menguasai suatu hal. 

Guru diharapkan lebih peka dalam mengenali peserta didik yang memiliki karakteristik ini, dikarenakan mereka memiliki kebutuhan yang juga berbeda dibandingkan dengan teman-temannya. 

Menurut Sumantri (2015: 453-458), adapun langkah-langkah dalam melaksanakan program pengayaan di sekolah yaitu sebagai berikut :

1.    Identifikasi Permasalahan Pembelajaran 

Secara umum identifikasi awal bisa dilakukan melalui:  a. Observasi.

b. Wawancara terhadap peserta didik atau terhadap orang-orang di lingkungan peserta didik. 

2.    Membuat Perencanaan 

Setelah melakukan identifikasi awal terhadap permasalahan belajar anak, guru telah memperoleh pengetahuan yang utuh tentang peserta didik dan mulai untuk membuat perencanaan. Penetapan perencanaan dilakukan melalui beberapa tahapan :

a.    Menetapkan tujuan pembelajaran. 

b.    Kurikulum. 

c.    Menyiapkan media pembelajaran. 

d.    Menetapkan strategi pembelajaran. 

e.    Menyiapkan materi-materi pendukung. 

3.    Pelaksanaan Program Pengayaan 

Setelah perencanaan disusun, langkah selanjutnya adalah melaksanakan.

Ada tiga fokus penekanan: 

a.    Penekanan pada keunikan peserta didik.

b.    Penekanan pada adaptasi materi ajar.

c.    Penekanan pada strategi/metode pembelajaran.

4.    Evaluasi 

Evaluasi melalui penilaian autentik dilakukan setelah program selesai dilaksanakan. Berdasarkan hasil evaluasi, guru perlu meninjau kembali strategi pembelajaran yang diterapkannya atau melakukan identifikasi (analisis kebutuhan) terhadap peserta didik dengan lebih seksama.

Menurut Izzati (2015: 57-58), bentuk-bentuk pelaksanaan program pengayaan diantaranya adalah: 

1.    Menugaskan siswa membaca materi pokok dalam kompetensi dasar selanjutnya 

2.    Memfasilitasi siswa melakukan percobaanpercobaan, soal latihan, menganalisa gambar, dan sebagainya 

3.    Memberikan bahan bacaan untuk didiskusikan guna menambah wawasan para siswa 

4.    Membantu guru membimbing teman-temannya yang belum mencapai standar ketuntasan belajar minimum. 

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa program pengayaan adalah salah satu upaya untuk membantu siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya. 2.2 Kajian Kritis

Program pengayaan dapat diartikan sebagai kegiatan memberikan tambahan/perluasan pengalaman kepada peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum. Peserta didik yang sudah melampaui ketuntasan belajar maka perlu diberikan tambahan pengetahuan atau pengalaman pembelajaran yang lebih dibanding mereka yang belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan. Dalam hal ini, guru mesti menyiapkan program pembelajaran pengayaan yang mendukung perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik. Guru bisa memberikan pendalaman dan perluasan dari KD yang sedang diajarkan atau memberikan materi dalam KD yang berikutnya. Dalam program pengayaan, guru memfasilitasi peserta didik untuk memperkaya wawasan dan keterampilannya serta mampu mengaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari dengan memberikan berbagai sumber belajar, antara lain: perpustakaan, majalah atau koran, internet, narasumber/pakar, dan lain-lain. 

Pentingnya melaksanakan program pengayaan dikarenakan yang pertama yaitu melalui pengayaan dapat menumbuhkan minat peserta didik, siswa dapat menemukan kemungkinan yang berkaitan dengan ide atau bidang studi melalui pemeliharaan minat, karena berbagai peluang pengayaan direncanakan oleh guru, orang tua, dan siswa itu sendiri, penting untuk menambah pengayaan seperti yang terjadi di kelas, dalam kegiatan ekstrakurikuler yang disponsori oleh sekolah, dan di masyarakat dan di luar. Yang kedua adalah memupuk bakat, mengembangkan keahlian, atau keduanya, melalui pengayaan peserta didik dapat berinteraksi dengan para ahli, menemukan ide-ide yang mendorong untuk mengejar yang masih belum diketahuinya. Yang ketiga yaitu dapat meningkatkan prestasi, tanpa peluang pembelajaran yang tepat baik di dalam maupun di luar sekolah, peserta didik tidak dapat mencapai pada tingkat yang mengakar ke potensi mereka. 

Tujuan utama dari program pengayaan adalah untuk menciptakan terlaksananya pembelajaran yang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat lebih memperkaya penguasaan materi pelajaran dan juga dapat melatih keterampilan-keterampilan baru bagi peserta didik seperti dapat membedakan antara informasi yang spesifik-masalah, relevan, dan tidak relevan, memeriksa cara-cara di mana strategi pemecahan masalah disesuaikan dengan situasi penyelesaian masalah lainnya, dapat berkomunikasi dengan cara yang hidup, dan masih banyak yang lainnya.

Fungsi pengayaan yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya. Adanya daya dukung fasilitas teknik, serta sarana penunjang yang di perlukan. Sasaran pokok fungsi ini ialah agar hasil remedial itu lebih sempurna dengan diadakannya pengayaan. Semakin banyak hasil belajar yang diperoleh dan semakin dalam ilmu yang didapat, maka prestasi belajarnya pun semakin meningkat.

Jenis-jenis program pengayaan yaitu dapat berupa kegiatan eksploratori yang masih terkait dengan KD yang sedang dilaksanakan yang di rancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian yang dimaksud contohnya: bisa berupa peristiwa sejarah, buku, narasumber, penemuan, uji coba, yang secara reguler tidak tercakup dalam kurikulum. Selanjutnya adalah keterampilan proses yang di perlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran sendiri. Yang terakhir adalah pemecahan masalah yang diberikan kepada  peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. 

Ada beberapa model pengayaan yaitu pertama Model Renzulli yang dibuat untuk menyediakan variasi pengalaman pengayaan. Yang kedua Model IPPM Treffinger, model ini lebih menekankan pada proses identifikasi untuk merencanakan program studi individu anak berbakat berdasarkan bakat, kekuatan, dan minatnya. Yang ketiga yaitu Model Purdue Three-stage, model ini diterapkan dalam ruang khusus dengan kelompok kecil antara 8-15 anak berbakat. Yang keempat yaitu Model Antonomous Learner, model ini berusaha untuk menemukan kebutuhan akademik, sosial, emosional anak berbakat, yang bertujuan untuk menjamin kebebasan anak berbakat dan bertanggung jawab terhadap belajarnya.

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan terbagi tiga. Pertama adalah inovasi, guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik. Yang kedua adalah kegiatan yang memperkaya, dalam menyusun materi dan mendesain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya. Yang ketiga adalah merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi, misalnya dengan memberikan projek, pengembangan minat dan aktivitas-aktivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini. 

Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Dalam menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama antara kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3

(tiga) aspek: karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung) pada proses pencapaian kompetensi  

Adanya penetapan KKM tersebut menyebabkan terjadinya dua macam kegiatan tambahan yaitu kegiatan remedial dan pengayaan. Pengayaan merupakan kegiatan tambahan yang diberikan kepada peserta didik yang telah mendapatkan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan.  

Langkah-langkah pelaksanaan program pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program pembelajaran remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian autentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan: penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat. Sehingga peserta didik sering kali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan guru dalam merencanakan dan memutuskan untuk melaksanakan program pengayaan.































BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan


Program pengayaan dapat diartikan sebagai kegiatan memberikan tambahan/perluasan pengalaman kepada peserta didik yang teridentifikasi melampaui ketuntasan belajar yang ditentukan oleh kurikulum. Peserta didik yang sudah melampaui ketuntasan belajar maka perlu diberikan tambahan pengetahuan atau pengalaman pembelajaran yang lebih dibanding mereka yang belum mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan. Dalam hal ini, guru mesti menyiapkan program pembelajaran pengayaan yang mendukung perkembangan peserta didik ke arah yang lebih baik. 

Pentingnya melaksanakan program pengayaan dikarenakan melalui pengayaan maka dapat menumbuhkan minat peserta didik, memupuk bakat, dapat meningkatkan prestasi. Tujuan utama dari program pengayaan adalah untuk menciptakan terlaksananya pembelajaran yang diperuntukkan bagi peserta didik agar dapat lebih memperkaya penguasaan materi pelajaran dan juga dapat melatih keterampilan-keterampilan baru bagi peserta didik.

Fungsi pengayaan yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya lebih kaya.

Jenis-jenis program pengayaan yaitu dapat berupa kegiatan eksploratori yang masih terkait dengan KD yang sedang dilaksanakan yang di rancang untuk disajikan kepada peserta didik, keterampilan proses yang di perlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran sendiri, dan pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Ada beberapa model pengayaan yaitu pertama Model Renzulli, Model IPPM Treffinger, Model Purdue Three-stage, dan Model Antonomous Learner. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan terbagi tiga yaitu inovasi, kegiatan yang memperkaya, dan merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi. 

Kriteria Ketuntasan Minimal yang selanjutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Dalam menetapkan KKM, satuan pendidikan harus merumuskannya secara bersama antara kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya. KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek: karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung) pada proses pencapaian kompetensi Adanya penetapan KKM tersebut menyebabkan terjadinya dua macam kegiatan tambahan yaitu kegiatan remedial dan pengayaan.  

Langkah-langkah pelaksanaan program pengayaan tidak terlalu jauh berbeda dengan program pembelajaran remedial. Diawali dengan kegiatan identifikasi, kemudian perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Guru tidak perlu menunggu diperolehnya penilaian autentik terhadap kemampuan peserta didik. Apabila melalui observasi dalam proses pembelajaran, peserta didik sudah terindikasi memiliki kemampuan yang lebih dari teman lainnya, bisa ditandai dengan: penguasaan materi yang cepat dan membutuhkan waktu yang lebih singkat. Sehingga peserta didik sering kali memiliki waktu sisa yang lebih banyak, dikarenakan cepatnya dia menyelesaikan tugas atau menguasai materi. Di sinilah dibutuhkan kepekaan guru dalam merencanakan dan memutuskan untuk melaksanakan program pengayaan.

3.2 Saran


Penggunaan program pembelajaran yang baik dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir siswa dengan baik pula, terutama pada siswa yang telah memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan temantemannya yang lain. Salah satu program yang bisa digunakan yaitu program pengayaan yaitu merupakan kegiatan yang diperuntukkan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi yang berarti mereka adalah peserta didik yang tergolong cepat dalam menyelesaikan tugas belajarnya. Oleh karena itu, sebaiknya tenaga pendidik memahami bagaimana cara menerapkan maupun melaksanakan program pengayaan ini dengan baik agar pelaksanaannya dapat mencapai tujuan seperti yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA


Akbar, Reni dan Hawadi. 2010. Menguatkan Bakat Anak. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Aljughaiman, A. M and Ayoub, A. E. A. 2014. Evaluating the Effects of the Oasis Enrichment Model on Gifted Education: A Meta-Analysis Study. Saudi Arabia: Talent Development & Excellence Vol. 5, No. 1.

Alzoubi, S.M. 2014. Effects of Enrichment Programs on the Academic Achievement of Gifted and Talented Students. Saudia Arabia: Journal for the Education of  the Young Scientist and Giftedness. Vol. 2, Issu. 99.

Astiti, K. A. 2017. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: CV. ANDI OFFSET.

Beecher, Margaret dan  Sweeny, S.M. 2008. Closing the Achievement Gap With

Curriculum Enrichment and Differentiation: One School’s Story.  Amerika Serikat: Journal of Advanced Academics. Vol. 19,  No. 3.

Dai dan Kuo. 2016. Gifted Education in Asia Problems and Prospects. America: Information Age Publishing.

Izzati, Nurma. 2015. Pengaruh Penerapan Program Remedial dan Pengayaan Melalui Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Cirebon: Jurnal EduMa. Vol. 4, No. 1, ISSN: 2086-3918.

Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Malawi, I., Kadarwati, A., dan Dayu, D. P. K.  2015. Pembaharuan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jawa Timur : CV. AE MEDIA GRAFIKA.

Masbur. 2012. Remedial Teaching Sebagai Suatu Solusi. Aceh: Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Vol. XII, No. 2.

McCombs, et.al. 2014. Ready for Fall?Near-Term Effects of Voluntary Summer

Learning Programs on Low-Income Students’ Learning Opportunities and Outcomes. California: RAND Corporation.

Meikasari, Yurine dan Listiadi, Agung. 2016. Pengembangan Game “Bingo Accounting” sebagai Media Pengayaan pada Materi Jurnal Penyesuaian Perusahaan Jasa di SMK Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. Surabaya: Jurnal Pendidikan. Vol. 04, No. 03.

Murphy, et.al. 2014. Handbook on Innovations in Learning. America: Information Age Publishing.

Nugroho, M.Y.A. 2018. Cerita Fiksi Sebagai Bacaan Pengayaan Pembelajaran Sains di Sekolah. Jawa Tengah: Jurnal PROSIDING Seminar Nasional Pendidikan Fisika. Vol. 1, No. 1, ISSN: 2615-2789.

Olenchak, F.R. 1995. Effects of Enrichment on Gifted/ Learning-Disabled Students. Virginia: Journal for the Education of the Gifted. Vol. 18, No. 4.

Reis, S.M., Marcia, G and Maxfield, L.R. 1998. The Application of Enrichment Clusters to Teachers' Classroom Practices. Mankato: Journal for the Education of the Gifted. Vol. 21, No. 3.

Renzulli, et.al. 2014. Enrichment Clusters a Practical Plan for Real-Word, Student-Driven Learning. Texas: Prufrock Press.

Roberts, Julia L. 2005. Enrichment Opportunities for Gifted Learnes. Texas: Prufrock Press.

Sagala, Syaiful. 2017. Human Capital : Membangun Modal Sumber Daya

Manusia Berkarakter Unggul Melalui Pendidikan Berkualitas. Depok:

KENCANA.

Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta : PT. Grasindo.

Sumantri, M.S. 2015. Strategi Pembelajaran : Teori dan Praktek di Tingkat  Pendidikan Dasar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 

Soewarno, dkk. 2016. Pelaksanaan Program Remedialdi SD Negeri Cot Baroh Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie. Aceh: Jurnal Ilmiah Mahasiswa FKIP Unsyiah. Vol. 1, No. 1.

Syamsi, Atikah. 2007. Implementasi Program Remedial Teaching di Kelas Akselerasi SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Yogyakarta: Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. IV, No.1.

Tjahjadarmawan, Elizabeth. 2017. Best Practice Guru dalam Tugas Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: CV Budi Utama.












Komentar

Postingan populer dari blog ini

MODEL PEMBELAJARAN PENGAWASAN LAKU

MODEL PEMBELAJARAN INDUKTIF