MODEL PEMBELAJARAN TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT)
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidik
menurut UU RI No. 14 Tahun 2005 adalah profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,
dan pendidikan menengah. Sedangkan peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur
pendidikan baik pendidikan formal maupun
pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.
Oleh karena proses belajar merupakan suatu kegiatan yang melibatkan peran aktif
antara pendidik dan peserta didik maka dari itu dibutuhkan suatu metode
pembelajaran yang mampu memudahkan pendidik dalam menyampaikan materi dan mampu
memudahkan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang diberikan
sehingga prestasi peserta didik dapat meningkat. Pada proses pembelajaran
pendidik dalam menyampaikan materi kurang memperhatikan metode yang digunakan
pendidik hanya menyampaikan materi yang sesuai dengan silabus, hal itu didapatkan ketika
peneliti melakukan wawancara dengan
pendidik. Pendidik mengungkapkan bahwa proses pembelajaran teori
diberikan hanya 1-2 kali pertemuaan ketika menjelang mid semester sehingga
proses belajar mengajar berjalan kurang efektif ( Musyafa dan Djatmiko, 2015 :
371).
Salah
satu cara untuk mengembangkan
kompetensi siswa dalam kerja sama
adalah melalui penggunaan model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran
kooperatif berfokus pada penggunaan sekelompok kecil siswa untuk bekerja sama
dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Salah satu model
pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournaments (TGT). Pada model TGT
siswa akan berkompetisi dalam permainan sebagai wakil dari kelompoknya. Setiap
kelompok bersaing mengumpulkan nilai untuk menjadi juara dalam permainan
tersebut. Selain bertanggung jawab pada
kelompok, setiap siswa juga bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri
karena setiap siswa dituntut untuk mampu menyelesaikan soal dalam game tersebut
. Dengan model TGT ini diharapkan setiap siswa dapat termotivasi untuk terus
belajar dan meningkatkan pengetahuannya (Rosyana dan mulyani, 2014 : 75).
1.2
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian model
pembelajaran TGT ( Teams Games
Tournament).
2. Untuk mengetahui fungsi dari model
pembelajaran TGT ( Teams Games
Tournament).
3. Untuk mengetahui unsur-unsur model
pembelajaran kooperatif tipe TGT (
Teams
Games Tournament)
4. Untuk mengetahuin Roles of the
Facilitator (teacher) in TGT ( Teams Games Tournament)
5. Untuk mengetahui Kelebihan dan
kelemahan Model TGT ( Teams Games Tournament)
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Kajian Pustaka
2.1.1
Pengertian model TGT ( Teams Games Tournament)
Kurniasih,
(2012) dalam solihah (2016 : 47) menyatakan bahwa, “Teams Games Tournament
(TGT) adalah salah satu tipe atau metode pembelajaran kooperatif yang mudah di
terapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa
tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor
sebaya dan mengandung unsur permainan”.
Kusumandari,
(2011) dalam solihah (2016 : 48) menyatakan bahwa:
“Teams
Games Tournament (TGT) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6 orang
siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku/ras yang berbeda”.
Musyafa
dan Djatmiko (2015 : 372 ), Model
pembelajaran TGT adalah
salah satu tipe atau
model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan
aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran
siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan
reinforcement.
Menurut
Yulhendri dan Syofyan (2016 : 58-59), Teams Games Tournament (TGT) merupakan
salah satu tipe model pembelajaran koperatif yang melibatkan kelompok, di
dalamnya terdapat suatu games tournament. Dalam TGT siswa di bagi menjadi
beberapa tim belajar yang terdiri dari 4 samapi 6 orang yang berbeda tingkat
kemampuannya, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya.
Teams-Games-Tournaments
(TGT) was originally developed by David DeVries and Keith Edwards (1972) at the
Johns Hopkins University. It is a type of cooperative learning method. The
students compete with members of other teams to contribute points to their team
score. Students compete in at least threeperson “tournament tables” against
others with a similar past record in mathematics. After then a procedure
changes table assignments to keep the competition fair. The winner at each
tournament table brings the same number of points to his or her team,
regardless of which table it is; this means that low achievers and high
achievers have an equal opportunity for success. High performing teams earn
team rewards (Salam and Hossain, 2015 : 4).
Terjemahan
:
Teams-Games-Tournaments (TGT) pada awalnya
dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards (1972) di Universitas Johns
Hopkins. Ini adalah jenis metode pembelajaran kooperatif. Para siswa
berkompetisi dengan anggota tim lain untuk berkontribusi poin pada skor tim
mereka. Siswa berkompetisi dalam setidaknya tiga orang “meja turnamen” melawan
yang lain dengan catatan masa lalu yang serupa dalam matematika. Setelah itu
prosedur mengubah penugasan tabel untuk menjaga persaingan tetap adil. Pemenang
di setiap meja turnamen membawa jumlah poin yang sama ke timnya, terlepas dari
tabel mana itu; Ini berarti bahwa orang yang berprestasi rendah dan berprestasi
tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Tim berkinerja tinggi mendapatkan
imbalan tim (Salam dan Hossain, 2015: 4).
According
to frianto, et al., (2016 : 75), Team game tournament is an effective technique
of cooperative learning wherein groups are created that function in the class
for a period of time. This method is one of the learning strategies designed by
Robert Slavin for the purpose of review and mastery in the learning. This
method was basically to increase student’s skills, increase interaction and
self-esteem between students. In this technique the students study in the
class. The materials are supplied and are taught in groups or individually
through different activities. The students after receiving the material review
it and then bring 2-6 points from their study into their assigned groups. Since
the tournament is based on a material there is a specific answer.
Terjemahan
:
Menurut
frianto,dkk , (2016: 75), turnamen permainan Tim adalah teknik pembelajaran
kooperatif yang efektif di mana kelompok diciptakan yang berfungsi di kelas
untuk jangka waktu tertentu. Metode ini adalah salah satu strategi pembelajaran
yang dirancang oleh Robert Slavin untuk tujuan peninjauan dan penguasaan dalam
pembelajaran. Metode ini pada dasarnya untuk meningkatkan keterampilan siswa,
meningkatkan interaksi dan harga diri antara siswa. Dalam teknik ini para siswa
belajar di kelas. Materi diberikan dan diajarkan dalam kelompok atau secara
individu melalui kegiatan yang berbeda. Para siswa setelah menerima materi yang
ditinjau dan kemudian membawa 2-6 poin dari studi mereka ke dalam kelompok yang
ditugaskan. Karena turnamen didasarkan pada materi, ada jawaban khusus.
Team
game tournament (TGT) is an effective technique of cooperative learning, thus,
in groups are created that cooperative function in the class room for a period
of time (Frianto et al, 2016). Cooperative learning with the TGT has
similarities to STAD (Student Team Achievement Division) method in group
formation and delivery of material, but TGT replaces quiz with tournaments or
competitions where students play games or academic games with team members or
other groups to contribute points for team or group scores. A teammate or group
will help each other in preparing for the game by studying activity sheets and
explaining problems with each other, but when students are playing in games,
other friends should not help, and teachers need to make sure they happen to be
responsible answer individually (Slavin in Ritonga, 2017 : 120).
Terjemahan
:
Turnamen
permainan tim (TGT) adalah teknik pembelajaran kooperatif yang efektif, sehingga,
dalam kelompok diciptakan fungsi koperasi di ruang kelas untuk jangka waktu
tertentu (Frianto et al, 2016). Pembelajaran kooperatif dengan TGT memiliki
kesamaan dengan metode STAD (Student Team Achievement Division) dalam
pembentukan kelompok dan pengiriman materi, tetapi TGT menggantikan kuis dengan
turnamen atau kompetisi di mana siswa memainkan game atau permainan akademis
dengan anggota tim atau kelompok lain untuk berkontribusi poin untuk tim atau
skor grup. Rekan tim atau kelompok akan saling membantu dalam mempersiapkan
permainan dengan mempelajari lembaran aktivitas dan menjelaskan masalah satu
sama lain, tetapi ketika siswa bermain dalam permainan, teman-teman lain tidak
boleh membantu, dan guru perlu memastikan bahwa mereka adalah jawaban yang
bertanggung jawab. individual (Slavin in Ritonga, 2017: 120).
TGT
(Tim Game Tournament) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menempatkan siswa dalam kelompok-kelompokbelajar yang beranggotakan 5 sampai 6
orang siswa yang memiliki kemampuan,jenis kelamin dan suku kata atau ras yang
berbeda.Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka
masing-masing (Sunarto,2010:62-63).
According
to Kagan (1994), Teams-Games-Tournament, one of the
cooperative
learning techniques, is defined as “a carefully structured sequence of
teaching-learning activities, a blend of three educational techniques-small
groups, instructional games, and tournaments”. It is designed to complement
regular instruction in upper elementary, junior and senior high school
classrooms (Yopita, 2017 : 23 ).
Terjemahan
:
Menurut
Kagan (1994), Teams-Games-Tournament, salah satu teknik pembelajaran
kooperatif, didefinisikan sebagai "urutan kegiatan belajarmengajar yang
disusun secara cermat, perpaduan tiga teknik pendidikan - kelompok kecil,
permainan instruksional, dan turnamen" . Ini dirancang untuk melengkapi
instruksi reguler di kelas atas sekolah dasar, SMP dan SMA (Yopita, 2017: 23).
Metode
TGT ini di kembangkan oleh Slavin dan rekannya, penerapan metode ini hampir
sama dengan STAD dalam hal komposisi kelompok, format intruksional, dan lembar
kerjanya. Perbedaannya adalah komposisi kelompok pada STAD berdasarkan
kemampuan,ras,etnis,dan gender, sedangkan pada TGT hanyalah berfokus pada
tingkat kemampuannya saja. Selain itu, pada STAD yang igunakan adalah kuis,
sedangkan pada TGT diganti dengan game akademik. TGT sering digunakancdengan
kombinasi pembelajaran metode STAD. Menurut Slavin, TGT dsn STAD bisa
dilaksanakan secara bergantian. Teknis pelaksanaan TGT mirip dengan STAD yaitu
persentasi kelas (sama seperti dalam STAD), tim(pembentuakan tim berdasarkan
tingkat kemampuan yang berbeda), tahap ketiga,yaitu turnamen atau game
akademik, danrekognisi tim (sama seperti STAD). Setelah turnamen pertama, siswa
akan bertukar meja tergantung pada kinerja mereka pada turnamen yang terakhir.
Pemenang pada tiap meja akan naik tingkat ke meja berikutnya yang lebih tinggi
dan siswa yang mempunyai skor terendah diturunkan tingkatanya. Setelah turnamen
atau game akademik selesai, maka dilakukan rekognisi tim. Skor tim dihitung
berdasarkan skor turnamen anggota tim. Turnamen merupakan perbedan antara STAD
dan TGT, pada STAD dinamakan dengan kuis. Turnamen merupakan struktur di mana
game akademik berlangsung. Turnamen berlangsung setelah dosen memberikan
persentasi kelas, dan tim sudah belajar kelompok terhadap lembar kegiatan
kelompok. Pada turnamn pertama pengajar harus mendapatkan siswanya berada pada
meja turnamen. Tiga siswa berprestasi tinggi pada meja 1, tiga berikutnya pada meja
2, dan seterusnya (Huriah, 2018: 69-70).
TGT
is an innovative, small group teaching technique. The method is grounded in
current theory,applies to diverse problems and settings, and provideds clear criteria for evaluating
program effects. The technique alters the traditional classroom structure and
gives each student an equal opportunity to achieve and to receive positive
reinforcement from peers by capitalizing on team coorperation, the
popularity of games, and the spirit of
the competitive tournaments. Group reward structures setup a learning
situtation wherein the performance of each group member furthers the overall
group goals. This has been found shown to increase individual members’ support
for group performance, to increase performance itself under a veriety of
similar cir to be successful in helping students acquire and relain knowledge
in such areas as nutrition, alcohol, and drug abuse ( Wordarski and feit 2011).
Terjemahan
:
TGT
adalah teknik pengajaran kelompok kecil yang inovatif. Metode ini didasarkan
pada teori saat ini, berlaku untuk beragam masalah dan pengaturan, dan
memberikan kriteria yang jelas untuk mengevaluasi efek program. Teknik ini
mengubah struktur kelas tradisional dan memberikan setiap siswa kesempatan yang
sama untuk mencapai dan menerima penguatan positif dari rekan-rekan dengan
memanfaatkan kerjasama tim, popularitas permainan, dan semangat turnamen
kompetitif. Struktur ganjaran kelompok mengatur suatu situtasi pembelajaran di
mana kinerja setiap anggota kelompok akan meningkatkan keseluruhan gol
kelompok. Ini telah ditemukan terbukti meningkatkan dukungan anggota individu
untuk kinerja kelompok, untuk meningkatkan kinerja itu sendiri di bawah a
veriety dari cir serupa untuk menjadi sukses dalam membantu siswa memperoleh
dan mendapatkan pengetahuan di bidang-bidang seperti nutrisi, alkohol, dan
penyalahgunaan obat (Wordarski dan feit, 2011).
TGT
is similar to STAD, but instead of quizzes, the students play academic games
competing with individuals of the same level of ability. At the tournament,
students are assigned to three person ability-homogeneous tournament tables. To
ensure fair competition at each tables, three students with the highest past
performance scores are assigned to Table 1, the next three to Table 2 and so
on. Students at the tables are competing as representatives of their teams. The
winners at each tournament table bring the same number of points to their
teams. Hance high-or low-achievers have equal opportunities to success. At the
end of the tournament, the teacher prepares a newsletter to recognize
successful teams. CIR and TAI are two other Student Team Learning methods but
are designed for particular subjects and grade levels. TAI is designed
mathematics at grades 3-6 while CIRC is for reading and writing at grades 3-5
(Tan, Ivy Geok-Chin, dkk. 2006 : 8).
Terjemahan
:
TGT
mirip dengan STAD, tetapi alih-alih kuis, para siswa memainkan permainan
akademis yang bersaing dengan individu dengan tingkat kemampuan yang sama. Di
turnamen, siswa ditugaskan untuk tiga orang tabel turnamen kemampuan-homogen.
Untuk memastikan persaingan yang adil di setiap tabel, tiga siswa dengan skor
kinerja tertinggi di masa lalu ditugaskan ke Tabel 1, tiga berikutnya ke Tabel
2 dan seterusnya. Siswa di meja bersaing sebagai perwakilan dari tim mereka.
Pemenang di setiap meja turnamen membawa jumlah poin yang sama ke tim mereka.
Hance berprestasi tinggi atau rendah memiliki peluang yang sama untuk sukses.
Di akhir turnamen, guru menyiapkan buletin untuk mengenali tim yang sukses. CIR
dan TAI adalah dua metode Tim Pembelajaran Siswa lainnya tetapi dirancang untuk
mata pelajaran dan tingkat kelas tertentu. TAI dirancang matematika di kelas
3-6 sedangkan CIRC untuk membaca dan menulis di kelas 3-5 (Tan, Ivy Geok-Chin,
dkk.
2006:
8).
Teams-Games-Tournament,
or TGT, optimizes content, mastery through both competition and coorperation.
In a TGT lesson, student at different ability levels work together in study
teams to review ke content and help each other shore up gaps in their learning.
Student then leave their study teams to complete in an academic tournament with
students from other study teams. During the tournament, students gain points
for their study team by answering questions and challenging other players’
answers. Thus, the study teams that are not cooperative-that do the best job
of preparing all members to succeed in
competition-earth most points ( F. Silver, Harvey,dkk. 2007 : 57-58 ).
Terjemahan
:
Teams-Games-Tournament,
atau TGT, mengoptimalkan konten, penguasaan melalui kompetisi dan coorperation.
Dalam pelajaran TGT, siswa pada tingkat kemampuan yang berbeda bekerja bersama
dalam tim belajar untuk meninjau isi dan membantu saling mengisi kesenjangan
dalam pembelajaran mereka. Siswa kemudian meninggalkan tim studi mereka untuk
menyelesaikan dalam turnamen akademik dengan siswa dari tim studi lainnya.
Selama turnamen, siswa mendapatkan poin untuk tim studi mereka dengan menjawab
pertanyaan dan menantang jawaban pemain lain. Dengan demikian, tim studi yang
tidak kooperatif-yang melakukan pekerjaan terbaik untuk menyiapkan semua
anggota untuk berhasil dalam poin paling kompetitif di bumi (F. Silver, Harvey,
dkk. 2007: 57-58).
2.1.2
Fungsi Model TGT ( Teams Games Tournament)
TGT
(team-games-tournaments) ini merupakan salah satu model pembelajaran
kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif tersebut, siswa diharapkan mampu
mengkontruksi dan menyusun pengetahuan sendiri. Tujuan yang ingin dicapai bukan
hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga
adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerjasama
inilah yang menjadi ciri khas pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif
TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan
tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar ( Sari,
2011 : 817-818).
Model
pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa adalah model pembelajaran
kooperatif tipe TGT. Model pembelajaran
TGT yang dikembangkan oleh Robert Slavin dalam pembelajaran ini, siswa dibagi
dalam kelompok kecil, teknik belajar ini menggabungkan kelompok belajar dengan
kompetensi tim dan dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran beragam
fakta, konsep dan keterampilan. Pembelajaran dengan model ini akan merangsang
keaktifan siswa, sebab siswa dituntut berpartisipasi dalam suatu kelompok untuk
berkompetisi menyelesaikan tugas-tugas akademik (Purwati dalam kamariyah, 2016
: 79).
Aktivitas
belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT
memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung
jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar
(Musyafa dan Djatmiko, 2015 : 372 ).
According
to Gonzalez and Arturo, et al.,(2014 : 8 – 9) The main objectives of the TGT
are:
1. To allow students to practise the
material imparted in lectures and bring early awareness of potential
difficulties,
2. To emphasize and meet learning outcomes
(which the facilitator aligns with team goals when providing the rules for defining
the questions),
3. To encourage all students to learn and
achieve the learning outcomes if they want their team to succeed. Given that
“higher individual score = better team score”, students will like to contribute
to the team and work harder.
4. To strengthen the role of the student
as a team player, as students will help one another to improve the team
performance,
5. To make the learning experience more
enjoyable, given that students will see learning as ‘social’ instead of
‘isolated’.
In
cooperative TGT, the students play academic games with other team members to
seek points that will contribute towards group (Veloo, 2016). The TGT strategy
brings together group and cooperation in learning. In cooperative learning of
TGT type, students with different abilities and sexes are made into a team or
group of 4 to 5 students. As one of TGT's cooperative learning strategies is
very easy to implement, it involves the activities of all students without
having to distinguish between status differences, involving students as peer
tutors, and the existence of reinforcement elements (reinforcement). The ease
of implementation of TGT is caused in the absence of supporting facilities that
must be available such as equipment or special room. In addition to being easy
to implement in its application TGT also involves the activities of all
students to obtain the desired concept (Ritonga, 2017 : 121).
Terjemahan :
Menurut
Gonzalez dan Arturo, dkk., (2014: 8 - 9), Tujuan utama TGT adalah:
1. Untuk memungkinkan siswa untuk
mempraktekkan materi yang disampaikan dalam kuliah dan membawa kesadaran awal
akan kesulitan yang potensial,
2. Untuk menekankan dan memenuhi hasil
pembelajaran (yang fasilitator selaras dengan tujuan tim ketika memberikan
aturan untuk mendefinisikan pertanyaan),
3. Untuk mendorong semua siswa untuk
belajar dan mencapai hasil pembelajaran jika mereka ingin tim mereka berhasil.
Mengingat bahwa "skor individu yang lebih tinggi = skor tim yang lebih
baik", siswa akan suka berkontribusi pada tim dan bekerja lebih keras.
4. Untuk memperkuat peran siswa sebagai
pemain tim, karena siswa akan saling membantu untuk meningkatkan kinerja tim,
5. Untuk membuat pengalaman belajar lebih
menyenangkan, mengingat bahwa siswa akan melihat belajar sebagai 'sosial'
daripada 'terisolasi'.
Dalam
TGT kooperatif, siswa memainkan permainan akademik dengan anggota tim lain
untuk mencari poin yang akan berkontribusi terhadap kelompok (Veloo, 2016).
Strategi TGT menyatukan kelompok dan kerja sama dalam pembelajaran. Dalam
pembelajaran kooperatif tipe TGT, siswa dengan kemampuan dan jenis kelamin
berbeda dibuat menjadi tim atau kelompok yang terdiri dari 4 hingga 5 siswa.
Sebagai salah satu strategi pembelajaran kooperatif TGT sangat mudah
dilaksanakan, ini melibatkan kegiatan semua siswa tanpa harus membedakan antara
perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya, dan keberadaan elemen
penguatan (penguatan). Kemudahan implementasi TGT disebabkan karena tidak
adanya fasilitas pendukung yang harus tersedia seperti peralatan atau ruangan
khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT juga melibatkan kegiatan
semua siswa untuk memperoleh konsep yang diinginkan (Ritonga, 2017: 121).
The
purpose of TGT is to create an effective classroom environment in which all
students get actively involved in the teaching and learning process and
consistently receive encouragement for a successful performance. The TGT
structure exhibits both competition and cooperation in a way that promotes peer
group rewards for academic achievement. It is demonstrated by altering the
social organization of the classroom in two ways. First, it creates
interdependency among students. Second, it makes it possible for all students,
despite different learning rates, to have an equal chance to succeed at an
academic task. TGT provides a flexible design which can be implemented for
individualized learning, independent learning, and group instruction. Its focus
is on individual performance, which in turn contributes to group performance. ( Yopita,2017 : 23 ).
Terjemahan
:
Tujuan
TGT adalah untuk menciptakan lingkungan kelas yang efektif di mana semua siswa
terlibat aktif dalam proses belajar mengajar dan secara konsisten menerima
dorongan untuk kinerja yang sukses. Struktur TGT menunjukkan persaingan dan
kerja sama dengan cara yang mempromosikan penghargaan kelompok sebaya untuk
pencapaian akademik. Ini ditunjukkan dengan mengubah organisasi sosial kelas
dengan dua cara. Pertama, menciptakan interdependensi di antara para siswa.
Kedua, itu memungkinkan bagi semua siswa, meskipun tingkat belajar yang
berbeda, memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil pada tugas akademis. TGT
menyediakan desain yang fleksibel yang dapat diimplementasikan untuk
pembelajaran individual, pembelajaran mandiri, dan instruksi kelompok. Fokusnya
adalah pada kinerja individu, yang pada gilirannya memberikan kontribusi pada
kinerja kelompok. (Yopita, 2017: 23).
2.1.3
Unsur-unsur model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( Teams Games Tournament)
1.
Langkah – langkah Model TGT (
Teams Games Tournament)
Menurut
Sutirman (2013) dalam solihah (2016 : 48-49), langkah-langkah model
pembelajaran TGT ialah:
a. Persentasi materi Pada awal
pembelajaran guru hendaknya memberikan motivasi, apersepsi dan menyampaikan
tujuan pembelajaran. Kemudian guru menyampaikan materi pelajaran yang sesuai
dengan indikator kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. Penyampaian materi
dapat secara langsung melalui ceramah oleh guru, dapat pula dengan paket media
pembelajaran audiovisual yang berisi materi yang sesuai.
b. Pembentukan kelompok Setelah materi
disampaikan oleh guru di depan kelas, selanjutnya dibentuk kelompok-kelompok
siswa. Kelompok terdiri dari 4-5 orang yang bersifat heterogen dalam hal
prestasi belajar, jenis kelamin, suku, maupun lainnya. Setiap kelompok diberi
lembar kerja atau materi dan tugas lainnya untuk didiskusikan dan dikerjakan
oleh kelompok. Kesuksesan setiap anggota kelompok akan menjadi faktor
keberhasilan kelompok.
c. Game turnamen Setelah siswa belajar dan
berdiskusi dalam kelompok, selanjutnya dilakukan permainan lomba (turnamen)
yang bersifat akademik untuk mengukur penguasaan materi oleh siswa. Permainan
yang dilakukan adalah semacam lomba cerdas cermat, dengan peserta perwakilan
dari setiap kelompok. Soal dapat diberikan dalam bentuk pertanyaan lisan atau
dalam bentuk kartu soal yang dipilih secara acak. Teknis pelaksanaan permainan
turnamen ini adalah dimulai dengan guru merangking siswa dalam setiap kelompok.
Selanjutnya menyiapkan meja turnamen sebanyak jumlah anggota dalam kelompok.
Jika tiap kelompok beranggotakan 4 orang, maka disiapkan empat meja. Meja
pertama diisi oleh siswa dengan rangking pertama di setiap kelompok, meja kedua
diisi oleh siswa dengan rangking kedua di setiap kelompok, meja ketiga diisi
oleh siswa dengan rangking ketiga di setiap kelompok, meja keempat diisi oleh
siswa dengan rangking empat di setiap kelompok. Setiap siswa dapat berpindah
meja berdasarkan prestasi yang diperolehnya pada turnamen. Siswa yang
memperoleh nilai tertinggi pada setiap meja naik ke meja yang lebih tinggi
tingkatnya. Siswa yang peringkat kedua tetap di meja semula, sedangkan siswa
dengan nilai terendah turun ke meja yang lebih rendah tingkatnya.
d. Penghargaan kelompok Perolehan skor anggota kelompok dirata-rata
menjadi skor kelompok. Individu dan kelompok yang mencapai kriteria skor
tertentu mendapat penghargaaan.
Menurut
Slavin dalam Sunarto (2010:62-63).,pembelajaran koopratif tipe TGT terdiri atas
5 langkah tahapan, yaitu tahap penyajian kelas (class precentation),
pembelajaran dalam kelompok (teams), permainan (games),
pertandingan(tournament), dan perhargaan kelompok(team recognition).
Berdasarkan apa yang di ungkakan oleh slavin, model pembelajaran cooperative
tipe TGT memili ciri-ciri berikut :
a. Siswa bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil
Siswa
di tempatkan dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6
orang yang memiliki kemampuan,jenis kelamin,dan suku atau ras yang berbeda.
Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa
untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang
berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran.
b. Games tounamen
Dalam
permainan ini setiap siswa yang besaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa
yang memilki kelompoknya, masing-masing di tempatkan dalam meja-meja turnamen.
Dalam setiap meja turnamen di usahankan setiap peserta mogen.
c. Penghargaan kelompok
Langkah
pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rata-rata
skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara
menjumlahkan skor yang diperoleh masing-masing anggota kelompok dibagi dengan
banyaknya anggota kelompok.
According
to Soetjipto (2013) in Frianto, et al.,(2016 : 75), Team Game Tournament
procedure is as follows :
1. teachers divide students into groups of
4-5 heterogeneous students;
2. in the tournament table, students are
grouped according to the respective ability level;
3. students occupy the tournament table
guided judges and auxiliary judges;
4. carry out the tournament;
5. scoring.
Terjemahan
:
Menurut
Soetjipto (2013) dalam Frianto, dkk (2016: 75), prosedur Team
Game
Tournament adalah sebagai berikut
1. guru membagi siswa ke dalam kelompok
4-5 siswa heterogen;
2. di meja turnamen, siswa dikelompokkan
sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing; 3. siswa menduduki meja turnamen
memandu hakim dan hakim tambahan; 4.
melaksanakan turnamen;
5.
penilaian.
According
to Gonzalez and Arturo, et al.,(2014 : 9), A TGT is organised to facilitate
sharing of those questions among students as follows:
1. The facilitator introduces the topic in
lectures. This introduction lays the basis for the partial or full
accomplishment of a learning outcome.
2. Students work in small teams to prepare
questions and their answers related to the topic and in agreement with specific
guidelines provided by the facilitator that aim to meet the learning
outcome.
3. Students answer questions proposed by
other team.
4. Students are assigned scores according
to their individual performance (quality of proposed questions and accuracy of
answers) and their team performance (based on how their answers compared to
answers by other team).
Terjemahan
:
Menurut
Gonzalez dan Arturo,dkk, (2014: 9), TGT diatur untuk memfasilitasi berbagi
pertanyaan-pertanyaan di antara siswa sebagai berikut:
1. Fasilitator memperkenalkan topik dalam
kuliah. Pengenalan ini meletakkan dasar bagi pencapaian hasil pembelajaran
parsial atau penuh.
2. Siswa bekerja dalam tim kecil untuk
mempersiapkan pertanyaan dan jawaban mereka terkait dengan topik dan sesuai
dengan pedoman khusus yang disediakan oleh fasilitator yang bertujuan untuk
memenuhi hasil pembelajaran. 3. Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
tim lain.
4.
Siswa diberi nilai sesuai dengan kinerjanya masing-masing (kualitas pertanyaan
yang diajukan dan akurasi jawaban) dan kinerja tim mereka (berdasarkan
bagaimana jawaban mereka dibandingkan jawaban oleh tim lain).
According
to Ritonga ( 2017 : 121 – 122), Steps in the Implementation of Cooperative
Learning TGT Type (Teams Games Tournament).According to Etin and Raharjo (2007:
20) in general there are 5 main components in the application of TGT model,
they are:
1. Class Presentations At the beginning of
the lesson, the teacher presents the material in class presentation or often
also called class presentation. This activity is usually done by direct
instruction or by a teacher-led lecture. At the time of presenting this class,
the student should really pay attention and understand the material presented
by the teacher, as it will help the students work better during group work and
at the time of game because game score will determine group score.
2. Group (Teams) Groups usually consist of
4 to 5 students whose members are heterogeneous in terms of academic
achievement, gender and race or ethnicity. The group function is to deepen the
material with the group's friends and more specifically to prepare the group
members to work properly and optimally during game. After the teacher presents
the class presentation, the group (team or study group) is in charge of
studying the worksheet. In this group learning the students' activities are
discussing problems, comparing answers, checking, and correcting the mistakes
of their friend's concepts if a group friend made a mistake.
3. Games
The game consists of questions relevant to the material, and is designed
to test students' knowledge of classroom presentation and group learning. Most
games consist of simple numbered questions. This game is played on the table of
the tournament or race by 3 students representing the team or group
respectively. The student selects the numbered card and tries
to
answer the question according to the number. Students who correctly answer the
question will get a score. These scores are later collected students for a
tournament or weekly race.
4. Tournament or Contest Tournaments or competitions are learning
structures, where games happen. Usually tournaments or competitions are done at
the end of the week or on each unit after the teacher makes a class
presentation and the group is already working on the student worksheet. The
teacher's first tournament or contest divides the students into several
tournament or race tables. The three highest students of his achievement are
grouped on table I, the next three students on table II and beyond.
5. Group Award (Team Recognition) After
the tournament or race ends, the teacher then announces the winning group, each
team or group will get a certificate or prize if the average score meets a
predetermined criteria. Team or group gets the nickname "Super Team"
if the average score 50 or more, "Great Team" if the average reaches
50-40 and "Good Team" if the average less than 40. This can please
the students for the achievements they have made.
Terjemahan
:
Menurut
Ritonga (2017: 121 - 122), Langkah-Langkah dalam Pelaksanaan Pembelajaran
Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) .Menurut Etin dan Raharjo (2007:
20) secara umum ada 5 komponen utama dalam penerapan model TGT, mereka:
1. Presentasi Kelas Pada awal pelajaran,
guru menyajikan materi dalam presentasi kelas atau sering juga disebut
presentasi kelas. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan instruksi langsung
atau oleh ceramah yang dipimpin guru. Pada saat menyajikan kelas ini, siswa
harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disajikan oleh guru,
karena akan membantu siswa bekerja lebih baik selama kerja kelompok dan pada
saat permainan karena skor pertandingan akan menentukan skor grup.
2. kelompok, Kelompok biasanya terdiri
dari 4 hingga 5 siswa yang anggotanya heterogen dalam hal prestasi akademik,
jenis kelamin dan ras atau etnis. Fungsi kelompok adalah memperdalam materi
dengan teman-teman kelompok dan lebih khusus lagi untuk mempersiapkan anggota
kelompok agar berfungsi dengan baik dan optimal selama pertandingan. Setelah
guru menyajikan presentasi kelas, kelompok (tim atau kelompok belajar) bertugas
mempelajari lembar kerja. Dalam kelompok ini belajar aktivitas siswa
mendiskusikan masalah, membandingkan jawaban, memeriksa, dan mengoreksi
kesalahan konsep teman mereka jika teman grup membuat kesalahan.
3. Permainan, Permainan ini terdiri dari
pertanyaan yang relevan dengan materi, dan dirancang untuk menguji pengetahuan
siswa tentang presentasi kelas dan pembelajaran kelompok. Kebanyakan permainan
terdiri dari pertanyaan bernomor sederhana. Game ini dimainkan di meja turnamen
atau lomba oleh 3 siswa yang mewakili tim atau grup masing-masing. Siswa
memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor.
Siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapatkan skor. Skor ini
kemudian dikumpulkan siswa untuk turnamen atau balapan mingguan.
4. Turnamen atau Kontes Turnamen atau
kompetisi adalah struktur pembelajaran, tempat permainan terjadi. Biasanya
turnamen atau kompetisi dilakukan pada akhir minggu atau di setiap unit setelah
guru membuat presentasi kelas dan kelompok sudah bekerja pada lembar kerja
siswa. Turnamen atau kontes pertama guru membagi siswa menjadi beberapa
turnamen atau tabel balapan. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan
dalam tabel I, tiga siswa berikutnya pada tabel II dan seterusnya.
5. Group Award (Team Recognition) Setelah
turnamen atau balapan berakhir, guru kemudian mengumumkan kelompok pemenang,
setiap tim atau kelompok akan mendapatkan sertifikat atau hadiah jika skor
rata-rata memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Tim atau grup mendapat
julukan "Super Team" jika skor rata-rata 50 atau lebih, "Great
Team" jika rata-rata mencapai 50-40 dan "Good Team" jika
rata-rata kurang dari 40. Ini dapat menyenangkan para siswa untuk pencapaian
mereka telah membuat.
Killen,
Roy. (2006: 197), TGT was Slavin’s original version of co_operation learning (
DelVries dan Slavin, 1978). It similar to STAD in that you present information
to learnes and then they help one another learn. The different is that the
quinezzes are replaced with tournaments in which learnes compete with members
of other teams in order to gain points for their home team. To use this
strategy you would follow these steps :
1. Follow steps 1 to 5 that STAD approach.
2. While the learnes are learning in their
groups, review your records of their learning progress over the past few lesson
so that you can classify each learner as
low, medium or high achiver at this time and for this aspect of their learning. (Remember the ORE
principle that learnes learn at different rates and in different ways and do
not fall into the trap of thinking that a learner lacks ability simply because
she/he is behind the learning of other members of the class at this time.)
3. When is time to check on what the
learnes have learned, select three at a time for the ‘tournament’. The tree
learnes should be from the same category ( low, medium or high achievers), but
from different groups.
4. Pose a series of questions ( perharps
four) to the ‘contestans’ who will be trying to be the first to answer (just
like a quiz show on TV)
5. At the end of the round (after four
questions, or more if you need a ‘tie breaker’) the winner earms one point for
his/her team regardless of how many questions they answered correctly or how
difficult the questions were. Terjemahan :
Killen,
Roy, (2006: 197), TGT adalah versi pembelajaran kooperatif Slavin (DelVries dan
Slavin, 1978). Ini mirip dengan STAD di mana Anda menyajikan informasi untuk
belajar dan kemudian mereka saling membantu belajar. Perbedaannya adalah
quinezzes diganti dengan turnamen di mana peserta belajar berkompetisi dengan
anggota tim lain untuk mendapatkan poin bagi tim tuan rumah mereka. Untuk
menggunakan strategi ini, Anda akan mengikuti langkah-langkah berikut:
1. Ikuti langkah 1 hingga 5 yang
pendekatan STAD.
2. Sementara para siswa belajar dalam
kelompok mereka, tinjau catatan Anda tentang kemajuan belajar mereka selama
beberapa pelajaran terakhir sehingga Anda dapat mengklasifikasikan setiap
pelajar sebagai makhluk rendah, sedang atau tinggi pada saat ini dan untuk
aspek pembelajaran mereka. (Ingat prinsip ORE yang belajar belajar pada tingkat
yang berbeda dan dengan cara yang berbeda dan tidak jatuh ke dalam perangkap
berpikir bahwa pembelajar tidak memiliki kemampuan hanya karena dia berada di
belakang pembelajaran anggota lain dari kelas saat ini.)
3. Kapan waktu untuk memeriksa apa yang
telah dipelajari siswa, pilih tiga pada saat untuk 'turnamen'. Pohon belajar
harus berasal dari kategori yang sama (rendah, menengah atau tinggi yang
berprestasi), tetapi dari kelompok yang berbeda.
4. Ajukan serangkaian pertanyaan (perharps
empat) kepada ‘kontestan’ yang akan mencoba menjadi yang pertama menjawab
(seperti acara kuis di TV) 5. Pada akhir putaran (setelah empat pertanyaan,
atau lebih jika Anda membutuhkan ‘tie breaker’), pemenang memberikan satu poin
untuk timnya terlepas dari berapa banyak pertanyaan yang mereka jawab dengan
benar atau seberapa sulit pertanyaannya.
Feed
teacher Toni Johnson uses Teams-Games-Tournaments to help students master
content and review before unit test. Currently, Toni and her students are
nearing the end of a unit a Freench geography and culture. For the tournament,
Toni prepares the following materials ( F. Silver, Harvey,dkk. 2007 : 57-58 ).
• Several decks of question cards. Each
deek contains the same. 35 question cardsin four separate categories:
geography; cultural customs and heritage ; conjugation ; and translation;
• A corresponding answer sheet, with
answers cued by number to each question card
• A review and study worksheet focused
on the content of the tournament to help students prepare for the
competition Terjemahan :
Pakan
guru Toni Johnson menggunakan Teams-Games-Tournaments untuk membantu siswa
menguasai konten dan meninjau sebelum tes unit. Saat ini, Toni dan
murid-muridnya mendekati akhir sebuah unit geografi dan budaya Freench. Untuk
turnamen, Toni menyiapkan materi-materi berikut (F. Silver, Harvey, dkk. 2007:
57-58).
• Beberapa setumpuk kartu soal. Setiap
deek mengandung hal yang sama. 35 kartu pertanyaan dalam empat kategori
terpisah: geografi; budaya dan warisan budaya; konjugasi; dan terjemahan
• Lembar jawaban yang sesuai, dengan
jawaban yang diberi nomor ke setiap kartu pertanyaan
• Sebuah pustaka dan lembar kerja studi
terfokus pada isi dari turnamen untuk membantu siswa mempersiapkan diri untuk
kompetisi
Team
Game Tournament adalah salah satu tipe
pembelajaran cooperative yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis
kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa
bekerja dalam kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelompok guru
memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan
bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang
tidak mengerti dengan tugas yang diberikan , maka anggota kelompokyang lain
bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum
mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru (Husdarta, dkk. 2017 : 195).
Dalam permainan akademik siswa akan
dibagi-bagi dalam meja-meja tournament, dimana setiap meja turnamen terdiri
dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompokny masing-masing. Dalam
setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari
kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen
dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap
peserta diusahakan agar setara. Hal ini
dapat ditentukan dengan melihat nilai yang mereka peroleh pada saat pre-test.
Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar
pencatat skor. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor yang
diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok
tersebut. Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa
sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu (Husdarta, dkk. 2017 : 195).
Sebelum
turnamen dimulai, guru mererangkan secara ringkas konsepkonsep pembelajarannya.
Tahap selanjutnya adalah pembentukan kelompok secara heterogen, dimana setiap
kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Setiap kelompok bertugas untuk mendalami
materi secara bersauru berfungsi sebagai fasilitator dan mediator. Setelah
selesai diskusi, siswa ditugaskan pada mejameja tournament atau pertandingan
untuk 3 sampai 4 siswa yang memiliki kemampuan akademis yang hampIr sama
(Mariyangningsih,2018:48-49).
2.
Sistem Sosial
Menurut
Warsiman (2016: 58) sistem sosial adalah
pola hubungan guru dengan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Adapun sistem sosial pada model Teams Games Tournament (TGT) menurut Sutirman
(2013) dalam solihah (2016 : 48-49) yaitu pembentukan kelompok. Kelompok
terdiri dari 45 orang yang bersifat heterogen dalam hal prestasi belajar, jenis
kelamin, suku, maupun lainnya.
Siswa
di tempatkan dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6
orang yang memiliki kemampuan,jenis kelamin,dan suku atau ras yang berbeda.
Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa
untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang
berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran ( Slavin dalam Sunarto,
2010:62).
3.
Prinsip Aksi Reaksi
Menurut
Warsiman (2016: 59) prinsip reaksi bermakna sikap dan perilaku guru dalam
mengendalikan jalannya proses pembelajaran berlangusng. Prinsip reaksi
merupakan hal terpenting yang harus diemban oleh seorang guru. Guru harus
melakukan suatu tindakan agar kegiatan di kelas dapat berjalan sesuai dengan
rencana.
Dalam
model pembelajaran kooperatif tipe TGT, pola hubungan antara guru dan siswa
yaitu terjadi interaksi dua arah, yang artinya interaksi yang terjadi antara
guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa yang lain. Proses pembelajaran
dalam model TGT lebih berpusat pada siswa. Menurut Kurniasih, (2012) dalam
solihah (2016 : 47) Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau
metode pembelajaran kooperatif yang mudah di terapkan, melibatkan aktivitas
seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan
status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur
permainan. Dengan pembelajaran seperti itu
menurut Sari ( 2011 : 817-818) Pembelajaran kooperatif TGT memungkinkan
siswa dapat belajar lebih rileks di samping menumbuhkan tanggung jawab,
kerjasama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar.
4.
Sistem Pendukung
Menurut
Warsiman (2016: 59) penunjang keberhasilan pembelajaran merupakan segala
sesuatu yang menjadi bagian dari pembelajaran proses pembelajaran. Unsur-unsur
penunjang tersebut berupa alat-alat, bahan, dan sumber belajar yang diperlukan
oleh siswa dalam proses pembelajaran. Segala sesuatu yang diperlukan untuk
mendorong proses pembelajaran diupayakan untuk dipenuhi.
Dalam
kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan
dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota
kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan , maka anggota
kelompokyang lain bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau
menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru (Husdarta,
dkk. 2017 : 195).
Sistem
pendukung juga dapat berupa meja turnamen seperti menurut Sutirman dalam
solihah (2016 : 48-49), Teknis pelaksanaan permainan turnamen ini adalah
dimulai dengan guru merangking siswa dalam setiap kelompok. Menyiapkan meja
turnamen sebanyak jumlah anggota dalam kelompok. Jika tiap kelompok
beranggotakan 4 orang, maka disiapkan empat meja. Meja pertama diisi oleh siswa
dengan rangking pertama di setiap kelompok, meja kedua diisi oleh siswa dengan
rangking kedua di setiap kelompok, meja ketiga diisi oleh siswa dengan rangking
ketiga di setiap kelompok, meja keempat diisi oleh siswa dengan rangking empat
di setiap kelompok. Setiap siswa dapat berpindah meja berdasarkan prestasi yang
diperolehnya pada turnamen.
Feed
teacher Toni Johnson uses Teams-Games-Tournaments to help students master
content and review before unit test. Currently, Toni and her students are nearing
the end of a unit a Freench geography and culture. For the tournament, Toni
prepares the following materials ( F. Silver, Harvey,dkk. 2007 : 57-58 ).
• Several decks of question cards. Each
deek contains the same. 35 question cardsin four separate categories:
geography; cultural customs and heritage ; conjugation ; and translation;
• A corresponding answer sheet, with
answers cued by number to each question card
• A review and study worksheet focused
on the content of the tournament to help students prepare for the
competition Terjemahan :
Guru Toni Johnson menggunakan
Teams-Games-Tournaments untuk membantu siswa menguasai konten dan meninjau
sebelum tes unit. Saat ini, Toni dan murid-muridnya mendekati akhir sebuah unit
geografi dan budaya Freench. Untuk turnamen, Toni menyiapkan materi-materi
berikut (F. Silver, Harvey, dkk. 2007: 57-58).
• Beberapa setumpuk kartu soal. Setiap
deek mengandung hal yang sama. 35 kartu pertanyaan dalam empat kategori
terpisah: geografi; budaya dan warisan budaya; konjugasi; dan terjemahan
• Lembar jawaban yang sesuai, dengan
jawaban yang diberi nomor ke setiap kartu pertanyaan
• Sebuah pustaka dan lembar kerja studi
terfokus pada isi dari turnamen untuk membantu siswa mempersiapkan diri untuk
kompetisi
2.1.4
Roles of the Facilitator (teacher) in TGT ( Teams Games Tournament) /
Peran
guru sebagai fasilitator dalam TGT ( Teams Games Tournament)
According
to Gonzalez and Arturo, et al., (2014 : 12-13), The roles of the facilitator
include:
1. To provide a prior knowledge in
lectures that serves the basis for the topic to be dealt with in the respective
matches.
2. To get the tournament started, to
establish and to clarify rules and concepts.
3. To contribute to integrate members of
each team, promote participation and commitment and relieve any strain within
or between teams.
4. To encourage and support teams and act
as a source of information available to the students.
5. To act as a referee during the game,
i.e., to decide if a question is valid or not. A significant difference with
other approaches is that questions are proposed by the students, which can lead
to a number of conflicts such as the possibility of the question being unclear,
incomplete, inappropriate or not achievable within the allocated time.
6. To decide the outcome of a match, i.e.,
if an answer by a team is better, equal or worse than the answer by a second
team. The facilitator will judge questions and answers on the basis of clarity,
complexity, and level of understanding and reflection. In this process, it will
become possible to compare the student’s perception of what is important and
what is not, to that of the facilitator. The facilitator will be able to
evaluate if the right thing has been transmitted.
7. To provide feedback to the teams.
Selected games including questions and corrected answers (signalling typical
errors) will be scanned and uploaded online and discussed in lectures. Only
the names of those students that score
are revealed to emphasize their contribution to the team.
8. To keep accurate and periodic records
of individual performances.
9. To recognize team scores in form of an
updated classification table. Following a match, the table is uploaded and made
available online and eventually reported in lectures.
Terjemahan
:
Menurut
Gonzalez dan Arturo, dkk., (2014: 12-13), Peran fasilitator meliputi:
1. Untuk memberikan pengetahuan sebelumnya
dalam kuliah yang melayani dasar untuk topik yang akan dibahas dalam
pertandingan masing-masing.
2. Untuk memulai turnamen, untuk
menetapkan dan mengklarifikasi aturan dan konsep.
3. Untuk berkontribusi dalam
mengintegrasikan anggota masing-masing tim, meningkatkan partisipasi dan
komitmen serta mengurangi ketegangan di dalam atau di antara tim.
4. Untuk mendorong dan mendukung tim dan
bertindak sebagai sumber informasi yang tersedia bagi para siswa.
5. Bertindak sebagai wasit selama
pertandingan, yaitu, untuk memutuskan apakah suatu pertanyaan valid atau tidak.
Perbedaan yang signifikan dengan pendekatan lain adalah bahwa pertanyaan
diajukan oleh siswa, yang dapat menyebabkan sejumlah konflik seperti
kemungkinan pertanyaan menjadi tidak jelas, tidak lengkap, tidak pantas atau
tidak dapat dicapai dalam waktu yang dialokasikan.
6. Untuk memutuskan hasil pertandingan,
yaitu, jika jawaban oleh tim lebih baik, sama atau lebih buruk daripada jawaban
oleh tim kedua. Fasilitator akan menilai pertanyaan dan jawaban atas dasar
kejelasan, kompleksitas, dan tingkat pemahaman dan refleksi. Dalam proses ini,
akan mungkin membandingkan persepsi siswa tentang apa yang penting dan apa yang
tidak, dengan fasilitator. Fasilitator akan dapat mengevaluasi apakah hal yang
benar telah ditransmisikan.
7. Untuk memberikan umpan balik kepada
tim. Permainan yang dipilih termasuk pertanyaan dan jawaban yang dikoreksi
(menandakan kesalahan yang khas) akan dipindai dan diunggah secara online dan
dibahas dalam kuliah. Hanya itu nama-nama siswa yang skor diturunkan untuk
menekankan kontribusi mereka kepada tim.
8. Untuk menyimpan catatan kinerja
individu yang akurat dan berkala.
9. Untuk mengenali skor tim dalam bentuk
tabel klasifikasi yang diperbarui. Setelah pertandingan, tabel diunggah dan
tersedia online dan akhirnya dilaporkan dalam kuliah.
2.1.5
Kelebihan dan kelemahan Model TGT ( Teams Games Tournament)
Menurut
Suarjana (2000) dalam Ekocin (2011) dalam solihah (2016 : 49) menyatakan model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) memiliki beberapa kelebihan di
antaranya:
(a) lebih meningkatkan pencurahan waktu
untuk tugas,
(b) mengedepankan penerimaan terhadap
perbedaan individu,
(c) dengan waktu yang sedikit siswa dapat
menguasai materi secara mendalam,
(d) proses belajar mengajar berlangsung
dengan keaktifan dari siswa,
(e) motivasi belajar lebih tinggi, serta
(f) mendidik siswa untuk berlatih
bersosialisasi dengan orang lain.
kooperatif
tipe TGT unggul dalam membantu siswa memahami konsep-
konsep
sulit. Pembelajaran kooperatif juga memberikan efek terhadap sikap perbedaan
antar-individu baik ras maupun ragam budaya ( Wiwit, dkk, 2012 : 72).
According
to Gonzalez and Arturo, et al.,(2014 : 17 - 18), Compared to a traditional
tutorial format as described before, in the proposed TGT format:
1. Students are more focused and interact
more. In the 1st match, the facilitator noticed more discussion among the 3rd
year’ students than the more mature 4th year’s, although, overall, students
worked rather individually, doing their own thing, without paying too much
attention to their team mates. In the 2nd and further matches, the attitude
changed, and students shared knowledge with their peers and supported each
other significantly. This is in agreement with previous research that indicates
a minimum period of exposure to CL is necessary before becoming efficient in
developing critical thinking and social skills [34, 35]. Initially, it could
have been thought that those teams composed of only Civil Engineering students
or only Structural Engineers with Architecture would perform better than more
academically heterogeneous teams given that they knew each other longer and
probably worked together in the past. The latter could have been a trigger to
experience the positive effects of CL from an early start. However, there was a
close competition without a team that clearly stood above the others.
2. Students are more enthusiastic and
appear to enjoy more themselves. After completing a session they would let us
know they were looking forward to the results of the matches or an anecdotic
“Good Game!” would be pointed by a student to a student of other team. From the
2nd match onwards, students appear relaxed and often make their opponents smile
on the challenge they are confronting them with.
3. There is a higher level of
participation and commitment. All students participate and they do it in an
original way, proposing a different question and answer. They do so as they are
aware otherwise they or their team will not be rewarded and assessed
positively. In traditional tutorials involving group work, the danger of having
a reduced number of people doing most of the work is considerably higher.
4. A valuable and relatively large
database of questions and corrected answers (including typical errors or
misconceptions) is generated and made available online to all students. This
database is a relative measure of how far critical thinking and level of
reflection has been developed compared to other.
approaches
with fixed questions and answers.
Terjemahan
:
Menurut
Gonzalez dan Arturo, dkk., (2014: 17 - 18), Dibandingkan dengan format tutorial
tradisional seperti yang dijelaskan sebelumnya, dalam format TGT yang
diusulkan:
1. Siswa lebih fokus dan berinteraksi
lebih banyak. Pada pertandingan pertama, fasilitator memperhatikan lebih banyak
diskusi di antara siswa tahun ke-3 daripada tahun keempat yang lebih dewasa,
meskipun, secara keseluruhan, siswa bekerja lebih individual, melakukan hal
mereka sendiri, tanpa terlalu memperhatikan rekan tim mereka. Pada pertandingan
kedua dan selanjutnya, sikap berubah, dan siswa berbagi pengetahuan dengan
rekan-rekan mereka dan saling mendukung secara signifikan. Ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya yang menunjukkan periode minimum paparan CL diperlukan
sebelum menjadi efisien dalam mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan
sosial [34, 35]. Awalnya, bisa saja berpikir bahwa tim-tim yang terdiri dari
hanya mahasiswa Teknik Sipil atau hanya Insinyur Struktural dengan Arsitektur
akan melakukan lebih baik daripada tim yang lebih heterogen secara akademis
mengingat bahwa mereka saling mengenal lebih lama dan mungkin bekerja sama di
masa lalu. Yang terakhir bisa menjadi pemicu untuk mengalami efek positif dari
CL sejak awal. Namun, ada persaingan ketat tanpa tim yang jelas berdiri di atas
yang lain.
2. Siswa lebih antusias dan tampak
menikmati diri mereka sendiri. Setelah menyelesaikan sesi, mereka akan memberi
tahu kami bahwa mereka menantikan hasil pertandingan atau anekdot "Good
Game!" Akan ditunjukkan
oleh
seorang siswa kepada siswa dari tim lain. Dari pertandingan ke-2 dan
seterusnya, siswa tampak santai dan sering membuat lawan mereka tersenyum pada
tantangan yang mereka hadapi.
3. Ada tingkat partisipasi dan komitmen
yang lebih tinggi. Semua siswa berpartisipasi dan mereka melakukannya dengan
cara yang asli, mengajukan pertanyaan dan jawaban yang berbeda. Mereka
melakukannya karena mereka sadar kalau tidak mereka atau tim mereka tidak akan
dihargai dan dinilai positif. Dalam tutorial tradisional yang melibatkan kerja
kelompok, bahaya berkurangnya jumlah orang yang melakukan sebagian besar
pekerjaan jauh lebih tinggi.
4. Database pertanyaan yang berharga dan
relatif besar dan jawaban yang dikoreksi (termasuk kesalahan atau miskonsepsi
yang khas) dihasilkan dan tersedia online untuk semua siswa. Database ini
adalah ukuran relatif dari seberapa jauh pemikiran kritis dan tingkat refleksi
telah dikembangkan dibandingkan dengan yang lain. pendekatan dengan pertanyaan
dan jawaban yang tetap.
As
quoted from DeVries (1980: 5), TGT works for several reasons as a teaching
technique. First, it capitalizes on the cooperative aspects of small groups,
the motivational nature of instructional games, the competitive spirit of
tournaments and the students’ familiarity with all of these. Second TGT is
inexpensive. It does not require costly materials or special facilities. TGT
uses only materials and equipment available in most schools – even those whose
budgets are limited and it is at home in any kind of physical classroom
structure. Third, TGT is easy to implement. It is designed to be used in
30-to-45-minute class periods, in any subject, with elementary and secondary
school students, in conventional and experimental classroom arrangements (
Yopita, 2017 : 23 ).
Terjemahan
:
Seperti
dikutip dari DeVries (1980: 5), TGT bekerja untuk beberapa alasan sebagai
teknik mengajar. Pertama, ia mengkapitalisasi pada aspek kooperatif dari
kelompok-kelompok kecil, sifat motivasi dari permainan instruksional, semangat
kompetisi turnamen dan keakraban siswa dengan semua ini. TGT kedua tidak mahal.
Tidak membutuhkan material mahal atau fasilitas khusus. TGT hanya menggunakan
bahan dan peralatan yang tersedia di sebagian besar sekolah - bahkan mereka yang
anggarannya terbatas dan berada di rumah dalam bentuk struktur kelas fisik apa
pun. Ketiga, TGT mudah diterapkan. Ini dirancang untuk digunakan dalam periode
kelas 30 hingga 45 menit, dalam mata pelajaran apa pun, dengan siswa sekolah
dasar dan menengah, dalam pengaturan kelas konvensional dan eksperimental
(Yopita, 2017: 23).
Penggunaan
media pembelajaran dalam games turnamen dapat mempertinggi proses belajar siswa
yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang
dicapainya. Keunggulan media permainan sebagai media pembelajaran adalah dapat
menciptakan suasana yang lebih mendorong siswa dalam berpratisipasi aktif untuk
belajar, dapat menciptakan komunikasi timbal balik langsung, serta menarik
untuk dilakukan karena didalamnya ada unsur kompetisi. Model pembelajaran
komperatif tipe TGT dengan menggunakan permainan multimedia cocok digunakan
sebagai model dan media pembelajaran ekonomi kompetensi dasar menjelaskan
konsep permintaan dan penawaran uang yang tidak hanya membuttuhkan hafalan,
tetapi juga membutuhkan pemahaman dan analisis siwa (Yulhendri dan Syofyan.
2016 : 58-59).
Di
dalam TGT juga terdapat kelemahan di antaranya: bagi guru sulitnya
mengelompokkan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis,
serta adanya siswa berkemampuan tinggi yang kurang terbiasa dan sulit
memberikan penjelasan kepada temannya (Suarjana dalam Ekocin dalam solihah ,
2016
: 49)
2.2
kajian kritis
TGT
adalah teknik pengajaran kelompok kecil yang inovatif. Metode ini didasarkan
pada teori saat ini, berlaku untuk beragam masalah dan pengaturan, dan
memberikan kriteria yang jelas untuk mengevaluasi efek program. Teknik ini
mengubah struktur kelas tradisional dan memberikan setiap siswa kesempatan yang
sama untuk mencapai dan menerima penguatan positif dari rekan-rekan dengan
memanfaatkan kerjasama tim, popularitas permainan, dan semangat turnamen
kompetitif. Selama turnamen, siswa mendapatkan poin untuk tim studi mereka
dengan menjawab pertanyaan dan menantang jawaban pemain lain. Dengan demikian,
tim studi yang tidak kooperatif - yang melakukan pekerjaan terbaik untuk
menyiapkan semua anggota untuk berhasil dalam poin paling kompetitif di bumi.
Ini mirip dengan STAD di mana Anda menyajikan informasi untuk belajar dan
kemudian mereka saling membantu belajar. Perbedaannya adalah quinezzes diganti
dengan turnamen di mana peserta belajar berkompetisi dengan anggota tim lain
untuk mendapatkan poin bagi tim tuan rumah mereka. TGT cocok untuk jenis yang
sama dari materi pelajaran dan hasil belajar sebagai STAD. Ini membutuhkan
lebih banyak organisasi daripada STAD, tetapi bisa sangat memotivasi untuk
belajar. Variasi untuk TGT adalah agar peserta menyelesaikan satu sama lain
sebagai tim daripada sebagai individu - tim mencoba untuk menjadi yang pertama
menjawab pertanyaan. Ini wajan terbaik ketika tiga tidak banyak perbedaan dalam
kemampuan dan kemajuan belajar dari belajar di kelas, sebaliknya itu menjadi
didominasi oleh orang yang berprestasi tinggi. TGT mirip dengan STAD, tetapi
alih-alih kuis, para siswa memainkan permainan akademis yang bersaing dengan
individu dengan tingkat kemampuan yang sama.
BAB
III
PENUTUP
3.1
kesimpulan
Berdasarkan
pembahsan di atas, dapat disimpulkan model pembelajaran TGT adalah strategi
pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok belajar yang beranggotakan
4-5 orang siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda, dimulai dari guru
menyampaikan tujuan pembelajaran serta menyajikan materi, dan siswa bekerja
serta saling membantu dalam kelompok masing-masing untuk menyelesaikan tugas
atau memahami materi pelajaran dengan bimbingan guru, dan di akhir pembelajaran
diadakan turnamen untuk memastikan seluruh siswa menguasai materi pelajaran.
Dalam
permainan akademik siswa akan dibagi-bagi dalam meja-meja tournament, dimana
setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari
kelompokny masing-masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada
peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu
meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu
meja turnamen kemampuan setiap peserta
diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai
yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap peserta
dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok
diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor yang diperoleh anggota suatu kelompok,
kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini
digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa sertifikat dengan
mencantumkan predikat tertentu
Model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) memiliki beberapa kelebihan di
antaranya: lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas, mengedepankan
penerimaan terhadap perbedaan individu, dengan waktu yang sedikit siswa dapat
menguasai materi secara mendalam, proses
belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa, motivasi belajar
lebih tinggi, serta mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang
lain.
Di
dalam TGT juga terdapat kelemahan di antaranya: bagi guru sulitnya
mengelompokkan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis,
serta adanya siswa berkemampuan tinggi yang kurang terbiasa dan sulit
memberikan penjelasan kepada temannya.
3.2
Saran
Model pembelajaran merupakan komponen yang
penting dalam proses belajar dan pembelajaran, karena minat siswa dalam belajar
tergantung dengan bagaimana guru tersebut menyampaikan materi yang
diajarkannya. Oleh karena itu, sebaiknya pendidik memilih dengan bijak dengan
mempertimbangkan beberapa factor untuk memilih model pembelajaran yang akan
menjadi dasar dalam menyampaikan materi pembelajarannya.
DAFTAR
PUSTAKA
E. Slavin, Robert.1996. Education For All
. Lisse: Swets & Zeitlinger
F. Silver, Harvey,dkk. 2007. The Strategic
Teacher. America : United States of America
Frianto,
et al. 2016. The Implementation of Cooperative Learning Model Team Game
Tournament and Fan N Pick To Enhance Motivation and Social Studies Learning
Outcomes. IOSR Journal Of Humanities And Social Science (IOSR-JHSS).Volume 21,
Issue 5. e-ISSN: 2279-0837, p-ISSN: 2279-0845.
Gonzalez
and Arturo, et al. 2014. Multi-faceted Impact of a Team Game Tournament on the
Ability of the Learners to Engage and Develop their Own Critical Skill Set.
International Journal of Engineering Education. 30 (5):
12131224.
Husarda,
dkk. 2017. Proseding Seminar Nasional Pendidikan Jasmani 2017.
Sumedang
: UPI Sumedang Press
Kamariyah,
E.I. 2006. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games
Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar Siswa SMA. Jurnal
Pemikiran
Penelitian Pendidikan dan Sains. Vol. 4, No. 1. p-ISSN : 23379820.
Killen,
Roy.2006. Effective Teaching Strategies . Newscastle : Cengage Learning
Australia
Musyafa,
W.N. dan Djatmiko, R.D. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games
Tournament (TGT) Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Teknik Pegelasan.
E-Jurnal Pendidikan Teknik Mesin. Volume 3, Nomor 5.
Nining
Mariyaningsih dan Mistiya Hidayati. 2018. Bukan Kelas Biasa Teori dan Praktik
Berbagai Model dan Metode Pembelajaran Menerapkan Inovasi Pembelajaran di
Kelas-kelas Inspiratif.Surakarta: CV
KEKATA GROUB.
Rosyana,
W., dan Mulyani, S., dkk. 2014. Pembelajaran Model TGT (Teams Games Tournament)
Menggunakan Media Permainan Monopoli dan Permainan Ular Tangga Pada Materi Pokok
Sistem Koloid Ditinjau dari
Kemampuan
Memori Kelas XI SMA Negeri 1 Sragen Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal
Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 3 No. 2.
Ritonga,
M.N. 2017. Application Of Team Games Tournament To Increase
Students’
Knowledge In National Economic Of Indonesia. Asian Journal of Management
Sciences & Education. Vol. 6(4). ISSN: 2186-845X. ISSN:
2186-8441.
Solihah,
ai. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) Terhadap
Hasil Belajar Matematika. Jurnal SAP. Vol. 1. No. 1. ISSN: 2527-967X.
Salam,
A., and Hossain, A. 2015. Effects of using Teams Games Tournaments (TGT)
Cooperative Technique for Learning Mathematics in Secondary Schools of
Bangladesh. Malaysian Online Journal of Educational Technology. Volume 3. Issue
3.
Sari,
E.A. 2011. Penerapan Model TGT (Teams-Games-Tournaments) Sebagai
Upaya
Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas X-B SMA Ma’arif
Pandaan-Pasuruan
Tahun Ajaran 2008/2009. Jurnal Artikulasi Vol.12 No.2.
Sunarto,
dkk. 2010. Pakematik Strategi Pembelajaran Inofavatif Berbasis TIK.
Jakarta
: Elek Media Komputindo.
Tan,
Ivy Geok-Chin, dkk. 2006. Group Investigation and Student Learning. Singapore :
Marshall Cavendis Academic.
Titi
Huriah. 2018. Metode Student Center Learning Aplikasi pada Pendidikan
Keperawatan Edisi Pertama. Jakarta : Prenademia Grub.
Warsiman.
2016. Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis . Malang : Universitas
Brawijaya Press.
Wiwit.,
dkk. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT dengan dan Tanpa
Penggunaan Media Animasi Terhadap Hasil
Belajar Kimia Siswa SMA Negeri 9 Kota Bengkulu. Jurnal Exacta, Vol. X No. 1.
ISSN 1412-3617.
Wodarski,
John.S, dkk . 2015.Evidence – infrormed Assessment and Practicein Child
Welfare. USA : Springer.
Yovita,
Diania. 2017. Young Learners’ Achievement Towards The Use Of
TeamGames-Tournament (TGTt) Technique and Flashcards Teaching Technique In
Learning Grammar. Magister Scientiae - ISSN: 0852-078X 20
Edisi No.
41.
Yuhendri
dan Rita Sofyan. 2016. Pendidikan Ekonomi untuk Sekolah Menengah.
Jakarta
: KENCANA.
Komentar
Posting Komentar