MODEL PENGAJARAN REMEDIAL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam proses belajar mengajar
di suatu institusi pendidikan, masing-masing individu memiliki caranya masing-masing untuk memperoleh hasil
yang maksimal dalam belajar. Beberapa ketrampilan belajar
pun dipakai guna memenuhi tujuan dari pendidikan tersebut. Namun tidak jarang seorang siswa mengalami kesulitan belajar
yang dipengaruhi oleh beberapa
factor yang mengganggu dirinya dalam belajar. Banyak
peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar misalnya tidak mampu
menyerap bahan pembelajaran dengan baik, tidak dapat konsentrasi dalam belajar,
tidak mampu mengerjakan tes dan sebagainya.
Siswa yang
mengalami kesulitan belajar seperti itu akan memiliki resiko hasil
yang didapatkan dari proses belajar kurang maksimal.
Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi
lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik. Untuk mengatasi
masalah-masalahbelajar tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan
program pembelajaran remedial atau perbaikan. Mengingat
pentingnya pemahaman menyeluruh konsep dasar dari kurikulum ini, maka penulis
tergerak untuk menyusunnya menjadi sebuah makalah yang khusus mengungkap
mengenai hal tersebut.
1.2 Rumusan Makalah
1.
Apakah pengertian dari model pengajaran remedial dan
KKM?
2.
Apa saja langkah dalam evaluasi belajar dan hasil
penilaian?
3.
Apa saja tujuan dan fungsi model pengajaran remedial?
4.
Apa saja bentuk
dan aspek pengajaran remedial?
5.
Apa saja prinsip
dasar pengajaran remedial?
6.
Apa saja pendekatan
dalam pengajaran remedial di Sekolah?
7.
Bagaimana proses pengajaran
remedial?
8.
Apa saja keterbatasan dalam pengajaran remedial?
1.3 Tujuan
Mengacu pada
rumusan masalah tersebut, maka yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengertian
dari model pengajaran remedial.
2.
Untuk mengetahui tujuan dan
fungsi model pengajaran remedial.
3.
Untuk mengetahui bentuk dan aspek pengajaran remedial.
4.
Untuk memahami prinsip dasar pengajaran remedial.
5.
Untuk mengetahui pendekatan dalam pengajaran remedial di Sekolah.
6.
Untuk memahami proses pengajaran remedial.
7.
Untuk mengetahui keterbatasan
dalam pengajaran remedial.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Literatur
Review
2.1.1
Pengertian
2.1.1.1 Pengertian
Model Pengajaran Remedial
According
to Sharma (2009: 22), remedial teaching as the name suggest, is the teaching
that is undertaken for providing remedial education to those who are in need of
such education for overcoming their deficiencies, weakness and difficulties
related with the learning activities pertaining to some area or aspects of a
particular subject.
Menurut Sharma (2009: 22),
pengajaran remedial seperti namanya, adalah pengajaran yang dilakukan untuk
memberikan pendidikan remedial kepada mereka yang membutuhkan pendidikan
semacam itu untuk mengatasi kekurangan mereka, kelemahan dan kesulitan terkait
dengan kegiatan pembelajaran. berkaitan dengan beberapa area atau aspek dari
subjek tertentu.
According
to Jangid and Inda (2016: 98), remedial teaching methods are innovative
teaching strategy designed to improve the storage and retrieval of information
from long-term memory. Remedial education is education which is designed to
bring students who are lagging behind up to the level of achievement realized
by their peers. Remedial Teaching means that help is offered to students who
need pedagogical or didactic assistance. These are often children who function
at a lower than average level because of a certain learning- or behavioral
problem/disorder. However, remedial teaching can also be offered to pupils who
accomplish at a higher than average level, they also can do with the extra
attention and care.
Menurut Jangid dan
Inda (2016: 98), metode pengajaran remedial adalah strategi pengajaran yang
inovatif yang dirancang untuk meningkatkan penyimpanan dan pengambilan
informasi dari memori jangka panjang. Pendidikan remedial adalah pendidikan
yang dirancang untuk membawa siswa yang tertinggal ke tingkat pencapaian yang
direalisasikan oleh rekan-rekan mereka. Pengajaran remedial berarti bahwa
bantuan ditawarkan kepada siswa yang membutuhkan bantuan pedagogis atau
didaktik. Ini sering anak-anak yang berfungsi pada tingkat yang lebih rendah
daripada rata-rata karena masalah / gangguan belajar-atau perilaku tertentu.
Namun, pengajaran remedial juga dapat ditawarkan kepada siswa yang mencapai
tingkat di atas rata-rata, mereka juga dapat melakukan dengan perhatian dan
perhatian ekstra.
According to Kumar (2016: 36-38), the term
remedial is employed in a broader sense to connote teaching which is
developmental in its scope. Though our schools possess pupils who do not have
any particular defects or faults which need correction, there are a group of
students who urgently need assistance in developing increased competence in
reading and the other fundamental processes. In their case, it is not primarily
a problem of re-teaching or the remedying of errors, but it is rather teaching
them for the first time those basic skills which are solely needed and are
apparently lacking. Remedial teaching involves taking a pupil where one is and
starting from that point leading one to greater achievement. It is just
effective teaching in which the learner and his/her needs occupy the focal
point. Remedial teaching is an integral part ofall good teaching. It takes the
pupil at his own level and by intrinsic methods of motivation leads him to
increased standards of competence. It is based upon careful diagnosis of
defects and in general to the needs and interest of pupils.
Menurut Kumar (2016: 36-38), istilah
perbaikan digunakan dalam arti yang lebih luas untuk berkonotasi pengajaran
yang berkembang dalam lingkupnya. Meskipun sekolah kami memiliki murid yang
tidak memiliki cacat atau kesalahan tertentu yang perlu diperbaiki, ada
sekelompok siswa yang sangat membutuhkan bantuan dalam mengembangkan
peningkatan kompetensi dalam membaca dan proses mendasar lainnya. Dalam kasus
mereka, ini bukan masalah utama pengajaran ulang atau perbaikan kesalahan,
tetapi lebih kepada mengajarkan mereka untuk pertama kalinya ketrampilan dasar
yang hanya dibutuhkan dan kelihatannya kurang. Pengajaran remedial melibatkan
mengambil murid di mana satu dan mulai dari titik itu mengarah satu ke prestasi
yang lebih besar. Ini hanya pengajaran yang efektif di mana pembelajar dan
kebutuhannya menempati titik fokus. Pengajaran remedial adalah bagian integral
dari semua pengajaran yang baik. Dibutuhkan murid di tingkat sendiri dan dengan
metode motivasi intrinsik membawanya ke peningkatan standar kompetensi. Hal ini
didasarkan pada diagnosis defek yang cermat dan secara umum terhadap kebutuhan
dan minat siswa.
Menurut Masbur (2012: 348-361),
Pengajaran remedial (remedial teaching) secara etimologis berasal dari kata
remedy (Inggris) yang artinya menyembuhkan, membetulkan, perbaikan,
pengulangan. Sedangkan teaching adalah mengajar, cara mengajar atau
mengajarkan. Pengajaran remedial secara terminologis adalah suatu kegiatan
belajar mengajar yang bersifat menyembuhkan atau perbaikan ke arah pencapaian
hasil yang diharapkan.
Pengajaran remedial menurut Abd.
Rachmat Abror adalah bentuk pengajaran perbaikan yang diberikan kepada
seseorang siswa untuk membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya.
Menurut Abin Syamsuddin, pengajaran remedial adalah sebagai upaya guru untuk
menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok siswa
(dengan kerakter) tertentu lebih mampu meningkatkan prestasi seoptimal mungkin
sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan. Menurut
Abu Ahmadi dan Widodo Supriono, pengajaran remedial adalah suatu bentuk khusus
pengajaran yang bersifat menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik.
Berdasarkan pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa, pengajaran remedial adalah suatu layanan pendidikan atau
suatu bentuk program pembelajaran yang dilaksanakan dengan perlakuan khusus
yang diberikan guru pada siswa yang mengalami kesulitan dan hambatan dalam
kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa tersebut mencapai standar kompetensi
yang telah ditentukan.
Menurut Malawi dan Kardawati (2018:
230-231), remedial merupakan program pembelajaran yang diperuntukkan bagi
peserta didik yang belum mencapai KKM dalam satu KD tertentu. Pembelajaran remedial
diberikan segera setelah peserta didik diketahui belum mencapai KKM.
Pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/ hak peserta didik.
Dalam pembelajaran remedial, pendidik membantu peserta didik untuk memahami
kesulitan belajar yang dihadapi secara mandiri, mengatasi kesulitan dengan
memperbaiki sendiri cara belajar dan sikap belajarnya yang optimal. Dalam hal
ini, penilaian merupakan assessment as learning.
Menurut al-Taubany dan Suseno (2017:
362-367), Program remedial adalah progam pembelajaran yang diberikan kepada
peserta didik yang belum mencapai kompetensi minimalnya dalam suatu kompetensi
dasar tertentu.
Menurut Slamet (2015: 100-103), remedial
teaching atau pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat
penyembahan atau membetulkan atau dengan singkat pengajaran yang membuat menjadi
baik. Dalam memberikan pengajaran remedial kepada siswa berkesulitan belajar,
harus dengan menggunakan metode dan pendekatan yang tepat sehingga bantuan yang
diberikan dapat diterima dengan jelas. Pengajaran remedial merupakan salah satu
wujud pengajaran khusus yang sifatnya memperbaiki prestasi belajar siswa dalam
proses belajar mengajar. Pembelajaran remedial digunakan bagi siswa yang
mengalami kesulitan belajar, pengajaran remedial secara umum dapat diartikan
sebagai upaya yang berkaitan dengan perbaikan pada diri orang atau suatu
pemberian pada anak sekolah yang terutama ditujukan kepada anak-anak yang mengalami
hambatan dalam proses belajar mengajar.
Dari kedua pendapat di atas jelaslah
bahwa pembelajaran remedial ditujukan kepada siswa yang mengalami hambatan
dalam proses belajar mengajar dan bersifat menyembuhkan dan membetulkan anak
yang mengalami berkesulitan belajar menjadi lebih baik. Dalam penelitian ini
yang dimaksud pembelajaran remedial adalah pengajaran yang diberikan kepada
siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran dan bersifat penyembahan dan
pembetulan siswa agar hasil belajarnya menjadi lebih baik.
Menurut Sukinahiska (2016: 59),
Re-teaching, yaitu pengajaran remedial yang dilaksanakan dengan mengajarkan
kembali bahan yang sama kepada para siswa yang memerlukan bantuan dengan cara
penyajian yang berbeda.Menyuruh siswa mempelajari bahan yang sama dari buku
pelajaran, buku paket atau sumber-sumber bacaan yang lain.Memberikan pekerjaan
rumah yang harus dikerjakan oleh siswa.Bimbingan yang diberikan secara individu
maupun kelompok kecil oleh guru atau pembimbing (siswa yang telah tuntas dan
dapat dipercaya untuk menerangkan atau membantu temannya yang belum tuntas).
Menurut Darmadi (2017: 384-385),
pembelajaran remedial merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada
peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria
ketuntasan yang ditetapkan. Pada prinsipnya, pembelajaran remedial merupakan
pemberian perlakuan hkusus terhadap peserta didik yang mengalami hambatan.
Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan atau lambat mencapai
kompettensi.
According
to Munene (2017: 47), remedial education is a part of education which is
concerned with the prevention, investigation and treatment of learning
difficulties from whatever source they may emanate and which hinder normal
development of pupils (Eldah, 2005). Remedial education is given to children
who function at a lower than average level because of certain learning or
behavioral problem, but it can also be offered to pupils who achieve at higher
than average level.
Menurut Munene (2017: 47), pembelajaran
remedial adalah bagian dari pendidikan yang berkaitan dengan pencegahan,
penyelidikan dan perawatan kesulitan belajar dari sumber apa pun yang mungkin
mereka berasal dan yang menghambat perkembangan normal siswa (Eldah, 2005).
Pendidikan remedial diberikan kepada anak-anak yang berfungsi pada tingkat yang
lebih rendah dari rata-rata karena masalah belajar atau perilaku tertentu,
tetapi juga dapat ditawarkan kepada siswa yang mencapai pada tingkat lebih
tinggi dari rata-rata.
According
to Singh (2004: 16-17), remedial teaching organized in various ways has a
potentially important role. There has been quite a rapid expansion of remedial
teaching servicesince the late 1940s when public concern grew about the large
number of backward readers in schools. Some remedial teachers work in schools
with groups and individuals who need extra help, especially early in the junior
school. In a few cases they work in centres which children attend several times
a week. More frequently they are peripatetic teachers visiting a numberof
schools to teach groups and in some well organized services giving advice on
materials and methods, undertaking surveys and other services. Their work
should be closely integrated with the school pshychological services. Sometimes
they work in and from child guidance centres.
Menurut Singh (2004: 16-17),
pengajaran remedial yang diselenggarakan dengan berbagai cara memiliki peran
yang berpotensi penting. Sudah ada ekspansi yang cepat dari layanan pengajaran
perbaikan sejak akhir 1940-an ketika perhatian publik tumbuh tentang banyaknya
pembaca terbelakang di sekolah. Beberapa guru remedi bekerja di sekolah dengan
kelompok dan individu yang membutuhkan bantuan tambahan, terutama di awal
sekolah menengah pertama. Dalam beberapa kasus mereka bekerja di pusat-pusat
yang anak-anak menghadiri beberapa kali seminggu. Lebih sering mereka adalah
guru-guru yang bergerak mengunjungi sejumlah sekolah untuk mengajar
kelompok-kelompok dan dalam beberapa layanan yang terorganisasi dengan baik
memberikan nasihat tentang bahan dan metode, melakukan survei dan layanan
lainnya. Pekerjaan mereka harus terintegrasi erat dengan layanan psikologi
sekolah. Terkadang mereka bekerja di dan dari pusat bimbingan anak.
According
to Jangid and Inda (2016: 98-99), there are a unit variety of reasons why a
student would possibly would like remedial education. Some students attend
schools of poor quality and do not receive adequate grounding in mathematics
and language to organize them for school or life. Other students might have transferred
in and out faculties’ of colleges or missed school plenty, making gaps in their
education that contribute to the lack of information in core subjects. Students
can also have learning disorders and other problems that have impaired their
ability to find out. In remedial education, people are usually given
assessments to determine their level of competency. Based on test results, the
pupils are placed in classes which are most likely to provide benefits. Classes
are often little, with a spotlight on high teacher-student interaction, and
that they will occur at the hours of darkness or throughout the day to
accommodate various needs. Within the course of the category, the teacher can
bring students up to hurry in order that they need skills comparable to those
of their peers.
Menurut Jangid dan Inda (2016:
98-99), ada berbagai macam alasan mengapa seorang siswa mungkin ingin
mendapatkan pendidikan perbaikan. Beberapa siswa menghadiri sekolah dengan
kualitas buruk dan tidak menerima landasan yang cukup dalam matematika dan
bahasa untuk mengatur mereka untuk sekolah atau kehidupan. Siswa lain mungkin
telah mentransfer masuk dan keluar fakultas 'perguruan tinggi atau melewatkan
banyak sekolah, membuat kesenjangan dalam pendidikan mereka yang berkontribusi
pada kurangnya informasi dalam mata pelajaran inti. Siswa juga dapat memiliki
gangguan belajar dan masalah lain yang mengganggu kemampuan mereka untuk
mencari tahu. Dalam pendidikan remedi, orang biasanya diberikan penilaian untuk
menentukan tingkat kompetensi mereka. Berdasarkan hasil tes, siswa ditempatkan
di kelas yang paling mungkin memberikan manfaat. Kelas sering sedikit, dengan
sorotan pada interaksi guru-siswa yang tinggi, dan bahwa mereka akan terjadi
pada jam kegelapan atau sepanjang hari untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan.
Dalam kursus kategori, guru dapat membawa siswa ke atas terburu-buru agar
mereka membutuhkan keterampilan yang sebanding dengan rekan-rekan mereka.
Menurut
al-Taubany dan Suseno (2017: 362-367), setiap guru berharap peserta didiknya
dapat mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan. Berdasarkan
Permendikbud No.65 tentang Standar
Proses, No.66 Tahun 2013 tentang standar penilaian, setiap pendidik hendaknya
memperhatikan prinsip perbedaan individu ( kemampuan awal, ecerdasan,
kepribadian, bakat, potensi, minat, motivasi belajar , gaya belajar), maka
progam pembelajaran remedial dilakukan untuk memenuhi kebutuhan/hak anak. Dalam
program pembelajaran remedial guru akan membantu peserta didik, untuk memehami
kesulitan belajar yang dihadapinya, mengatasi kesulitannya tersebut dengan
memperbaiki cara belaja dan sikap belajar yang dapat mendorong tercapainya
hasil belajar yang optimal.
Mengacu pada
Permendikbud No.65 dan No.66 Tahun 2013: “Hasil penilaian autentik dapat diguanakan
oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial), pengayaan atau
pelayanan konseling. Penilaian yang dimaksud tidak tepaku pada hasil tes pada
KD tertentu. Penilaian juga bias dilakukan ketika proses pembelajaran
berlangsung.
Pembelajaran remedial dilakukan
ketika peserta didik teridentifikasi oleh guru mengalami kesulitan pada
penguasaan materi pada KD tertentu sedang berlangsung. Guru dapat langsung
melakukan perbaikan pembelajaran sesuai dengan kesulitan perseta didik
tersebut, tanpa menunggu hasil tes. Program pembelajaran remedial dilaksanakan
di luar jam pelajaran efektif atau ketika proses pembelajara berlangsung.
Program pembelajaran remedial
dilaksanakann sampai peserta didk menguasai kompetensi dasar yang diharapkan.
Ketika peserta didik telah mencapai kompetensi minimalnya, maka pembelajaran
remedial tidak perlu dilanjutkan.
According to Chou (2016: 1061), stated
that remedial instruction helps students overcome learning 3difficulties, and
this learning theory is grown from the cognitive revolution. Immediate and
adaptive remedial instruction system helps student’s learning, and the greatest
advantage is that it provides immediate feedbacks for the errors (Hsiao et al.,
2016). Through the quasi experimental research and design, Dai and Huang (2015)
applied three different types of teaching model of remedial teaching on
vocational high school students with bad mathematics grades. It has been found
that these three methods can improve students’ mathematics grades; e-learning
instruction model helps the most, followed by blended learning model, and the
least helpful is the traditional instruction model.
Menurut Chou (2016: 2106), menyatakan bahwa instruksi remedial membantu
siswa mengatasi pembelajaran kesulitan, dan teori belajar ini tumbuh dari
revolusi kognitif. Sistem pembelajaran remedi adaptif membantu pembelajaran
siswa, dan keuntungan terbesarnya adalah bahwa ia menyediakan umpan balik
langsung untuk kesalahan (Hsiao et al., 2016). Melalui quasiexperimental penelitian dan
desain, Dai dan Huang (2015) menerapkan tiga jenis model pengajaran pengajaran
remedial pada siswa sekolah menengah kejuruan. Telah ditemukan
bahwa ketiga metode ini dapat meningkatkan nilai matematika siswa; Model
pembelajaran e-learning sangat membantu, diikuti oleh model pembelajaran
campuran, dan paling tidak membantu adalah model instruksi
tradisional.
2.1.1.2 Pengertian KKM
Menurut Malawi dan Kardawati (2018:
230-231), kriteria ketuntasan minimal yang selajutnya disebut KKM adalah
kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan
mengacu pada standar kopentensi lulusan. Dalam menetapkan KKM, satuan pendidikan
harus merumuskannya secara bersama antara kepala sekolah, pendidik, dan tenaga
kependidikan lainnya. KKM dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3(tiga)
aspek: karakteristik peserta didik, karakteristik mata pembelajaran, dan
kondisi satuan pendidikan pada proses pencapaian kompetensi.
Menurut Prayitno (2009:
418-419), Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) merupakan acuan untuk menetapkan
seorang peserta didik/siswa secara minimal memenuhi persyaratan penguasaan atas
materi pelajaran tertentu. Misalnya, untuk mata pelajaran IPS di suatu SMP
KKM-nya adalah 70. Hal ini berarti bahwa seorang siswa di SMP tersebut
dinyatakan tuntas dalam mata pelajaran IPS apabila ia menguasai 70% dari
seluruh materi IPS yang dibelajarkan; penguasaan di bawah 70% berarti belum tuntas.
Pertanyaannya adalah: apa artinya tuntas dan belum tuntas itu? Mengapa 70%
dianggap tuntas, padahal tuntas maknanya adalah habis-habisan tanpa tersisa?
Dalam perngertia habis-habisan, tanpa tersisa itu, tuntas berkonotasi 100%.
Dengan demikian, ketuntasan penguasaan materi IPS di satuan pendidikan (SMP)
itu semestinya adalah 100%. Penguasaan di bawah 100% adalah penguasaan yang
belum tuntas. Dengan demikian, KKM dengan nilai atau 70 itu sebenarnya belum
tuntas.
Agaknya,
latar belakang disusun dan ditetapkannya KKM dengan nilai atau harga tertentu
(yang setiap kali dapat berubah) adalah karena anggapan bahwa tidak semua siswa
mampu mencapai penguasaan 100% atas materi pelajaran; oleh karenanya, perlu
diambil patokan untuk menetapkan siswa yang lulus dan tidak lulus dalm mata
pelajaran tertentu. Patokan yang dimaksudkan itu biasanya diambil dari
penguasaan rata-rata semua siswa yang mengikuti mata pelajaran tersebut pada
akhir mata pelajaran (biasanya dalam satuan waktu satu semester). Pengusaan
rata-rata itu tidak sama untuk berbagai kondisi yang berbeda; oleh karenanya
KKM itupun dapat tidak sama, terutama berkaitan dengan kompleksitas dan
kesulitan materi pelajaran, kualitas intake
(yaitu tingkat kemampuan dasar atua potensi siswa yang mengikuti mata pelajaran),
dan kualitas prasaran dan sarana. Makin kompleks dan sulit materi pelajaran,
makin rendah kualitas intake, serta
makin rendah kualitas prasaran dan sarana, maka patokan berupa KKM makin
diturunkan.
Memperhatikan
bberapa pertimbangan dalam penetapn KKM di atas, beberapa catatan dapat
diberikan, sebagai berikut. Pertama, dalam
penetapan KKM, matapelajaran-matapelajaran yang ada diklasifikasikan ke dalam
kategori tertentu, misalnya mata pelajaran yang sulit, sedang, dan mudah.
Misalnya, pelajaran Matematika dan IPA diklasifikasikan sulit, Bahahsa sedang,
IPS mudah. Pertanyaannya: atas dasar apa klasifikasi itu ditetapkan ? Padahal,
sukar dan mudah-nya materi pelajaran tidak semata-mata terletak pada kondisi
inheren materi itu sendiri, melainkan terutama sekali ditentukan oleh kondisi
operasional pembelajaran yang melibatkan peranan peserta didik dan kondisi
lingkungan. Peranan guru sangan dominan untuk menjadikan suatu materi pelajaran
menjadi mudah atau sulit dipelaraji siswa.
2.1.2 Langkah-Langkah
Evaluasi Proses dan hasil Penilaian:
Menurut Astiti (2017:
17-18), langkah-langkah evaluasi proses dan hasil penilaian dapat dilakukan dengan
beberapa tahap antara lain:
1.
Menyusun rencana
penilaian atau evaluasi hasil belajar. Hal ini dilakukan dengan merumuskan
tujuan dilakukannya penilaian hasil belajar, menetapkan aspek-aspek yang akan
dinilai (kognitif, afektif, psikomotor), memilih dan menentukan Teknik yang
akan digunakan.
2.
Menghimpun data.
Tahap ini dilakukuan dengan melakukan pengukuran yaitu menggunakan instrument
penilaian yang telah disusun untuk memperoleh data terkait.
3.
Melakukan
verifikasi data. Verifikasi data perlu dilakukan agar kita dapat memisahkan data
yang “baik” yaitu data yang akan memperjelas gambaran mengenai peserta didik yang
sedang dievaluasi dari data yang “kurang baik” yaitu data yang akan mengaburkan
gambaran mengenai peserta didik.
4.
Mengolah dan
menganalisis data. Tujuan dari langkah ini adalah memberikan makna terhadap
data yang telah dihimpun.
5.
Melakukan
penafsiran atau interpretasi dan menarik kesimpulan. Tahap ini merupakan proses
verbalisasi terhadap makna yang terkandung pada data yang telah diolah dan dianalisis.
6.
Menindaklanjuti
hasil evaluasi berdasarkan data yang telah dihumpun, diolah, dianalisis dan
disimpulkan maka dapat dilakukan pengambilan keputusan atau merumuskan kebijakan
sebagai tindak lanjut yang konkret dari seluruh kegiatan penilaian.
2.1.3 Tujuan
dan Fungsi Model Pengajaran Remedial
According
to Singh (2004: 16-17), remedial teaching organized in various ways has a
potentially important role. There has been quite a rapid expansion of remedial
teaching servicesince the late 1940s when public concern grew about the large
number of backward readers in schools. Some remedial teachers work in schools
with groups and individuals who need extra help, especially early in the junior
school. In a few cases they work in centres which children attend several times
a week. More frequently they are peripatetic teachers visiting a numberof
schools to teach groups and in some well organized services giving advice on
materials and methods, undertaking surveys and other services. Their work
should be closely integrated with the school pshychological services. Sometimes
they work in and from child guidance centres.
As Sampson (1968) points out in
reporting the result of a survey of remedial teaching, the original aim of
remedial teaching was to remedy education retardation, i.e., children who were
failing educationally but normal in ability. It soon became apparent the
remedial teachers could not concentrate on 'und‘r-functioning’ children and, as
Sampson’s survey shows, remedial teachers have been trying to help schools cope
with children who are backward because of social and cultural limitations,
lowish ability and emotional difficulties. Some of these children need special
education rather than remedial teaching. The remedy for junir high school
children who are show to acquire basic educational skills is not twice-weekly
sessions with a remedial teacher but the provision of good teaching, smaller
classes, an active child-centred approach emphasizing language development an
experience. Remedial teaching has sometimes been used as a palliative, whereas
more radical remedies are needed. This is not to say that remedial teaching,
especially when it includes an advisory element, does not provide a very useful
service. But the training and experience of remedial theachers should perhaps
be focused increasing on the children who have specific and severe learning
disabilities-children for whom something more than good teaching seems to be
needed.
Menurut Singh (2004: 16-17),
pengajaran remedial yang diselenggarakan dengan berbagai cara memiliki peran
yang berpotensi penting. Sudah ada ekspansi yang cepat dari layanan pengajaran
perbaikan sejak akhir 1940-an ketika perhatian publik tumbuh tentang banyaknya
pembaca terbelakang di sekolah. Beberapa guru remedi bekerja di sekolah dengan
kelompok dan individu yang membutuhkan bantuan tambahan, terutama di awal
sekolah menengah pertama. Dalam beberapa kasus mereka bekerja di pusat-pusat
yang anak-anak menghadiri beberapa kali seminggu. Lebih sering mereka adalah
guru-guru yang bergerak mengunjungi sejumlah sekolah untuk mengajar
kelompok-kelompok dan dalam beberapa layanan yang terorganisasi dengan baik
memberikan nasihat tentang bahan dan metode, melakukan survei dan layanan
lainnya. Pekerjaan mereka harus terintegrasi erat dengan layanan psikologi
sekolah. Terkadang mereka bekerja di dan dari pusat bimbingan anak.
Sebagai Sampson (1968) menunjukkan
dalam melaporkan hasil survei pengajaran remedial, tujuan asli dari pengajaran
remedial adalah untuk memperbaiki retardasi pendidikan, yaitu, anak-anak yang
gagal dalam pendidikan tetapi normal dalam kemampuan. Segera menjadi jelas
bahwa guru-guru perbaikan tidak dapat berkonsentrasi pada anak-anak yang 'tidak
berfungsi' dan, seperti yang ditunjukkan survei Sampson, guru-guru remedial
telah berusaha membantu sekolah mengatasi anak-anak yang terbelakang karena
keterbatasan sosial dan budaya, kemampuan rendah dan kesulitan emosional.
Beberapa dari anak-anak ini membutuhkan pendidikan khusus daripada pengajaran
remedial. Obat untuk anak-anak junir sekolah menengah yang menunjukkan untuk
memperoleh keterampilan pendidikan dasar bukanlah sesi dua kali seminggu dengan
guru remedial tetapi penyediaan pengajaran yang baik, kelas yang lebih kecil,
pendekatan yang berpusat pada anak yang aktif menekankan perkembangan bahasa
sebuah pengalaman. Pengajaran remedial terkadang digunakan sebagai paliatif,
sedangkan pengobatan yang lebih radikal dibutuhkan. Ini bukan untuk mengatakan
bahwa pengajaran remedial, terutama ketika itu termasuk elemen penasehat, tidak
memberikan layanan yang sangat berguna. Tetapi pelatihan dan pengalaman
guru-guru perbaikan mungkin harus difokuskan pada peningkatan anak-anak yang
memiliki ketidakmampuan belajar yang spesifik dan berat - anak-anak yang
membutuhkan sesuatu yang lebih dari pengajaran yang baik.
According
to Jangid and Inda (2016: 98-99), there are a unit variety of reasons why a
student would possibly would like remedial education. Some students attend schools
of poor quality and do not receive adequate grounding in mathematics and
language to organize them for school or life. Other students might have
transferred in and out faculties’ of colleges or missed school plenty, making
gaps in their education that contribute to the lack of information in core
subjects. Students can also have learning disorders and other problems that
have impaired their ability to find out. In remedial education, people are
usually given assessments to determine their level of competency. Based on test
results, the pupils are placed in classes which are most likely to provide
benefits. Classes are often little, with a spotlight on high teacher-student
interaction, and that they will occur at the hours of darkness or throughout
the day to accommodate various needs. Within the course of the category, the
teacher can bring students up to hurry in order that they need skills
comparable to those of their peers.
Menurut Jangid dan Inda (2016:
98-99), ada berbagai macam alasan mengapa seorang siswa mungkin ingin
mendapatkan pendidikan perbaikan. Beberapa siswa menghadiri sekolah dengan
kualitas buruk dan tidak menerima landasan yang cukup dalam matematika dan
bahasa untuk mengatur mereka untuk sekolah atau kehidupan. Siswa lain mungkin
telah mentransfer masuk dan keluar fakultas 'perguruan tinggi atau melewatkan
banyak sekolah, membuat kesenjangan dalam pendidikan mereka yang berkontribusi
pada kurangnya informasi dalam mata pelajaran inti. Siswa juga dapat memiliki
gangguan belajar dan masalah lain yang mengganggu kemampuan mereka untuk
mencari tahu. Dalam pendidikan remedi, orang biasanya diberikan penilaian untuk
menentukan tingkat kompetensi mereka. Berdasarkan hasil tes, siswa ditempatkan
di kelas yang paling mungkin memberikan manfaat. Kelas sering sedikit, dengan
sorotan pada interaksi guru-siswa yang tinggi, dan bahwa mereka akan terjadi
pada jam kegelapan atau sepanjang hari untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan.
Dalam kursus kategori, guru dapat membawa siswa ke atas terburu-buru agar
mereka membutuhkan keterampilan yang sebanding dengan rekan-rekan mereka.
Menurut Masbur (2012: 348-361),
tujuan pengajaran remedial tidak berbeda dengan pengajaran dalam rangka
mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Secara khusus pengajaran perbaikan
bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi
belajar yang diharapkan melalui proses perbaikan. Tujuan pembelajaran remedial
adalah untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan memperbaiki
prestasi belajarnya.
Adapun fungsi pengajaran remedial
antara lain:
1. Fungsi korektif
Fungsi korektif adalah dapat
dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum
memenuhi apa yang diharapkan dalam proses pembelajaran. Sebelum proses belajar
mengajar dimulai, guru membuat perencanaan pembelajaran agar memperoleh hasil
yang diharapkan. Dengan demikian, guru dapat mengetahui perbedaan individual
siswa dan kesulitan belajar siswa tersebut.
2. Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman yaitu memungkinkan
guru, siswa dan pihak lain dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap
pribadi siswa. Kepribadian siswa sangat mempengaruhi hasil belajarnya. Oleh
karena itu, guru atau pihak lain dapat memahami kepribadian pada diri siswa
atau perbedaan pada masing-masing siswa.
3. Fungsi penyesuaian
Fungsi penyesuaian yaitu pengajaran
remedial dapat membentuk siswa untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga
peluang untuk mencapai hasil lebih baik lebih besar. Tuntutan disesuaikan
dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan sehingga termotivasi untuk
belajar.
Adapun pelaksanaan program ini dapat
dilakukan secara relevan dengan tingkat yang dimiliki siswa dikarenakan faktor
individual siswa dalam memahami suatu bidang studi. Maka fungsi penyesuaian ini
memungkinkan individual siswa dengan karakter tertentu dapat termotivasi untuk
belajar.
4. Fungsi pengayaan
Fungsi pengayaan yaitu dapat
memperkaya proses belajar mengajar. Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam
segi metode yang dipergunakan dalam pengajaran remedial sehingga hasil yang
diperoleh lebih banyak, lebih dalam atau dengan singkat prestasi belajarnya
lebih kaya. Adanya daya dukung fasilitas teknis, serta sarana penunjang yang
diperlukan. Sasaran pokok fungsi ini ialah agar hasil remedial itu lebih
sempurna dengan diadakannya pengayaan.
Semakin banyak hasil belajar yang
diperoleh dan semakin dalam ilmu yang didapat, maka prestasi belajarnya pun
semakin meningkat.
5. Fungsi terapetik
Fungsi terapetik yaitu secara
langsung ataupun tidak, pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau
menyembuhkan kondisi kepribadian yang menyimpang. Penyembuhan ini dapat
menunjang penyampaian prestasi belajar dan pencapaian prestasi yang baik dapat
mempengaruhi pribadi.
Menurut Abujundi dan Setiawati
(2018: 55-56), pengajaran remedial, bertujuan agar siswa dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan, sekurang-kurangnya sesuai dengan derajat
ketuntasan minimum. Pengajaran remedial memiliki beberapa fungsi, yaitu:
1.
Fungsi korektif yang memungkinkan
terjadinya perbaikan hasil belajar dan perbaikan segi-segi kepribadian siswa.
2.
Fungsi pemahaman yang memungkinkan
siswa memahami kemampuan dan kelemahannya serta memungkinkan guru menyesuaikan strategi
pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa.
3.
Fungsi penyesuaian yang memungkinkan
siswa menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memungkinkan guru menyesuaikan
strategi pembelajaran sesuai dengan kemampuannya.
4.
Fungsi pengayaan yang memungkinkan
siswa menguasai materi lebih banyak dan mendalam. Sememungkinkan guru
mengembangkan berbagai metode yang sesuai dengan karakteristik siswa.
5.
Fungsi akseleratif yang memungkinkan
siswa mempercepat proses belajarnya dalam menguasai materi yang disajikan dan
yang terakhir.
6.
Fungsi terapeutik yang memungkinkan
terjadinya perbaikan segi-segi kepribadian yang menunjang keberhasilan belajar.
Menurut Slamet (100-103), tujuan pembelajaran remedial
adalah agar siswa dapat:
1.
Memahami dirinya, khususnya yang
menyangkut prestasi dan kesulitannya.
2.
Mengubah dan memperbaiki cara-cara
belajar yang lebih baik sesuai dengan jenis kesulitannya.
3.
Memilih materi dan fasilitas belajar
secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajar.
4.
Mengatasi hambatan-hambatan belajar
yang menjadi latar belakang kesulitannya.
5.
Mengembangkan sikap dan kebiasaan baru yang dapat mendorong
tercapainya hasil belajar yang baik.
6.
Melaksanakan tugas-tugas belajar
yang diberikan
Sedangkan, fungsi pembelajaran remedial, yaitu:
1.
Fungsi korektif yakni mengadakan
perbaikan atau pembetulan terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh
siswa.
2.
Fungsi Penyesuaian yakni membuat
siswa mampu memahami diri dalam kemampuan dan keterampilannya.
3.
Fungsi pengayaan yakni pengajuan
perbaikan yang diharapkan mampu memperkaya pengetahuan.
4.
Fungsi percepatan yakni perbaikan
diharapkan akan dapat mempercepat penguasaan siswa terhadap
bahan pelajaran
According to Sharma (2005: 218-221), if the goal of
developmental and of remedial teaching is
the same, the background and attributes of the teachers involved ought
to be similar. In fact, more often that not, the same classroom teacher
handles, whatever, remedial teaching is done as well as the developmental
teaching in a given classroom. Yet as the notion of differentiated roles for
teacher becomes more widely accepted an implemented, discussion of differences
between developmental and remedial teachers ca be more than academic.
Menurut Sharma (2005: 218-221), jika
tujuan pengembangan dan pengajaran remedial adalah sama, latar belakang dan
atribut para guru yang terlibat haruslah serupa. Bahkan, lebih sering bahwa
tidak, guru kelas yang sama menangani, apa pun, pengajaran remedial dilakukan
serta pengajaran perkembangan di kelas yang diberikan. Namun karena gagasan
peran yang berbeda untuk guru menjadi lebih diterima secara luas, diskusi
tentang perbedaan antara guru pengembangan dan remedial lebih dari sekadar
akademik.
2.1.4 Bentuk dan Aspek Pengajaran Remedial
Menurut Malawi dan Kardawati (2018: 231), Pelaksanaan pembelajaran
remedial disesuaikan dengan jenis dan tingkat kesulitan peserta didik yang
dapat dilakukan dengan cara:
a.
Pemberian bimbingan secara individu
b.
Pemberian bimbingan secara kelompok
c.
Pemberian pembelajaran ulang dengan
metode dan media yang berbeda
d.
Pemanfaatan tutor sebaya
According
to Sharma (2009: 22-25), remedial teaching as the name suggest, is the teaching
that is undertaken for providing remedial education to those who are in need of
such education for overcoming their deficiencies, weakness and difficulties
related with the learning activities pertaining to some area or aspects of a
particular subject.
Organisation
of Remedial Teaching. Remedial teaching in the subject physical or life
sciences can take various forms like below
1. Class teaching
2. Group tutorial teaching
3. Individual tutorial teaching
4. Supervised tutorial teaching
5. Auto-instructional teaching
6. Informal teaching
Let
us discuss now all these forms and aspects of remedial teaching.
1. Class Teaching. In this
system or schedule of remedial teaching, the usual composition and structure of
the class is not disturbed. The teacher here teaches a particular lesson/ unit,
emphasizes a point again and again, repeats the experiments or uses some
specific teaching aid in order to remove the difficulties and deficiencies of
the learners in terms of the acquisition of the desired learning experiences.
The class as a whole is benefitted through such type of remedial teaching It
proves particularly useful in the removal of the weakness and learning
difficulties of the general nature.
2. Group Tutorial Teaching. Here the students of the class are
divided into some homogeneous groups called turorial groups on the basis of
their common learning difficulties and identical weakness or deficiencies in
the acquisition of the learning experiences in some or the other areas or
aspects of the subject. These groups are then taught separately by the same
teacher or different teachers according to the nature of the difficulties and
deficiencies. The tutor incharge of a tutorial group then tries to solve the
difficulties of the learners, hovewer, collectively on a group basis. The weak
areas or aspects of the curriculum identified through diagnostic testing are
properly attended by the teacher according to the needs and requirement of the
pupils of the group. In case, it is related to particular work, due care and
proper attention is now paid by the teacher over his own demonstration work as
well as on the practical and project work done by the students in their
respective groups.
The group tutorial teaching proves
advantageous over the class teaching in mnay aspects. Here the students who
heve common problems and difficulties in their learning are more helped in
overcoming their difficulties and deficiencis. It makes the task of
teaching-learning quite interested and goal oriented. In
class teaching there remains a lot of
chances that the time ang energy of many of the students who do not suffer with
a certain learning deficiency or difficulty will go in vain by attending to the
remedial teaching not at all needed by them. Moreover, the number of students in group turorial teaching
is comparatively reduced. It results in making the task of the teaching more
convenient, and effective for providing better coaching and practice in terms
of the needed remedial education.
3. Individual Tutorial
Teaching. In this schedule every learner, who feels learning difficulty of
one or the other nature, is attended individually for overcoming his
deficiencies or weakness. It is one to one coaching, help and guidance that is
rendered by the teacher to the learner as and when needed by him in oerder to
actualize his potentialities to the maximum. Therefore in this type of remedial
teaching, maximum consideration may be provided to the principle of individual
difference in the direction of the best results in the task of teaching and
learning. Here the students may progress according to their own pace, abilities
and capacities and get adequate help, individual attention and reinforcement
for coping up with their deficiencies and difficulties on the path of learning.
4. Supervised Tutorial Teaching. In this
schedule of remedial teaching the responsibility of overcoming the learning
difficulties and removing deficiencies in some learning areas is handed over to
the learners themselves. They have to
work at their own for removing their difficulties and deficiencies. The role of
the teacher is confined to observe and supervise the learning activities and
provide as much help as necessary to carry on them on their path of self
learning and self correction. This type of supervision can be made on the
individual as well as tutuorial group levels. The students may opt to work in
the group or individually for solving their difficulties and overcoming their
learning deficiencies.
5. Auto-Instructional Teaching. This type of remedial teaching
consists of auto-instructional programmes and activities. Here the learner is
provided with basic auto-instructinal and self learning material and equipments
like programmed learning text books and packages, auto-learning modules,
teaching machines and computer assisted programmed instuctions etc. This
material helps the pupil to gain sufficient practice and drill work in the
areas of his weakness and acquire necessary confidence in overcoming his
difficulties and deficiencies through the well programmed self-instructional
material.
6. Informal Teaching. Informal science education and
teaching suitably planned and assimilated with the formal science education of
the scholl may go in a big way to act as a source and means of remedial
education to the needy students. The activities connected with such informal
education in the form of excurcions or trips, collecting material for the
science museum, improvising science apparatus, working on useful scientific
projects, engaging in the scientific
hobbies, establishing acquarium, vivarium, terrarium, botanical garden,
zoo and nature study corner in the school campus and participating in the
science club activities, etc. Make the study of science a joyful event. These
activities suit the diversified interest of the students and provide unique and
special opportunities to learn and practise the facts and principles of
science. The learning difficulties arised out of the lack of interest,
non-availability of direct and first hand learning experience, deficiencies in
the methodology of teaching, psychological needs and problems of the learners
and host of pother reasons may be easily overcome through the organisation of
useful non-formal activities of scientific interest in the schools.
Menurut Sharma (2009: 22-25), pengajaran remedial seperti namanya,
adalah pengajaran yang dilakukan untuk memberikan pendidikan remedial kepada
mereka yang membutuhkan pendidikan semacam itu untuk mengatasi kekurangan
mereka, kelemahan dan kesulitan terkait dengan kegiatan pembelajaran. berkaitan
dengan beberapa area atau aspek dari subjek tertentu.
Organisasi Pengajaran Remedial.
Pembelajaran remedial dalam subjek ilmu fisik atau kehidupan dapat mengambil
berbagai bentuk seperti di bawah ini
1. Pengajaran kelas
2. Mengajar tutorial kelompok
3. Pengajaran tutorial individu
4. Mengawasi pengajaran tutorial
5. Ajaran otomatis instruksional
6. Mengajar informal
Mari kita diskusikan sekarang semua
bentuk dan aspek pengajaran remedial ini.
1. Pengajaran
Kelas. Dalam sistem atau jadwal pengajaran
remedial ini, komposisi dan struktur kelas yang biasa tidak terganggu. Guru di
sini mengajarkan pelajaran / unit tertentu, menekankan satu titik lagi dan
lagi, mengulangi percobaan atau menggunakan beberapa alat bantu mengajar khusus
untuk menghilangkan kesulitan dan kekurangan peserta didik dalam hal perolehan
pengalaman belajar yang diinginkan. Kelas secara keseluruhan diuntungkan
melalui jenis pengajaran remedial. Hal ini terbukti sangat berguna dalam
menghilangkan kelemahan dan kesulitan belajar secara umum.
2. Pengajaran
Tutorial Kelompok. Di sini para
siswa kelas dibagi menjadi beberapa kelompok homogen yang disebut kelompok
turorial atas dasar kesulitan belajar bersama mereka dan kelemahan atau
kekurangan yang sama dalam perolehan pengalaman belajar di beberapa atau area
lain atau aspek dari subjek. Kelompok-kelompok ini kemudian diajarkan secara
terpisah oleh guru yang sama atau guru yang berbeda sesuai dengan sifat
kesulitan dan kekurangannya. Tutor yang lebih besar dari kelompok tutorial
kemudian mencoba untuk memecahkan kesulitan peserta didik, hovewer, secara
kolektif atas dasar kelompok. Area lemah atau aspek kurikulum yang
diidentifikasi melalui tes diagnostik dihadiri oleh guru sesuai dengan
kebutuhan dan kebutuhan murid kelompok. Dalam hal, itu terkait dengan pekerjaan
tertentu, perhatian dan perhatian yang tepat sekarang dibayar oleh guru atas
pekerjaan demonstrasi sendiri serta pada kerja praktis dan proyek yang
dilakukan oleh siswa dalam kelompok masing-masing.
Pengajaran tutorial kelompok
terbukti menguntungkan atas pengajaran kelas dalam aspek mnay. Di sini para
siswa yang memiliki masalah umum dan kesulitan dalam belajar mereka lebih
terbantu dalam mengatasi kesulitan dan kekurangan mereka. Itu membuat tugas
belajar mengajar cukup tertarik dan berorientasi pada tujuan. Di kelas mengajar
tetap ada banyak peluang bahwa waktu dan energi dari banyak siswa yang tidak
menderita dengan kekurangan belajar tertentu atau kesulitan akan sia-sia dengan
menghadiri pengajaran remedial yang tidak dibutuhkan sama sekali oleh mereka.
Selain itu, jumlah siswa dalam pengajaran turorial kelompok relatif berkurang.
Ini menghasilkan tugas mengajar menjadi lebih nyaman, dan efektif untuk
memberikan pelatihan dan praktik yang lebih baik dalam hal pendidikan remedial
yang dibutuhkan.
3. Pengajaran
Tutorial Individu. Dalam jadwal
ini setiap pelajar, yang merasa kesulitan belajar dari satu atau yang lain,
dihadiri secara individu untuk mengatasi kekurangan atau kelemahannya. Ini adalah
1-1 pelatihan, bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh guru kepada pelajar
sebagai dan ketika diperlukan oleh dia di oerder untuk mengaktualisasikan
potensi ke maksimum. Oleh karena itu dalam jenis pengajaran remedial,
pertimbangan maksimum dapat diberikan kepada prinsip perbedaan individu dalam
arah hasil terbaik dalam tugas mengajar dan belajar. Di sini para siswa dapat
maju sesuai dengan kecepatan, kemampuan, dan kemampuan mereka sendiri dan
mendapatkan bantuan yang memadai, perhatian dan penguatan individu untuk
mengatasi kekurangan dan kesulitan mereka pada jalur pembelajaran.
4. Pengajaran
Tutorial yang diawasi. Dalam jadwal
pengajaran remedial tanggung jawab mengatasi kesulitan belajar dan
menghilangkan kekurangan di beberapa area pembelajaran diserahkan kepada
peserta didik itu sendiri. Mereka harus bekerja sendiri untuk menghilangkan
kesulitan dan kekurangan mereka. Peran guru dibatasi untuk mengamati dan
mengawasi kegiatan pembelajaran dan memberikan bantuan sebanyak yang diperlukan
untuk meneruskannya pada jalur belajar mandiri dan koreksi diri. Jenis
pengawasan ini dapat dilakukan pada individu maupun tingkat kelompok tutuorial.
Para siswa dapat memilih untuk bekerja dalam kelompok atau secara individu
untuk memecahkan kesulitan mereka dan mengatasi kekurangan belajar mereka.
5. Pengajaran
Instruksional Otomatis. Jenis
pengajaran remedial ini terdiri dari program dan aktivitas instruksi otomatis.
Di sini peserta didik diberikan materi dan peralatan pembelajaran otomatis
dasar dan belajar mandiri seperti buku teks dan paket belajar yang diprogram,
modul pembelajaran otomatis, mesin pengajar dan komputer yang diprogram dengan
panduan, dll. Materi ini membantu siswa mendapatkan latihan yang cukup dan
melatih kerja. di area kelemahannya dan mendapatkan kepercayaan yang diperlukan
dalam mengatasi kesulitan dan kekurangannya melalui materi pembelajaran mandiri
yang terprogram dengan baik.
6. Pengajaran
Informal. Pendidikan sains informal dan
pengajaran yang direncanakan sesuai dan diasimilasikan dengan pendidikan sains
formal dari scholl dapat berjalan dengan cara besar untuk bertindak sebagai
sumber dan sarana pendidikan remedial bagi siswa yang membutuhkan. Kegiatan
yang terkait dengan pendidikan nonformal dalam bentuk excurcions atau
perjalanan, mengumpulkan materi untuk museum sains, improvisasi aparatur sains,
bekerja pada proyek ilmiah yang berguna, terlibat dalam hobi ilmiah, mendirikan
acquarium, vivarium, terarium, kebun raya, kebun binatang dan sudut belajar
alam di kampus sekolah dan berpartisipasi dalam kegiatan klub sains, dll.
Jadikan pelajaran sains sebagai acara yang menyenangkan. Kegiatan-kegiatan ini
sesuai dengan minat yang beragam dari para siswa dan memberikan kesempatan unik
dan khusus untuk belajar dan mempraktekkan fakta-fakta dan prinsip-prinsip
sains. Kesulitan belajar timbul karena kurangnya minat, tidak tersedianya
pengalaman pembelajaran langsung dan langsung, kekurangan dalam metodologi
pengajaran, kebutuhan psikologis dan masalah peserta didik dan tuan rumah
alasan pother dapat dengan mudah diatasi melalui organisasi yang bermanfaat.
kegiatan non-formal dari minat ilmiah di sekolah-sekolah.
2.1.5 Prinsip
Dasar Model Pengajaran Remedial
According
to Kumar (2016: 36-38), remedial teaching consists of remedial
activities taking place along with the regular teaching outside the regular
class teaching and usually conducted by a special teacher. The type of remedial
treatment given to the students depends on the character of the diagnosis made.
If physical factors are responsible, remedial attention should be provided.
The
following are the general principles of remedial teaching:
1.
Individual consideration of the backward pupil with recognition of
his mental, physical and educational characteristics.
2.
Thorough diagnosis with a pretest.
3.
Early success for the pupil in his backward subject or subjects by
use of suitable methods and materials.
4.
Dissipation of emotional barriers through early success, praise,
continuous help, sympathetic consideration of his difficulties and sustained
interest.
5.
The need for a new orientation towards the backward subject through
new methods involving play way approaches, activities and appropriately graded
materials.
6.
Frequent planned remedial lessons.
7.
Co-operation with the parents.
Menurut Kumar (2016, 36-38), pengajaran
remedial terdiri dari aktivitas-aktivitas perbaikan yang terjadi bersamaan
dengan pengajaran reguler di luar pengajaran kelas reguler dan biasanya
dilakukan oleh seorang guru khusus. Jenis perawatan remedial yang diberikan
kepada siswa tergantung pada karakter diagnosis yang dibuat. Jika faktor fisik
bertanggung jawab, perhatian perbaikan harus diberikan.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip
umum pengajaran remedial:
1.
Pertimbangan individu dari murid
terbelakang dengan pengakuan mentalnya, fisik dan karakteristik pendidikan.
2.
Diagnosis menyeluruh dengan pretest.
3.
Keberhasilan awal untuk murid dalam
subjek terbelakang atau subjek dengan menggunakan yang sesuai metode dan
materi.
4.
Disipasi hambatan emosional melalui
keberhasilan awal, pujian, bantuan berkelanjutan, pertimbangan simpatik atas
kesulitan dan minatnya yang berkelanjutan.
5.
Kebutuhan akan orientasi baru
terhadap subjek yang terbelakang melalui metode-metode baru melibatkan
pendekatan cara bermain, kegiatan dan materi yang dinilai secara tepat.
6.
Pelajaran remedial yang sering
direncanakan.
7.
Bekerjasama dengan orang tua.
Menurut al-Taubany dan Suseno (2017:
362-367), beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial
sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus, yaitu:
1.
Adaptif. Pembelajaran remedial
hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai denga daya tangkap,
kesempatan dan gaya masing-masing
2.
Interaktif. Pembelajaran remedial
hendaknya melibatkat keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi dengan
pesrta didk dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui
kemajuan belajar peserta didiknya.
3.
Fleksibilitas dalam metode
pembelajaran dan penilaian. Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai
metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik
peserta didik.
4.
Pemberian umpan balik sesegera
mungkin. Umpan balik berupa informasi yang diberikan terhadap kepada peserta
didk mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat
menghindari kekeliruan yang berlarut-larut.
5.
Pelayanan sepanjang waktu.
Pembelajaran remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia
agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan
masing- masing.
Menurut Darmadi (2017: 384-385), berdasarkan
pembelajaran dalam KTSP (Depdiknas 2008). Bahwa sesuai dengan sifatnya sebagai
pelayan khusus pembelajaran remedial memiliki beberapa prinsip sebagai berikut:
1.
Adaptif. Program pembelajaran
remedial hendaknya memungkin peserta di didik untuk belajar sesuai kecepatan,
kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran
remedial harus mengakomodasi perbedaan individual pesrta didik.
2.
Interaktif. Pembelajaran remedial
hendaknya memungkinkan pesrta didik untuk secara intensif berinteraksi dengan
pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan kegiatan peserta
didik yang bersifat perbaikan perlu
selalu mendapat monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya.
3.
Flesibelitas dalam Metode
Pembelajaran dan Penilaian. Bahwa dalam pembelajaran remedial perlu digunakan
sebagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik
peserta didik.
4.
Pemberian Umpan Balik Segera
Mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan
sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang
berlarut-larut yang dialami peserta didik.
5.
Kesinambungan dan Ketersediaan
Pemberian Pelayanan. Program pembelajaran reguler dengan pembelajaran remedial
adalah satu kesatuan, dengan demikian program pembelajaran reguler dengan
remedial harus berkesinambungan.
2.1.6
Pendekatan Dalam Pelaksanaan Remedial di Sekolah
Menurut Masbur (2012: 348-361), ada
beberapa pendekatan belajar dalam pelaksanaan remedial dengan harapan dapat
membantu siswa dalam memecahkan berbagai masalah. Menurut Saiful Bahri Djamarah
adalah baik pendekatan yang bersifat umum maupun pendekatan yang bersifat
keagamaan (khusus). Antara lain yaitu:
1. Pendekatan individual
Pendekatan individual merupakan
interaksi antara guru-siswa secara individual dalam proses belajar mengajar.
Pendekatan individual adalah suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada
siswa agar dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, kecepatan, dan caranya. Jadi
pendekatan individual adalah pendekatan bersifat perorang, yaitu dikarenakan
perbedaan individual siswa atau mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda
dari satu siswa dengan siswa lain baik dari cara mengemukakan pendapat, daya
serap maupun tingkat kecerdasan dan sebagainya. Persoalan kesulitan belajar
lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan pendekatan individual, walaupun suatu
saat pendekatan kelompok dibutuhkan.
2. Pendekatan kelompok
Pendekatan kelompok adalah adanya
interaksi diantara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri
siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar di
kelas adanya guru membentuk kelompok kecil. Kelompok tersebut umumnya terdiri
dari 3-8 orang siswa. Dalam pembelajaran kelompok kecil, guru memberikan
bantuan atau bimbingan kepada tiap kelompok lebih intensif. Pendekatan kelompok
bertujuan membina dan menumbuhkan sikap sosial anak didik, hal ini disadari
bahwa anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang
cenderung hidup bersama.
Siswa dibiasakan hidup bersama,
bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan
kelebihan. Yang mempunyai kelebihan mau membantu mereka yang mempunyai
kekuranga.
3. Pendekatan bervariasi
Pendekatan bervariasi adalah
bermacam-macam pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan belajar agar
terlaksananya proses belajar mengajar yang efektif. Pendekatan ini terjadi
karena siswa mempunyai tingkat motivasi yang berbeda, pada satu sisi siswa
memiliki motivasi yang rendah, tetapi pada sisi yang lain mempunyai motivasi
yang tinggi. Maka pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru
gunakan untuk kepentingan pengajaran.
4. Pendekatan edukatif
Edukatif adalah sesuatu yang
bersifat mendidik dan segala hal yang berkenaan dengan pendidikan. Pendekatan
edukatif yaitu pendekatan yang dilakukan oleh guru, baik dari setiap tindakan,
sikap, dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan
untuk mendidik siswa agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral,
norma sosial dan norma agama.
Adapun yang penting untuk diingat
adalah bahwa pendekatan individual, pendekatan kelompok, dan pendekatan
bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dengan tujuan untuk
mendidik siswa.
5. Pendekatan pengalaman
Pengalaman merupakan suatu kejadian
atau perbuatan yang pernah terjadi pada masa dahulu dan mempunyai nilai atau
manfaat untuk masa depan. Pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang
pembelajarannya harus dilandaskan pada pengalaman siswa sebelumnya. Belajar
dari pengalaman adalah lebih baik daripada sekadar bicara, dan tidak pernah
berbuat sama sekali.
6. Pendekatan pembiasaan
Pembiasaan adalah suatu proses
pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang
telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan
perbuatan baru yang lebih tepat dan relatif menetap. Pendekatan dengan proses
pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang
telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan
perbuatan baru yang lebih tepat dan positif.
7. Pendekatan emosional
Emosi adalah gejala kejiwaan yang
ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Emosi
atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi seperti halnya juga perasaan
merupakan suatu suasana hati yang membentuk suatu kontinum atau garis. Kontinum
ini bergerak dari ujung yang paling positif yaitu sangat senang sampai dengan
ujung yang paling negatif yaitu sangat tiadak senang. Emosi akan memberi
tanggapan (respons) bila ada rangsangan (stimulus) dari luar diri seseorang.
Rangsangan itu misalnya ceramah, sindiran, pujian, ejekan, anjuran, perintah,
sikap dan perbuatan.
Emosi mempunyai peranan yang penting
dalam pembentukan kepribadian seseorang. Pendekatan emosional dimaksud di sini
adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini,
memahami, dan menghayati ajaran agamanya. Maka metode mengajar yang perlu
dipertimbangkan adalah metode ceramah, bercerita, sosiodrama.
8. Pendekatan rasional
Pendekatan rasional ialah
pembelajaran yang berpotensi untuk menumbuhkan daya pikir sendiri pada siswa
guna memahami, mengamalkan, dan meyakini konsep-konsep dalam pembelajaran
remedial. Pendekatan rasional yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan
menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis dan sistematis.
Pendekatan dengan menggunakan
kemampuan berfikir secara logis dan sistematis. Dengan kekuatan akalnya manusia
dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk. Untuk
mendukung pemakaian pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu diberikan
adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan dan
pemberian tugas.
9. Pendekatan fungsional
Pendekatan fungsional adalah suatu
pendekatan atau suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari bukan hanya untuk
mengisi kekosongan intelektual, tetapi diharapkan berguna untuk
diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini bahwa ia
relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direduksi
dan dimanfaatkan. Perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang
luas, misalnya ketika siswa menempuh ujian dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan dalam mempertahankan kelangsungan hidup.
Dalam hal ini diperlukan penggunaan
metode mengajar, antara lain metode latihan, pemberian tugas, ceramah, tanya
jawab dan demonstrasi.
10. Pendekatan keagamaan
Pendekatan keagamaan adalah suatu
pendekatan yang dilakukan dalam setiap bidang studi atau mata pelajaran umum
dapat menyatu dengan nilai-nilai agama. Hal ini dimaksud agar nilai budaya ilmu
tidak sekuler, seperti mata pelajaran biologi dapat dihubungkan dengan masalah
agama dalam surat Yasin ayat 34, bahwa pelajaran biologi tidak dapat dipisahkan
dari ajaran agama.
11. Pendekatan kebermaknaan
Pendekatan kebermaknaan adalah suatu
pendekatan dalam pembelajaran yang mempunyai arti atau dapat lebih berarti bagi
siswa. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran, menjadi lebih bermakna bagi
siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan pengalaman,
minat, tata nilai dan masa depan yang harus dijadikan pertimbangan dalam
mengambil keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat pelajaran lebih
bermakna bagi siswa.
Menurut Abujundi dan Setiawati
(2018: 55-56), beberapa pendekatan dalam pengajaran remedial pada akhirnya
dikembangkan oleh guru ke dalam berbagai strategi pelayanan pengajaran
remedial, yaitu:
1.
Pendekatan kuratif, pendekatan yang
dilakukan setelah diketahui adanya siswa yang gagal mencapai tujuan
pembelajaran. Tiga strategi yang dapat dikembangkan oleh guru, yaitu strategi
pengulangan, pengayaan dan pengukuhan serta strategi percepatan.
2.
Pendekatan preventif, pendekatan
yang ditujukan kepada siswa yang pada awal kegiatan belajar telah diduga akan
mengalami kesulitan belajar. Strategi pengajaran yang dapat dilakukan, yaitu
kelompok homogen, individual, kelas khusus.
3.
Pendekatan yang bersifat
pengembangan, pendekatan yang didasarkan pada pemikiran bahwa kesulitan siswa
harus diketahui guru sedini mungkin agar dapat diberikan bantuan untuk mencapai
tujuan secara efektif dan efisien.
Metode yang dipakai dalam pengajaran
remedial harus disesuaikan dengan karakteristik siswa yang mengalami kesulitan
belajar. Beberapa metode yang dapat dipergunakan adalah metode pemberian tugas,
diskusi, tanya jawab, kerja kelompok, tutor sebaya, dan pengajaran individual
(Chrisnajanti, 2002: 83).
2.1.7
Langkah
Pembelajaran Remedial
2.1.7.1
Hal yang
Dibutuhkan Untuk Pengajaran Remedial
According to
Kumar (2016: 36-38) Teaching
involves communication. That is, messages are being sent at one end and
received at the other. When the messages are received as they are transmitted,
then effective communication is believed to have taken place. Sometimes the
message may not get across at all or may reach the other end in a garbled,
distorted and unrecognizable version. In such instances a 'gap' develops
between 'teaching' and 'learning'. Frequently the learner has not learnt what
the teacher intended him to learn. In this case, a message is received, but it
is not the one which was sent out Several problems arise in dealing with this
situation. First of all, the teacher has to find out if the message received by
the student IS the one sent out. For that, the teacher has to rely on the
feedback from the student what he has received. Usually the student finds it
hard to express what he has received and this give the teacher the impression
that learning has not taken place at all. So the teacher tries to get the
message across through repetition. But if the message received is a wrong one,
it has to be 'cancelled' before the correct one can be 'written in' in order
not to create problems of interference. This is one of the functions of
remediation.
It can be
inferred that diagnosis is an important factor in imparting teaching .Teaching
will be incomplete without diagnosis and remedial teaching. Individuals differ
in abilities. Pupils of different levels of ability are likely to be present in
a class of forty or fifty. Slow learners, fast learners and average learners --
all have to be catered to in different ways. The highly talented should be
provided with additional work which requires higher intelligence level and
whereas the slow learners have to be specially cared for in order to bring them
to the level of the average student. It is valid to consider insight-formation,
application, consolidation and revision.
Ideally, new
learning should not be permitted until wrong learning has been cancelled and
corrected. This is, however, impractical since remediation is a slow and
laborious process. A thing once learnt is difficult to cancel, whether correct
or incorrect. Remediation, hence, has to go on simultaneously with the other
teaching functions. The more teaching a learner has had, the more he may be in
need of remediation.
The possible
causes of failure in learning can be due to interference from concepts
previously learnt or over generalization on the basis of previous learning.
These errors of learning are caused by the learner taking an active part in the
process of learning They tend to adopt a particular learning strategy .Here;
the learner tries to simplify the task of learning or transfers hisprecious
learning to a new situation. The teacher is in no way responsible for these
errors. He can probably do nothing to prevent them.
The appropriate
strategy of remediation can be determined by the types of errors which have to
be dealt with. 'They need classifying into groups and types as all the
individual errors cannot be dealt with practically. Remedial teaching is
basically cognitive. The aim is to make the learner conscious about the rules;
of concept attainment and his own use of it. A teacher cannot consider
remediation as a 'follow-up' or an optimal activity.
Yang Diperlukan Untuk Pengajaran
Remedial:
Mengajar
melibatkan komunikasi. Artinya, pesan sedang dikirim di satu ujung dan diterima
di ujung yang lain. Ketika pesan diterima saat dikirimkan, maka komunikasi yang
efektif diyakini telah terjadi. Kadang-kadang, pesan itu mungkin tidak akan
tersebar sama sekali atau mungkin mencapai ujung yang lain dalam versi yang
kacau, terdistorsi dan tidak dapat dikenali. Dalam hal-hal semacam itu, 'celah'
berkembang di antara 'pengajaran' dan 'pembelajaran'. Seringkali pembelajar
tidak belajar apa yang diinginkan guru untuk dipelajari. Dalam hal ini, pesan
diterima, tetapi bukan pesan yang dikirim. Beberapa masalah muncul dalam
menangani situasi ini. Pertama-tama, guru harus mencari tahu apakah pesan yang
diterima oleh siswa IS yang dikirim. Untuk itu, guru harus bergantung pada
umpan balik dari siswa apa yang telah diterimanya. Biasanya siswa sulit
mengungkapkan apa yang telah diterimanya dan ini memberi kesan pada guru bahwa
pembelajaran tidak terjadi sama sekali. Jadi, guru mencoba menyampaikan pesan
melalui pengulangan. Tetapi jika pesan yang diterima salah, itu harus
'dibatalkan' sebelum yang benar dapat 'ditulis dalam' agar tidak menimbulkan
masalah gangguan. Ini adalah salah satu fungsi remediasi.
Dapat
disimpulkan bahwa diagnosis merupakan faktor penting dalam menanamkan
pengajaran. Pengajaran akan tidak lengkap tanpa diagnosis dan pengajaran
remedial. Individu berbeda dalam hal kemampuan. Murid tingkat kemampuan yang
berbeda cenderung hadir di kelas empat puluh atau lima puluh. Pelajar lambat,
cepat belajar dan rata-rata peserta didik - semua harus dilayani dengan cara
yang berbeda. Yang sangat berbakat harus diberikan pekerjaan tambahan yang
membutuhkan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dan sedangkan pelajar yang
lambat harus dirawat secara khusus untuk membawa mereka ke tingkat rata-rata
siswa. Ini sah untuk mempertimbangkan pembentukan wawasan, aplikasi,
konsolidasi dan revisi.
Idealnya,
pembelajaran baru tidak boleh diizinkan sampai pembelajaran yang salah telah
dibatalkan dan diperbaiki. Hal ini, bagaimanapun, tidak praktis karena
remediasi adalah proses yang lambat dan melelahkan. Suatu hal yang pernah
dipelajari sulit untuk dibatalkan, apakah benar atau salah. Remediasi,
karenanya, harus berjalan bersamaan dengan fungsi pengajaran lainnya. Semakin
banyak pengajaran yang dimiliki seorang pembelajar, semakin dia membutuhkan
perbaikan.
Kemungkinan
penyebab kegagalan dalam belajar dapat disebabkan oleh interferensi dari konsep
yang sebelumnya dipelajari atau generalisasi berlebihan atas dasar pembelajaran
sebelumnya. Kesalahan pembelajaran ini disebabkan oleh peserta didik yang
mengambil bagian aktif dalam proses pembelajaran. Mereka cenderung mengadopsi
strategi pembelajaran tertentu. pembelajar mencoba menyederhanakan tugas
belajar atau mentransfer pembelajarannya yang penuh kesungguhan ke situasi
baru. Guru sama sekali tidak bertanggung jawab atas kesalahan ini. Dia mungkin
tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya.
Strategi
remediasi yang tepat dapat ditentukan oleh jenis kesalahan yang harus
ditangani. “Mereka perlu mengklasifikasikan ke dalam kelompok dan jenis karena
semua kesalahan individu tidak dapat ditangani secara praktis. Pengajaran
remedial pada dasarnya bersifat kognitif. Tujuannya adalah untuk membuat
pelajar sadar tentang aturan; pencapaian konsep dan penggunaannya sendiri.
Seorang guru tidak dapat menganggap remediasi sebagai 'tindak lanjut' atau
kegiatan yang optimal.
2.1.7.2
Persiapan Materi Pengajaran Remedial
According
to Kumar (2016: 36-38) Preparation
of remedial materials for a child is a crucial aspect of corrective teaching.
Remedial materials prepared should meet the following criteria:
1.
The
difficulty of the remedial material should be geared to the child's readiness
and maturity in the subject or skill to be improved. A set of remedial
materials should provide a wide range of
difficulty, covering several grades.
2.
The
remedial measures should be designed to correct the pupils' individual
difficulties. Through the use of observation, interview and diagnostic testing
materials, the teacher would have analyzed the work of the backward children in
order to locate the specific retaining needs. An adequate amount of remedial
materials must be provided which is designed to correct the specific
difficulties identified.
3.
The
remedial materials should be self-directive. Children may differ widely as to
the teaching al materials needed to correct their difficulties. The remedial
measures must permit individual rates of progress.
4.
A method
should be provided for recording individual progress.
5.
When the
child has an opportunity to record his 1 her successes on a progress record, he
I she is given an additional incentive to achieve.
Persiapan
Bahan Remedial:
Persiapan
bahan-bahan perbaikan untuk anak adalah aspek yang sangat penting dari
pengajaran korektif. Bahan remedial yang disiapkan harus memenuhi kriteria
berikut:
a.
Kesulitan bahan remedial harus disesuaikan dengan
kesiapan anak dan kedewasaan dalam subjek atau keterampilan yang harus
ditingkatkan. Satu set bahan perbaikan harus menyediakan berbagai kesulitan,
mencakup beberapa kelas.
b.
Langkah-langkah perbaikan harus dirancang untuk memperbaiki
kesulitan individu murid. Melalui penggunaan observasi, wawancara dan
materi pengujian diagnostik, guru akan
menganalisis pekerjaan anak-anak yang terbelakang untuk menemukan yang
spesifik mempertahankan kebutuhan.
Sejumlah bahan perbaikan yang memadai harus disediakan dirancang untuk
memperbaiki kesulitan spesifik yang diidentifikasi.
c.
Bahan-bahan perbaikan harus direktif sendiri.
Anak-anak mungkin berbeda secara luas dengan mengajarkan materi yang diperlukan
untuk memperbaiki kesulitan mereka.
d.
Langkah-langkah perbaikan harus memungkinkan
tingkat kemajuan individu.
e.
Suatu metode harus disediakan untuk merekam
kemajuan individu. Ketika anak itu memiliki kesempatan untuk merekam 1
kesuksesannya pada catatan kemajuan, dia saya dia diberi insentif tambahan
untuk mencapainya.
2.1.7.3
Langkah-Langkah
Pembelajaran Remedial
Al-Taubany
& Hadi Suseno. (2017: 362-367) Langkah-langkah pembelajaran remedial secara
umum dimulai dari identifikasi permasalahan, melakukan perencanaan,
melaksanakan program remedial, dan diakhiri dengan penilaian autentik. Uraian
langkah-langkah tersebut akan dipaparkan berikut ini.
1.
Identifikasi Permasalahan
Pembelajaran
Penting
untuk memahami bahwa “tidak ada dua individu yang persis sama di dunia ini,”
begitu juga penting untuk memahami bahwa peserta didik pun memiliki beragam
variasi baik kemampuan, kepribadian, tipe dan gaya belajar maupun latar
belakang social budaya. Oleh karenanya guru perlu melakukan identifikasi
terhadap keseluruhan permasalahan pembelajaran.
Secara
umum identifikasi awal bias dilakukan melalui: (a) observasi (selama proses
pembelajaran): (b) penilaian autentik (bisa melalui tes/ulangan harian atau
penilaian proses).
Permasalahan
pembelajaran dapat dikategorikan kedalam tiga focus perhatian sebagai berikut:
a.
Permasalahan pada keunikan peserta
didik.
b.
Permasalahan pada materi ajar.
c.
Permaslahan pada strategi belajar.
2.
Perencanaan
Setelah
melakukan identifikasi awal terhadap permasalahan belajar anak, guru telah
memperoleh pengetahuan yang utuh tentang peserta didik dan mulai untuk membuat
perencanaan.
Dengan melihat
bentuk kebutuhan dan tingkat kesulitan yang dialami peserta didik, guru bias
merencanakan kapan waktu dan cara yang tepat untuk melakukan pembelajaran
remedial. Pada prinsipnya pembelajaran remedial bias dilakukan:
a.
Segera setelah guru mengidentifikasi
kesulitan peserta didik dalam proses pembelajaran.
b.
Menetapkan waktu khusus di luar jam
belajar efektif.
Dalam
perencanaan guru perlu menyiapkan hal-hal yang mungkin diperlukan dalam
pelaksanaan pembelajaran remedial, seperti:
a.
Menyiapkan media pembelajaran.
b.
Menyiapkan contoh-contoh dan
alternative aktifitas.
c.
Menyiapkan materi-materi dan alat
pendukung.
3.
Pelaksanaan
Setelah
perencanaan disusun, langkah selanjutnya adalah melaksanakan program
pembelajaran remedial. Ada tiga focus penekanan:
a.
Penekanan pada keunikan peserta
didik.
b.
Penekanan pada alternative contoh
dan aktivitas terkait materi ajar.
c.
Penekanan pada strategi/metode
pembelajaran.
4.
Penilaian Autentik
Penilaian
autentik dilakukan setelah pembelajaran remedial selesai dilakukan. Berdasarkan
hasil penilaian, bila peserta didk belum mencapai kompetensi minimal yang
diterapkan guru, maka guru perlu meninjau kembali strategi pembelajaran
remedial yang diterapkannya atau melakukan identifikasi terhadap peserta didik
dengan lebih seksama. Apabola peserta didik berhasil mencapai atau melampaui
tujuan yang ditetapkan, guru berhasil memberikan pengajaran remedial yang kaya
dan bermakna bagi peserta didik, hal ini bias diterapkan sebagai rujukan bagi
rekan guru lainnya atau bisa diperkaya lagi. Apabila ditemukan kasus khusus di
luar kompetensi guru, guru dapat mengkonsultasikan dengan orangtua untuk
selanjutnya dilakukan konsultasi dengan ahli.
Menurut kadarwati dan malawi
(2017:230) Adapun langkah-langkah pengajaran remedial menurut diknas, sebagai
berikut :
1.
Menandai anak yang mengalami
kelemahan.
2.
Meneliti tentang prestasi hasil belajar
yang lain.
3.
Mencari latar belakang penyebab
kesulitan anak dalam memahami pelajaran.
4.
Memberi pertanyaan-pertanyaan atau
soal-soal latihan.
5.
Bila langkah no 4 tidak maksimal
maka anak tersebut harus dibiasakan memberi beberapa soal agar terbiasa.
6.
Memberikan pengajaran remedial atau
pengulangan pada bahan ajar tertentu yang belum dikuasai siswa.
Menurut Malawi, dkk (2018: 164-165). Langkah
pelaksanaan pembelajaran remedial yaitu:
1.
Identifikasi permasalahan
pembelajaran, yang dilakukan berdasarkan hasil analisis penilaian harian,
tugas, Permasalahan pembelajaran dapat dikategorikan menjadi permasalan pada
peserta didik, materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran.
2.
Penyusun perencanaan berdasarkan
permasalahan (keunikan peserta didik, materi pembelajaran, dan strategi
pembelajaran).
3.
Hasil penilaian melalui penilaian
harian, penguasaan dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan perbaikan
(remedial) dan pengayaan (enrichment).
Penilaian yang dimaksud tidak dapat terpaku pada hasil tes (penilaian harian)
pada KD tertentu.
4.
Pembelajaran remedial dilaksanakan
sampai peserta didik mengusaia KD yang ditentukan.
5.
Teknik pembelajaran remedial bisa
diberikan secara individual, kelompok, atau kelasikal. Beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial yitu:
pembelajaran individual, pemberian tugas, diskusi, tanyajawab, kerja kelompok,
dan tutor sebaya.
6.
Aktivitas guru dalam pembelajaran
remedial, diantara lain: memberikan tambahan penjelasan atau cintoh,
menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya, mengkaji ulang
pembelajaran yang telah lalu, menggunakan berbagai jenis media. Setelah peserta
didik mendapatkan perbaikan pembelajaran dilakukan penilaian, untuk mengetahui
apakah peserta didik sudah menguasai KD yamg ditetapkan.
7.
Guru kelas melakukan identifikasi
terhadap kesulitan peserta didik, kemudian membuat perencanaan pembelajaran
remedial meliputi penentuan materi ajar, penetapan metode, pemilihan media, dan
penilaian.
Menurut
Masbur (2012: 348-361), Untuk memperlancar pengajaran remedial dengan sempurna
sehingga hasil yang diinginkan tercapai lebih baik, maka pelaksanaan harus
melalui langkah-langkah yang tepat dan sistematis. Adapun prosedur pengajaran
remedial yaitu:
1. Meneliti
kembali kasus
Meneliti
kembali kasus adalah mendiagnosis kasus kesulitan belajar dengan kriteria di
bawah minimal yang dicapai dari hasil belajarnya. Meneliti kembali kasus dengan
permasalahannya merupakan tahapan paling fundamental dalam pengajaran remedial
karena merupakan landasan titik tolak langkah-langkah berikutnya.
Adapun
tujuan penelitian kembali kasus ini adalah agar memperoleh gambaran yang jelas
mengenai kasus tersebut, serta cara dan kemungkinan pemecahannya. Berdasarkan
atas penelitian kasus akan dapat ditentukan siswa-siswa yang perlu mendapatkan
pengajaran remedial. Kemudian ditentukan besarnya kelemahan yang dialami dan
dalam bidang studi apa saja mengalami kelemahan.
2. Menentukan
tindakan yang harus dilakukan
Menentukan
tindakan yang harus dilakukan yaitu menentukan alternatif pilihan yang relevan
dengan karakteristik kasus yang ditangani. Langkah ini merupakan lanjutan dari
langkah pertama. Dari hasil penelaah dan penelitian kembali kasus yang
dilakukan pada langkah pertama itu akan diperoleh karakteristik kasus yang
ditangani tersebut, yaitu dapat diklasifikasikan ke dalam tiga golongan yaitu
berat, cukup, dan ringan. Dikatakan kasus berat jika siswa belum memiliki cara
belajar yang baik, juga memiliki hambatan emosional. Kasus yang cukup adalah
jika siswa telah mampu menemukan pola belajar tetapi belum dapat berhasil
karena ada hambatan psikologis. Sedangkan pada kasus ringan jika siswa belum
menemukan cara belajar yang baik.
Setelah
karakteristik harus ditentukan, maka tindakan pemecahan perlu dipikirkan, yaitu
sebagai berikut:
a.
Kalau
kasusnya ringan, tindakan yang ditentukan adalah memberikan pengajaran
remedial.
b.
Kalau
kasusnya cukup dan berat, maka sebelum diberikan pengajaran remedial harus
diberi layanan konseling lebih dahulu, yaitu untuk mengatasi hambatan-hambatan
emosional yang mempengaruhi cara belajarnya.
3. Pemberian
layanan bimbingan dan konseling.
Layanan
bimbingan dan konseling adalah proses bantuan atau pertolongan yang diberikan
oleh guru/ konselor kepada siswa melalui pertemuan tatap muka atau hubungan
timbal balik antara keduanya, agar siswa memiliki kemampuan atau kecakapan
dalam melihat dan menemukan masalahnya serta mampu menyelasaikan masalahnya
sendiri. Memberikan arahan atau interaksi antara guru dan siswa dalam
memecahkan suatu masalah yang menjadi hambatan mental emosional dalam
menghadapi kegiatan belajar.
Pelayanan
bimbingan dan konseling yaitu untuk memberikan jasa, manfaat atau kegunaan,
ataupun keuntungan-keuntungan tertentu kepada individu-individu yang
menggunakan pelayanan tersebut. Tujuan dari layanan ini adalah mengusahakan
terciptanya kesehatan agar siswa yang menjadi kasus itu terbebas dari hambatan
mental emosional dan ketegangan batinnya, kemudian siap sedia kembali menghadapi
kegiatan belajar secara wajar dan realistis.
4. Pelaksanaan
pembelajaran remedial
Pelaksanaan
pembelajaran remedial merupakan suatu program yang diberikan guru untuk
memperbaiki prestasi belajar siswa yang dibawah kriteria ketuntasan minimal.
Program ini sebagai upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang
memungkinkan individu atau kelompok siswa (dengan karakter) tertentu lebih
mampu meningkatkan prestasi seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria
keberhasilan minimal yang diharapkan.
Sasaran
pokok pada langkah ini adalah peningkatan prestasi maupun kemampuan
menyesuaikan diri sesuai dengan ketentuan keberhasilan yang telah ditetapkan.
5. Melakukan
pengukuran kembali terhadap prestasi belajar
Melakukan
pengukuran kembali terhadap prestasi adalah dengan mengadakan tes terhadap
perubahan pribadi siswa untuk mengetahui proses pengajaran remedial secara
menyeluruh.
Langkah
ini adalah melakukan pengukuran terhadap perubahan pada diri siswa yang
diberikan pengajaran remedial. Apakah ia sudah mencapai apa yang direncanakan
pada kegiatan pelaksanaan remedial atau belum. Maka untuk mengetahui hal itu
perlu dilakukan pengukuran terhadap prestasinya kembali dengan alat post-tes
atau tes sumatif yang seperti dipergunakan pada proses belajar mengajar yang sesungguhnya.
6. Melakukan
re-evaluasi dan re-diagnostik
Melakukan
re-evaluasi dan re-diagnostik adalah menafsirkan dengan membandingkan kriteria
seperti pada proses belajar mengajar yang sesungguhnya. Adapun dari hasil
penafsiran itu dapat terjadi 3 kemungkinan dan rekomendasi yang dapat diberikan
yaitu:
a.
Kasus
menunjukkan peningkatan prestasi yang dihasilkan sesuai dengan kriteria yang
diharapkan, maka selanjutnya diteruskan ke program berikutnya.
b.
Kasus
menunjukkan peningkatkan prestasi, namun belum memenuhi kriteria yang
diharapkan, maka diserahkan pada pembimbing untuk diadakan pengayaan.
diharapkan, maka diserahkan pada pembimbing untuk diadakan pengayaan.
c.
Kasus
belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam hal prestasi, maka perlu didiagnosis
lagi untuk mengetahui letak kelemahan pengajaran remedial untuk selanjutnya
diadakan ulangan dengan alternatif yang sama.
7. Pengayaan
(Tugas Tambahan)
Pengayaan
adalah memperkaya ilmu pengetahuan atau memperluas ilmu pengetahuan siswa
dengan memberi tugas tambahan, baik tugas yang dikerjakan di rumah maupun tugas
yang dikerjakan di kelas. Langkah ini sama dengan langkah ketiga dan bersifat
pilihan (optimal) yang kondisional. Sasaran pokok langkah ini ialah agar hasil
remedial itu lebih sempurna dengan tindakan pengayaan. Adapun prosedur
pelaksanaan remedial menurut Muhammad Entang adalah identifikasi kasus dan
faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kesulitan belajar tidak akan
bermanfaat apabila tidak diikuti dengan tindakan-tindakan yang dapat membantu
para siswa yang mengalami kesulitan belajar. Sebelum mengambil
tindakan-tindakan tersebut seorang guru perlu merencanakan cara yang menurut
pertimbangannya akan dapat membantu siswa. Rencana yang disusun hendaknya
didasarkan pada hasil identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya
kesulitan belajar.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa melaksanakan pembelajaran remedial
berdasarkan prosedur-prosedur yang telah ditentukan agar proses pembelajaran
tersebut berjalan dengan lancar sehingga menemukan letak kesulitan belajar pada
diri siswa dan melaksanakan pembelajaran remedial.
Menurut
Malawi, dkk (2018: 164-165). Langkah pelaksanaan pembelajaran remedial yaitu:
1.
Identifikasi permasalahan
pembelajaran, yang dilakukan berdasarkan hasil analisis penilaian harian,
tugas,. Permasalahan pembelajaran dapat dikategorikan menjadi permasalan pada
peserta didik, materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran.
2.
Penyusun perencanaan berdasarkan
permasalahan (keunikan peserta didik, materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran).
3.
Hasil penilaian melalui penilaian
harian, penguasaan dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan perbaikan
(remedial) dan pengayaan (enrichment).
Penilaian yang dimaksud tidak dapat terpaku pada hasil tes (penilaian harian)
pada KD tertentu.
4.
Pembelajaran remedial dilaksanakan
sampai peserta didik mengusaia KD yang ditentukan.
5.
Teknik pembelajaran remedial bisa
diberikan secara individual, kelompok, atau kelasikal. Beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial yitu:
pembelajaran individual, pemberian tugas, diskusi, tanyajawab, kerja kelompok,
dan tutor sebaya.
6.
Aktivitas guru dalam pembelajaran
remedial, diantara lain: memberikan tambahan penjelasan atau cintoh,
menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya, mengkaji ulang
pembelajaran yang telah lalu, menggunakan berbagai jenis media. Setelah peserta
didik mendapatkan perbaikan pembelajaran dilakukan penilaian, untuk mengetahui
apakah peserta didik sudah menguasai KD yamg ditetapkan.
7.
Guru kelas melakukan identifikasi
terhadap kesulitan peserta didik, kemudian membuat perencanaan pembelajaran
remedial meliputi penentuan materi ajar,
penetapan metode, pemilihan media, dan penilaian.
Perencanaan pengajaran remedial
terdapat beberapa tindakan yang harus dilakukan oleh guru diantaranya yaitu
diagnosis kesulitan belajar siswa, penelaahan kembali kasus, pemilihan
alternatif tindakan, pemberian layanan khusus, dan menyusun program pengajaran
remedial. Guru belum melakukan identifikasi siswa yang mengalami kesulitan
belajar melalui analisis perilaku secara individual, namun guru telah
melakukan identifikasi siswa yang
mengalami kesulitan belajar matematika melalui analisis prestasi yaitu dengan
menggunakan Penilaian Acuan Patokan
(PAP) yaitu kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Langkah selanjutnya adalah
melokalisasi letak kesulitan siswa, hal tersebut dilakukan guru dengan melihat
hasil pekerjaan siswa. Siswa yang mendapatkan nilai tidak tuntas diperiksa
hasil pekerjaannya untuk mencari tahu letak kesulitan. Kesulitan banyak
dilakukan siswa pada soal pembagian dengan angka yang besar (Kurnia, 2016:
1.365-1.366).
2.1.8
Kelemahan
Pengajaran Remedial
According
to Kumar (2016: 36-38), In
Remedial teaching, the teacher is constantly reminded of a principle, which is
frequently overlooked in other teaching situations. To a remedial teacher,
learning rather than teaching is the goal. The growth of each individual rather
than the change in group averages is the criterion of success. Hence the
teacher needs a rich background in child psychology and educational diagnosis
in order to successfully tackle the variety of individual problems which the
child presents themselves.
A major problem in remedial teaching is the dearth
of effective teaching al materials. Most of the published materials have been
designed for group teaching. Only a small percentage can be adapted for
individual teaching. If the material is graded carefully and provided for ample
practice on each of the basic steps, the teacher can adapt it for individual
use by providing self-directive teaching for pupils. The teacher who
understands the objectives to be attained, the analysis of individual
difficulties, the types of materials needed, and the techniques essential for
correction can adapt some published materials and develop additional
supplementary materials which will be appropriate for corrective teaching .
Many
teachers who attempt remedial teaching are faced 'with unusually large classes
or with a large percentage of children in the class who are educationally
backward. A beginning teacher with a large number of pupils in need of remedial
teaching has to limit one's work to three or four pupils whose needs are
greatest. As the teacher gains experience in this program he/she will be able
to extend remedial teaching to all the children who need them.
Keterbatasan Pengajaran Remedial:
Dalam
pengajaran Remedial, guru secara konstan diingatkan akan sebuah prinsip, yang
sering diabaikan dalam situasi pengajaran lainnya. Bagi seorang guru remedial,
belajar daripada mengajar adalah tujuannya. Pertumbuhan setiap individu
daripada perubahan rata-rata kelompok adalah kriteria keberhasilan. Oleh karena
itu, guru membutuhkan latar belakang yang kaya dalam psikologi anak dan
diagnosis pendidikan agar berhasil mengatasi berbagai masalah individual yang
dialami oleh anak itu sendiri.
Masalah
utama dalam pengajaran remedial adalah kurangnya bahan ajar yang efektif.
Sebagian besar materi yang dipublikasikan telah dirancang untuk pengajaran
kelompok. Hanya sebagian kecil yang dapat diadaptasi untuk pengajaran
individual. Jika materi dinilai dengan hati-hati dan disediakan untuk latihan
yang cukup pada masing-masing langkah dasar, guru dapat menyesuaikannya untuk
penggunaan individu dengan memberikan pengajaran self-directive untuk siswa.
Guru yang memahami tujuan yang akan dicapai, analisis kesulitan individu, jenis
bahan yang diperlukan, dan teknik yang penting untuk koreksi dapat menyesuaikan
beberapa materi yang diterbitkan dan mengembangkan bahan tambahan tambahan yang
akan sesuai untuk pengajaran korektif.
Banyak
guru yang mencoba mengajar remedial dihadapkan 'dengan kelas yang luar biasa
besar atau dengan persentase besar anak-anak di kelas yang berpendidikan
kebelakang. Seorang guru pemula dengan sejumlah besar murid yang membutuhkan
pengajaran remedial harus membatasi pekerjaannya kepada tiga atau empat murid
yang kebutuhannya paling besar. Ketika guru memperoleh pengalaman dalam program
ini dia akan dapat memperpanjang pengajaran remedial untuk semua anak yang
membutuhkannya.
Remedial teahing is often left to
part-tie teachers or volunteers with no training or knowledge in the field and
the total time devoted to such teaching sometimes amounts to no more than
thirty minutes each week. It is not surprising that for many children the
outcomes are disappointing. This failure might need to be seen, however, as
resulting from a lak of appropriate and sufficient instruction for the children
at risk, rather than evidence that working with children induvidually
The traditional withdrawal model of remedial teaching:
1.
Often have a diet of worksheets or exercises rather than sustained
reading practice and guide reading.
2.
Have a fragramented kearning experience.
3.
Engage in much less purposeful reading and writing activity.
4.
Receive little or no instruction in using effective reading
comprehension strategies because the focus is entirely on low-level skill
development.
Some school now proudly proclaim
that they never remove children from the mainstream for remedial teaching.
teacher provides everything with occasional advice from a visiting consultant
or support teacher. The conclusion that effective intervention from children with
reading difficulties requires:
1.
Highly trained professionals.
2.
A program in which children are taught the specific skills
3.
An effective teaching approach that accelerates children acquisitin
of skills
4.
The main goal of leading children towards independences learning
There is still an essential place
for remedial tution in a withdrawal setting before adopting any doctrinaire
policy that prohibits withdrawal of children from class, teachers expressed
satisfaction with the system and children made significantly better progress in
reading (Westwood, 2001: 95-97).
Terjemahannya:
Pengajaran remedial sering
dibiarkan terpisah dengan guru atau sukarelawan tanpa pelatihan atau
pengetahuan di lapangan dan total waktu yang dihabiskan untuk mengajar semacam
itu, kadang-kadang jumlahnya tidak lebih dari tiga puluh menit setiap minggu. Tidak
mengherankan bahwa bagi banyak anak, hasilnya mengecewakan. Kegagalan ini
mungkin perlu dilihat, bagaimanapun
sebagai hasil dari sejumlah pembelajaran yang tepat dan memadai untuk
anak-anak lebih berisiko, dari pada anak-anak yang bekerja secara induvidual.
Model penarikan tradisional dari pengajaran remedial:
1. Seringkali memiliki kekurangan lembar kerja atau latihan dari pada praktik
membaca yang berkelanjutan dan panduan membaca.
2. Memiliki pengalaman keingintahuan yang terbingkai.
3. Terlibat dalam kegiatan membaca dan menulis yang kurang bermanfaat.
4. Menerima sedikit atau tidak ada pembelajaran dalam menggunakan strategi
pemahaman bacaan yang efektif karena
fokus sepenuhnya pada pengembangan keterampilan tingkat rendah.
Beberapa sekolah sekarang menyatakan
bahwa mereka tidak pernah membatasi anak-anak dari arus utama untuk pengajaran
remedial. guru menyediakan segala sesuatunya dengan hasil saran sesekali
mendatangkan kunjungan konsultan atau
dukungan yang membangun.
Kesimpulan bahwa intervensi efektif
dari anak-anak dengan kesulitan membaca membutuhkan:
1. Profesional yang sangat terlatih.
2. Program di mana anak-anak diajarkan keterampilan khusus
3. Sebuah pendekatan pengajaran yang efektif yang mempercepat anak-anak
memperoleh keterampilan
4. Tujuan utama memimpin anak-anak menuju pembelajaran mandiri
Masih ada tempat penting untuk
memperbaiki dalam segi pengaturan penarikan sebelum mengadopsi kebijakan
doktriner yang melarang pengulangan pembelajaran bagi anak-anak dari kelas,
guru menyatakan puas dengan sistem dan anak-anak memiliki kemajuan yang jauh
lebih baik dalam membaca (Westwood, 2001:
95-97).
This study proposed and developed a
Remedial-Instruction Decisive path (RID path) to diagnose individual student
learning situation. The RID path systematically guides study activities. The
system analyses the current learning status of each student and then determines
their study processes. Student learns concepts under the planned process. Study
outcomes are stored in an evaluated conceptual graph, and the evaluated
conceptual graph representing the learning patterns, which include the concepts
of learning failure and success held by each student.
SPRT is extremely suitable for the
proposed system, since the concepts involved are not complicated, and the
testing items are all associated to certain concepts. SPRT can be used to
determine whether a learner has mastered a concept by asking a few questions,
and increases the accuracy of the test results of the conceptual graph. In
analysing student learning outcomes, this study attempts to identify and
transfer the numerical score to the labelled score. Traditional examinations
include only two results, correct and incorrect. This arrangement is
insufficient for remedial instruction. The main focus of the diagnosis in the
proposed system is on student learning status, and test score is
unimportant.Thus, the dichotomy method is unsuitable.
From the SPRT test outcome, this
study classifies the numerical score into three levels: pass concept node, fail
concept node, and partial concept node.
1.
Pass node: the student has mastered the concept represented by the
node, that is the student is proficient in the concept.
2.
Fail node: the student has not mastered the concept represented by
the node, that is the student is not proficient in the concept. The concept is
assumed to be a concept that the student is missing.
3.
Partial node: The limited questions cannot judge the proficiency of
the student. The student may have partially understood the teaching material.
Thus, the student should continue learning.
Three main components of this system
are described as follows:
1.
User interface: For convenience, teachers do not need to handle
student learning progress in diagnostic and remedial instructionTeachers only
need to set the parameters of the conceptual graph and select the learning
material and items.
2.
Learning-related database: The proposed system includes four main
databases: item bank, teaching material, the conceptual graph of a specialist
and evaluated conceptual graphs. A specialist conceptual graph presents the
structure and learning sequence of a single course topic.
3.
Remedial instruction module: Student learning outcomes are
identified using the item bank database and SPRT. This study presents a ‘RID path’
strategy to identify the missing concepts of students and guiding their
learning.
Student learning situations can be
diagnosed using the conceptual graph. The evaluated conceptual graph
representing student knowledge structure can be obtained from the data in the
conceptual graph and the student SPRT results. Each student has a unique
evaluated conceptual graph indicating their learning outcomes (Jong, etc; 2004:
380-383).
Terjemahannya:
Penelitian ini mengusulkan dan mengembangkan jalur Tuntas Perbaikan-Instruksi (jalur RID) untuk mendiagnosis situasi belajar siswa secara individual. Jalur RID secara sistematis memandu kegiatan belajar. Sistem ini menganalisis status pembelajaran saat ini dari setiap siswa dan kemudian menentukan proses belajar mereka. Siswa belajar konsep di bawah proses yang direncanakan. Hasil belajar disimpan dalam grafik konseptual yang dievaluasi, dan grafik konseptual yang dievaluasi mewakili pola pembelajaran, yang mencakup konsep kegagalan belajar dan keberhasilan yang dipegang oleh setiap siswa.
SPRT sangat cocok untuk sistem yang diusulkan, karena konsep yang terlibat tidak rumit, dan item pengujian semuanya terkait dengan konsep tertentu. SPRT dapat digunakan untuk menentukan apakah seorang pembelajar telah menguasai konsep dengan mengajukan beberapa pertanyaan, dan meningkatkan keakuratan hasil tes dari grafik konseptual. Dalam menganalisis hasil belajar siswa, penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi dan mentransfer skor numerik ke skor berlabel. Ujian tradisional hanya mencakup dua hasil, benar dan salah. Pengaturan ini tidak cukup untuk instruksi perbaikan. Fokus utama diagnosis dalam sistem yang diusulkan adalah aktif
Status belajar siswa, dan nilai tes tidak penting. Jadi, metode dikotomi tidak sesuai. Dari hasil tes SPRT, penelitian ini mengklasifikasikan skor numerik menjadi tiga tingkatan: simpul konsep lulus, simpul konsep gagal, dan simpul konsep parsial.
1. Pass node: siswa telah menguasai konsep yang diwakili oleh node, yaitu siswa yang mahir dalam konsep.
2. Konsep gagal simpul: siswa belum menguasai konsep yang diwakili oleh node, yaitu siswa tidak mahir dalam konsep. Konsep ini diasumsikan sebagai konsep bahwa siswa tersebut hilang.
3. Simpul parsial: Pertanyaan terbatas tidak dapat menilai kemahiran siswa. Murid mungkin memahami materi pengajaran secara parsial. Dengan demikian, siswa harus terus belajar.
Tiga komponen utama dari sistem ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Antarmuka pengguna: Untuk kenyamanan, guru tidak perlu menangani kemajuan belajar siswa dalam diagnostik dan instruksi perbaikan Para guru hanya perlu mengatur parameter grafik konseptual dan memilih bahan dan item pembelajaran.
2. Database yang berhubungan dengan pembelajaran: Sistem yang diusulkan mencakup empat database utama: bank item, bahan ajar, grafik konsep spesialis dan grafik konseptual yang dievaluasi. Grafik konseptual khusus menyajikan struktur dan urutan pembelajaran dari satu topik saja.
3. Modul instruksi remedial: Hasil belajar siswa diidentifikasi menggunakan database bank item dan SPRT. Penelitian ini menyajikan strategi ‘jalur RID’ untuk mengidentifikasi konsep siswa yang hilang dan memandu pembelajaran mereka.
Situasi belajar siswa dapat didiagnosis menggunakan grafik konseptual. Grafik konseptual yang dievaluasi yang mewakili struktur pengetahuan siswa dapat diperoleh dari data dalam grafik konseptual dan hasil SPRT siswa. Setiap siswa memiliki grafik konseptual yang dievaluasi unik yang menunjukkan hasil belajar mereka (Jong, dkk. 2004: 380-383).
2.2 Kajian Kritis
2.2.1 Pengertian
2.2.1.1
Pengertian Model Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial adalah bentuk pengajaran perbaikan yang diberikan kepada seseorang
siswa untuk membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya. Menurut
Abin Syamsuddin, pengajaran remedial adalah sebagai upaya guru untuk
menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok siswa
(dengan kerakter) tertentu lebih mampu meningkatkan prestasi seoptimal mungkin
sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan.
2.2.1.2 Pengertian KKM
Kriteria ketuntasan minimal yang
selajutnya disebut KKM adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh
satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kopentensi lulusan. KKM
dirumuskan setidaknya dengan memperhatikan 3(tiga) aspek: karakteristik peserta
didik, karakteristik mata pembelajaran, dan kondisi satuan pendidikan pada
proses pencapaian kompetensi
2.2.2 Langkah-Langkah Evaluasi Proses dan Hasil
Penilaian
Langkah-langkah evaluasi
proses dan hasil penilaian dapat dilakukan dengan beberapa tahap antara lain:
1.
Menyusun rencana
penilaian atau evaluasi hasil belajar.
2.
Menghimpun data.
3.
Melakukan
verifikasi data.
4.
Mengolah dan
menganalisis data.
5.
Melakukan
penafsiran atau interpretasi dan menarik kesimpulan.
6.
Menindaklanjuti
hasil evaluasi.
2.2.3 Tujuan
dan Fungsi Model Pengajaran Remedial
Tujuan pembelajaran remedial adalah
untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan memperbaiki
prestasi belajarnya.
Pengajaran remedial memiliki
beberapa fungsi, yaitu:
1.
Fungsi korektif yang memungkinkan
terjadinya perbaikan hasil belajar dan perbaikan segi-segi kepribadian siswa.
2.
Fungsi pemahaman yang memungkinkan
siswa memahami kemampuan dan kelemahannya serta memungkinkan guru menyesuaikan
strategi pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa.
3.
Fungsi penyesuaian yang memungkinkan
siswa menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memungkinkan guru menyesuaikan
strategi pembelajaran sesuai dengan kemampuannya.
4.
Fungsi pengayaan yang memungkinkan
siswa menguasai materi lebih banyak dan mendalam. Sememungkinkan guru
mengembangkan berbagai metode yang sesuai dengan karakteristik siswa.
5.
Fungsi akseleratif yang memungkinkan
siswa mempercepat proses belajarnya dalam menguasai materi yang disajikan dan
yang terakhir.
6.
Fungsi terapeutik yang memungkinkan
terjadinya perbaikan segi-segi kepribadian yang menunjang keberhasilan belajar.
2.2.4 Bentuk dan Aspek Pengajaran Remedial
Bentuk dan aspek pengajaran remedial
ini.
1. Pengajaran
Kelas. Dalam sistem atau jadwal pengajaran
remedial ini, komposisi dan struktur kelas yang biasa tidak terganggu. Kelas
secara keseluruhan diuntungkan melalui jenis pengajaran remedial. Hal ini
terbukti sangat berguna dalam menghilangkan kelemahan dan kesulitan belajar
secara umum.
2. Pengajaran
Tutorial Kelompok. Di sini para
siswa kelas dibagi menjadi beberapa kelompok homogen yang disebut kelompok
turorial atas dasar kesulitan belajar bersama mereka dan kelemahan atau
kekurangan yang sama dalam perolehan pengalaman belajar di beberapa atau area
lain atau aspek dari subjek.
3. Pengajaran
Tutorial Individu. Dalam jadwal
ini setiap pelajar, yang merasa kesulitan belajar dari satu atau yang lain,
dihadiri secara individu untuk mengatasi kekurangan atau kelemahannya. Ini
adalah 1-1 pelatihan, bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh guru kepada
pelajar sebagai dan ketika diperlukan oleh dia di oerder untuk
mengaktualisasikan potensi ke maksimum.
4. Pengajaran
Tutorial yang diawasi. Dalam jadwal
pengajaran remedial tanggung jawab mengatasi kesulitan belajar dan
menghilangkan kekurangan di beberapa area pembelajaran diserahkan kepada
peserta didik itu sendiri.
5. Pengajaran
Instruksional Otomatis. Jenis
pengajaran remedial ini terdiri dari program dan aktivitas instruksi otomatis.
Di sini peserta didik diberikan materi dan peralatan pembelajaran otomatis
dasar dan belajar mandiri seperti buku teks dan paket belajar yang diprogram.
6. Pengajaran
Informal. Pendidikan sains informal dan
pengajaran yang direncanakan sesuai dan diasimilasikan dengan pendidikan sains
formal dari scholl dapat berjalan dengan cara besar untuk bertindak sebagai
sumber dan sarana pendidikan remedial bagi siswa yang membutuhkan.
2.2.5 Prinsip Dasar Model Pengajaran Remedial
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam
pengajaran remedilal:
a.
Adaptif.
b.
Interaktif.
c.
Berbagai metode pembelajaran dan
penilaian.
d.
Pemberian umpan balik sesegera
mungkin.
e.
Berkesinambungan.
2.2.6 Pendekatan Dalam Pelaksanaan Remedial di Sekolah
Pendekatan yang bersifat umum maupun
pendekatan yang bersifat keagamaan (khusus). Antara lain yaitu:
1. Pendekatan individual suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat
belajar sesuai dengan kebutuhan, kecepatan, dan caranya.
2.
Pendekatan kelompok adanya
interaksi diantara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri
siswa yang mengalami kesulitan belajar.
3. Pendekatan bervariasi bermacam-macam pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan belajar
agar terlaksananya proses belajar mengajar yang efektif. Pendekatan ini terjadi
karena siswa mempunyai tingkat motivasi yang berbeda.
4.
Pendekatan edukatif sesuatu yang
bersifat mendidik dan segala hal yang berkenaan dengan pendidikan.
5. Pendekatan pengalaman suatu kejadian atau perbuatan yang pernah terjadi pada masa dahulu
dan mempunyai nilai atau manfaat untuk masa depan.
6. Pendekatan pembiasaan suatu proses pembentukan
kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan
perbuatan baru yang lebih tepat dan relatif menetap.
7.
Pendekatan emosional suatu usaha
untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami, dan
menghayati ajaran agamanya. Maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan
adalah metode ceramah, bercerita, sosiodrama.
8.
Pendekatan rasional pembelajaran
yang berpotensi untuk menumbuhkan daya pikir sendiri pada siswa guna memahami,
mengamalkan, dan meyakini konsep-konsep dalam pembelajaran remedial.
9.
Pendekatan fungsional suatu pendekatan
atau suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari bukan hanya untuk mengisi
kekosongan intelektual, tetapi diharapkan berguna untuk diimplementasikan ke
dalam kehidupan sehari-hari.
10. Pendekatan keagamaan suatu pendekatan yang dilakukan dalam setiap
bidang studi atau mata pelajaran umum dapat menyatu dengan nilai-nilai agama.
11. Pendekatan kebermaknaan pendekatan dalam pembelajaran yang mempunyai arti atau dapat lebih
berarti bagi siswa. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran, menjadi lebih
bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan
dengan pengalaman, minat, tata nilai dan masa depan.
2.2.7 Langkah Pembelajaran Remedial
1.
Identifikasi permasalahan
pembelajaran.
2.
Penyusun perencanaan berdasarkan
permasalahan (keunikan peserta didik, materi pembelajaran, dan strategi
pembelajaran).
3.
Hasil penilaian melalui penilaian
harian, penguasaan dapat digunakan oleh guru untuk merencanakan perbaikan
(remedial) dan pengayaan (enrichment).
4.
Pembelajaran remedial dilaksanakan
sampai peserta didik mengusaia KD yang ditentukan.
5.
Teknik pembelajaran remedial bisa
diberikan secara individual, kelompok, atau kelasikal.
6.
Aktivitas guru dalam pembelajaran
remedial, diantara lain: memberikan tambahan penjelasan atau cintoh,
menggunakan strategi pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya, mengkaji ulang
pembelajaran yang telah lalu, menggunakan berbagai jenis media.
7.
Guru kelas melakukan identifikasi
terhadap kesulitan peserta didik, kemudian membuat perencanaan pembelajaran
remedial meliputi penentuan materi ajar, penetapan metode, pemilihan media, dan
penilaian.
2.2.8 Kelemahan Pengajaran Remedial
Dalam
pengajaran Remedial, guru secara konstan diingatkan akan sebuah prinsip, yang
sering diabaikan dalam situasi pengajaran lainnya. Bagi seorang guru remedial,
belajar daripada mengajar adalah tujuannya. Pertumbuhan setiap individu
daripada perubahan rata-rata kelompok adalah kriteria keberhasilan. Oleh karena
itu, guru membutuhkan latar belakang yang kaya dalam psikologi anak dan
diagnosis pendidikan agar berhasil mengatasi berbagai masalah individual yang
dialami oleh anak itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1. Pengajaran remedial
adalah bentuk pengajaran perbaikan yang diberikan kepada seseorang siswa untuk
membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya.
2. Tujuan pembelajaran
remedial adalah untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan
memperbaiki prestasi belajarnya.
3. Pengajaran remedial
memiliki beberapa fungsi, yaitu: a) fungsi korektif, b) fungsi pemahaman, c)
fungsi penyesuaian, d) fungsi pengayaan, e) fungsi akseleratif, f) fungsi
terapeutik
4. Bentuk dan aspek
pengajaran remedial ini yaitu pengajaran kelas, pengajaran tutorial kelompok,
pengajaran tutorial individu, pengajaran tutorial yang diawasi, pengajaran
instruksional otomatis, dan pengajaran informal.
5. Beberapa prinsip
yang perlu diperhatikan dalam pengajaran remedilal yaitu adaptif, interaktif,
berbagai metode pembelajaran dan penilaian, pemberian umpan balik sesegera
mungkin, dan berkesinambungan.
3.2 Saran
Semoga
dengan adanya makalah ini, para pembaca bisa lebih mengetahui tentang
Pengajaran Model Remedial. Terlebih khusus lagi kepada mereka calon guru,
semoga bisa menjadi bahan pelajaran yang baik, dan semoga bisa diterapkan nanti
ketika kita sudah bekerja menjadi seorang guru.
Komentar
Posting Komentar